
Di tengah kabar ancaman Topan Podul, peserta Summer Camp Smamda Sidoarjo di Dayeh University, Taiwan, tetap belajar dengan semangat. Kesiapsiagaan kampus jadi kunci keselamatan.
Tagar.co – Suasana penuh semangat yang menyelimuti Summer Camp di Daye University, Taiwan, berubah sedikit tegang ketika kabar tentang Topan Podul mulai merebak.
Kegiatan yang diikuti siswa SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Sidoarjo ini awalnya berlangsung lancar, hingga laporan resmi Central Weather Administration (CWA) menyebutkan bahwa pusat badai diperkirakan mencapai puncak kekuatannya pada Rabu malam, 13 Agustus 2025, dan berpotensi memberi dampak signifikan bagi wilayah selatan Taiwan.
Baca juga: Hari Pertama di Kampus Dayeh University: Keramahan yang Berkesan
CWA—lembaga di bawah Kementerian Transportasi dan Komunikasi Taiwan—bertugas memantau cuaca, meramalkan potensi ekstrem, serta memberikan peringatan dini kepada publik, pemerintah, dan sektor industri.
Podul, badai ke-11 di wilayah Pasifik Barat tahun ini, diperkirakan mendekati Taiwan pada pertengahan pekan. Media Taipei Times melaporkan, peringatan laut dijadwalkan terbit Selasa, diikuti peringatan darat pada Selasa malam atau Rabu pagi.
Prediksi jalur Podul mengarah ke Taitung atau Hualien dengan kemungkinan lebih dari 80%. Dampaknya berpotensi memicu hujan lebat, angin kencang, longsor, dan banjir bandang, terutama di kawasan pegunungan selatan dan timur Taiwan.

Evakuasi Massal dan Penutupan Aktivitas
Rabu pagi, hujan deras dan angin kencang mulai mengguncang Taitung dan Hualien. Pemerintah di sembilan kota dan kabupaten, termasuk Kaohsiung dan Tainan, menutup sekolah serta kantor pemerintahan. Lebih dari 5.500 penduduk dievakuasi dari zona rawan, terutama yang baru saja terdampak topan sebulan sebelumnya.
Sektor transportasi lumpuh: 252 penerbangan domestik dan hingga 155 penerbangan internasional dibatalkan, dengan Kaohsiung dan Bandara Internasional Taoyuan sebagai titik terpadat.
Tepat pukul 13.00 waktu setempat, Podul menghantam Taitung dengan kecepatan angin hingga 191 km/jam. Reuters melaporkan, setidaknya satu orang hilang dan 33 orang terluka.
CWA memperkirakan curah hujan ekstrem hingga 600 mm di pegunungan selatan dalam beberapa hari, meningkatkan risiko bencana. Beberapa wilayah bahkan mencatat curah hujan setara rata-rata tahunan hanya dalam satu pekan.

Waspada tapi Tetap Aktif
Changhua County—lokasi Dayeh University—tidak berada di jalur langsung badai, namun hujan turun beberapa kali. Pihak kampus dan pendamping peserta mengambil langkah preventif: melarang siswa keluar asrama dan membatasi aktivitas luar ruangan, khususnya pada sore hari.
Keberangkatan peserta yang tidak bertepatan dengan puncak badai menjadi keberuntungan tersendiri. “Kalau berangkat di hari itu, besar kemungkinan kami ikut terkena pembatalan penerbangan,” ujar salah satu pendamping.
Pelajaran dari Kesiapsiagaan
Meski terhindar dari dampak langsung, Summer Camp ini menjadi contoh nyata pentingnya antisipasi, koordinasi cepat, dan informasi cuaca yang akurat. Peran CWA, keputusan tanggap pihak kampus, dan kepatuhan peserta menunjukkan bagaimana peristiwa cuaca ekstrem bisa diubah menjadi pelajaran berharga, bukan sekadar ancaman.
Sebagian besar peserta tetap menikmati kegiatan, seolah tak ada peristiwa besar yang terjadi. “Changhua relatif aman, jadi anak-anak masih bisa belajar dengan tenang,” kata seorang guru pendamping. Namun, kewaspadaan tetap dijaga hingga topan benar-benar meninggalkan Taiwan.
Jurnalis Naimul Hajar Penyunting Mohammad Nurfatoni












