Feature

GEDSI dan Literasi: Duet Maut untuk Mencetak Generasi Unggul

26
×

GEDSI dan Literasi: Duet Maut untuk Mencetak Generasi Unggul

Sebarkan artikel ini
Seorang dosen UMM sebagai narasumber di SD Muhammadiyah 4 Kota Malang (Foto Humas UMM)

GEDSI dan Literasi: duet maut untuk mencetak generasi unggul yang peka terhadap isu kesetaraan gender, inklusi disabilitas, dan anti-diskriminasi serta cerdas literasi. Dipraktikkan Dosen FKIP dan FH UMM di SDM 4 Kota Malang.

Tagar.co – Akhir Desember lalu, SD Muhammadiyah 4 Kota Malang kedatangan tamu istimewa. Yakni para dosen dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Mereka datang dengan misi mulia: mewujudkan sekolah ramah anak yang nggak cuma ramah di bibir, tapi juga ramah di hati dan aksi.

Bukan cuma soal gedung yang mentereng atau fasilitas yang lengkap. Sekolah ramah anak versi UMM ini lebih dari itu. Lewat program pendampingan berbasis Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), para dosen itu ingin menciptakan ruang belajar yang aman, nyaman, dan nggak pandang bulu. Semua siswa, apapun latar belakang dan kondisinya, berhak mendapatkan pendidikan yang berkualitas.

“Lingkungan sekolah ramah anak bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga bagaimana guru dan seluruh ekosistem sekolah mampu menciptakan suasana yang mendukung perkembangan emosional, sosial, dan akademik siswa tanpa ada diskriminasi,” tegas Dr. Beti Istanti Suwandayani, M.Pd., salah satu tim dosen UMM yang mengawal program ini, dikutip dari siaran pers Humas UMM yang diterima Tagar.co, Sabtu (4/1/25) sore.

Baca Juga:  Desa Digital, UMKM Wiyurejo Makin Dikenal
Para siswa SD Muhammadiyah 4 Kota Malang serius mengikuti acara (Foto Humas UMM)

GEDSI dan Literasi: Duet Maut untuk Generasi Unggul

Yang bikin program ini makin keren adalah integrasi GEDSI dengan literasi sekolah. Jadi, nggak cuma diajak untuk peka terhadap isu kesetaraan gender, inklusi disabilitas, dan anti-diskriminasi. Para siswa juga diasah kemampuan literasinya. Membaca, menulis, dan berpikir kritis, semua dikemas dalam kegiatan-kegiatan seru yang berhubungan dengan tema keberagaman.

Baca juga: UMM Terangi Negeri dengan Energi Terbarukan

Salah satu contohnya? Lomba menulis cerita pendek bertema ‘Persahabatan dalam Keberagaman’. Siapa sangka, lomba ini disambut antusias oleh para siswa. Mereka berlomba-lomba menuangkan ide dan imajinasi mereka dalam cerita-cerita yang menghangatkan hati.

“Kegiatan ini sejalan dengan visi kami untuk menjadi sekolah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mendukung pengembangan karakter siswa. Pendampingan dari UMM sangat membantu kami mewujudkan sekolah ramah anak yang sesungguhnya,” ungkap Hana Ayudah, M.Pd., Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 4 Kota Malang, dengan penuh rasa syukur.

Dosen FKIP dan FH UMM bersama SD Muhammadiyah 4 Kota Malang serius mengikuti acara (Foto Humas UMM)

Sebuah Komitmen Jangka Panjang

Program ini bukan sekadar pendampingan biasa. Ini adalah komitmen jangka panjang UMM untuk mendukung pendidikan berkualitas, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya di bidang pendidikan inklusif dan kesetaraan gender.

Baca Juga:  Wisuda Ke-121 UMM di Hari Kartini Tekankan Peran Strategis Perempuan

“Kegiatan ini sejalan dengan visi kami untuk menjadi sekolah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mendukung pengembangan karakter siswa. Pendampingan dari UMM sangat membantu kami mewujudkan sekolah ramah anak yang sesungguhnya,” kata Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 4 Kota Malang, Hana Ayudah, M.Pd.

Harapannya, program ini akan terus bergulir, memberikan dampak positif yang berkelanjutan, dan menelurkan generasi yang nggak cuma pintar di atas kertas, tapi juga berkarakter kuat dan peduli terhadap sesama.

Lewat sinergi GEDSI dan literasi, UMM membuktikan bahwa sekolah ramah anak adalah kunci untuk mencetak generasi yang unggul, berkarakter, dan peduli terhadap keberagaman. Sebuah langkah kecil yang diharapkan mampu membawa perubahan besar bagi masa depan pendidikan Indonesia. (*)

Penyunting Mohammad Nurfatoni