
Gaji dokter ternyata sekarang tak seindah yang dibayangkan. Biaya pendidikan kedokteran yang tinggi bisa jadi tak sepadan dengan penghasilan.
Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang.
Bayangkan, bertahun-tahun kuliah dengan biaya ratusan juta rupiah demi bisa menyelamatkan nyawa manusia, namun hanya dibayar seharga karcis parkir.
Itulah harga jasa dokter ketika urusan pembiayaan kesehatan ditangani Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Harga ini lebih tinggi dari gaji staf administrasi BPJS sendiri.
Kuliah kedokteran masih jadi favorit tinggi. Profesi mulia. Merawat orang sakit dengan jadwal siang malam. Gambarannya bisa kaya raya. Tapi bagi dokter yang baru lulus gambaran ideal itu tak seindah yang dibayangkan.
Biaya kuliah kedokteran bukan hanya mahal, tapi sudah masuk kategori super mahal. Setara harga mobil mewah. Bisa untuk beli rumah baru tipe menengah. Kalau mendapatkan tempat kerja di klinik atau rumah sakit besar bisa hidup nyaman.
Namun kalau klinik atau rumah sakitnya banyak mengandalkan pasien BPJS harus sabar untuk cepat kaya. Perlu meningkatkan pengalaman, sertifikasi, seminar, dan sentuhan yang membuat pasien percaya.
Sistem gaji dokter umum di klinik BPJS menggunakan metode kapitasi. Yaitu pembayaran per pasien terdaftar, bukan per tindakan.
Praktiknya, dokter mendapat dua ribu hingga lima ribu rupiah per pasien per bulan, tergantung lokasi dan kebijakan daerah.
Bahkan ada yang dihitung flat: sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu untuk empat jam kerja. Jika dipecah lagi, nominal itu bahkan tidak mencapai Upah Minimum Regional (UMR) harian.
Sungguh ironis, di saat tukang parkir bisa mendapat dua ribu rupiah per mobil hanya dengan satu tiupan peluit, dokter kalau ingin penghasilan tinggi harus kerja dari pagi sampai malam di beberapa klinik dan rumah sakit.
Beberapa kali suara dokter ini disuarakan oleh organisasi profesi supaya ada perbaikan sistem pembayaran kesehatan BPJS. Sebab dokter bertugas di garda depan kesehatan rakyat. Ada tanggung jawab dan risiko profesi. Masak penghasilannya kalah dengan tukang parkir yang bermodal peluit.
BPJS, lembaga baru yang menangani pembiayaan kesehatan ini juga membenahi sistem dan organisasinya menjadi lebih baik.
Sekarang ini ada dokter yang lebih aktif menjadi host podcast, youtuber, content creator, seleb TikTok, atau pengasuh talk show. Ada juga yang beralih ke bisnis.
Jika fenomena ini dibiarkan, bukan mustahil kelak kita terjadi krisis dokter karena gajinya tidak lagi menggiurkan. Bisa jadi suatu ketika Fakultas Kedokteran sepi peminat. Seperti Fakultas Pertanian dan Keguruan yang zaman dulu jadi favorit kini menurun.
Jika benar kita ingin menghargai kesehatan, maka kita wajib menghargai mereka yang menjaga kesehatan kita. Negara seharusnya malu. Sangat malu. Karena faktanya, negara lebih dermawan kepada pekerja administrasi daripada kepada pekerja yang mempertaruhkan nyawa.
Dokter bukan malaikat. Mereka juga bukan robot. Melainkan manusia biasa yang ingin hidup layak, ingin anaknya sekolah, dan ingin makan tiga kali sehari. Jangan biarkan para penjaga kesehatan dipaksa hidup dari idealisme kosong yang tak bisa dibelanjakan.
Apalagi ragam penyakit makin banyak, kualitas kesehatan menurun akibat gaya hidup konsumerisme dan malas gerak.
Jika negara sungguh peduli, sudah saatnya memperbaiki sistem kapitasi dan memperjelas skema insentif BPJS agar gaji dokter tidak lagi hanya seharga karcis parkir.
Jangan tunggu sampai profesi dokter benar-benar ditinggalkan, dan kita hanya bisa menyesali ketika tak ada lagi yang mau menyelamatkan nyawa kita. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












