
Setelah berkata, ibunya memeluk Pram dengan erat sambil menangis. Keduanya pun saling menangis, meluapkan semua isi hati mereka
Dosa Dua Insan Makan dalam Satu Piring, Cerpen oleh Budi Tohir
Tagar.co – Sore itu Pramono yang biasa dipanggil Pram sedang berjalan menyusuri jalan di pematang sawah sebelah desanya dengan motor matiknya. Tak lupa sebelum dia berangkat dia salat asar lebih dulu.
Walaupun dia banyak bergaul dengan teman-temannya di luar, tapi dia tak pernah sekalipun meninggalkan salat. Entah apa yang menggerakkan hatinya sehingga dia berjalan sendirian di pematang sawah.
Karena biasanya di kala sore dia acap nongkrong bersama temannya di warung. Seolah ada kegundahan dalam hatinya, karena di usia yang hampir berkepala tiga dia belum juga mendapatkan tambatan hati.
Sudah setengah jam dia menyusuri jalan itu namun belum ada tanda-tanda dia akan berhenti. Sementara matahari semakin menyingsing dalam peraduan tidurnya. Sejurus kemudian dari kejauhan dia melihat ada sosok seorang gadis sedang duduk di sebuah gubuk tak jauh dari tempatnya, dia pun menghentikan motornya di pinggir jalan dan bangkit dari motornya.
Jalan ke arah gubuk itu cukup sempit sehingga sulit dilalui dengan motornya. Dia berhenti sejenak, dalam hatinya ingin sekali menghampiri gadis itu yang memakai kerudung kuning dililikan pada lehernya.
Pikirannya terus berkecamuk antara menghampiri atau tidak, karena dia tak pernah bertemu apalagi mengenal gadis itu. Untuk mengobati kekalutannya dia pun memberanikan diri menghampiri gadis itu.
“Mungkin gadis ini yang akan menjadi jodohnya,” pikirnya singkat. Kemudian dengan berjalan berhati-hati dia berjalan menghampiri gadis itu yang gubuknya tak lebih dari dua puluh lima meter jaraknya dari tempatnya berdiri.
Sementara sang gadis seolah tak mengetahui akan kedatangan Pram. Tampaknya dia sedang memperhatikan padi di sawah yang mulai menguning dan sesekali menarik tali di mana ada orang-orangan di tengah sawah agar bergerak dan mengusir burung-burung pemakan biji-bijian.
Sesampainya di gubuk itu, sang gadis masih belum sadar bahwa di dekatnya sudah ada Pram. Pram pun tak berani menyapa gadis itu khawatir kalua-kalau gadis itu terkaget dengan kehadirannya.
Dengan perlahan dia memberanikan diri untuk duduk di belakang gadis itu. Tiba-tiba angin berhembus kencang dan membuat kerudung gadis itu terbang. Seketika tangannya ingin meraih kerudungnya, namun naas tangannya tak mampu meraihnya dan bangkit dari duduknya. Karena pijakannya kurang kuat membuatnya hampir terjatuh, dan dengan refleks Pram meraih kerudung beserta tubuh gadis itu sehingga tak sampai terjatuh.
Alangkah terkejutnya gadis itu telah ada seorang laki-laki di dekatnya dan menolongnya. Setelah berpandang mata sebentar gadis itu tersadar dan seketika meraih kerudungnya dan memakai untuk menutupi kepalanya.
“Kamu siapa, kenapa kamu ada di sini, apakah kamu orang jahat?” tanya gadis itu dengan gugup.
“Jangan takut, aku bukan orang jahat. Namaku Pram, Pramono lebih tepatnya tetangga desa ini, tanpa sengaja aku melihatmu dari jalan itu. Karena penasaran aku mampir di gubuk ini. Mohon maaf bila kedatanganku mengagetkanmu,” jawab Pramono.
“Terus, apa maksudmu menghampiri aku. Tolong jangan ganggu aku?” tanya gadis itu kembali dengan wajah yang masih gugup dan pucat.
Pram pun mencoba menjelaskan dengan hati-hati agar gadis itu tidak takut. “Mohon maaf bila kedatanganku membuatmu takut, tapi percayalah aku bukan orang jahat, aku orang baik-baik. Aku ke sini hanya ingin berkenalan dengan kamu.”
“Kenapa kamu ingin berkenalan dengan aku, aku hanya orang desa biasa yang jelek dan tidak punya apa-apa,” kata gadis itu sambil memalingkan wajahnya.
Pramono mulai mendekati gadis itu. “Siapa bilang kamu jelek, kamu gadis yang sangat cantik yang pernah aku lihat. Aku juga takjub ternyata di desa yang pelosok ini ada gadis yang sangat cantik,” katanya.
“Maaf, hari sudah akan Magrib, aku harus pulang. Jika terlambat pulang aku akan dimarahi. Permisi!!” kata gadis itu sambil melangkah pulang.
“Tunggu sebentar nona, kamu belum menyebutkan namamu, siapa nama kamu dan di mana rumahmu,” tanya Pramono menghentikan langkah gadis itu.
Gadis itu pun menoleh. “Sebaiknya kamu jangan mendekati aku dan jangan pernah membuntutiku, pulanglah… percuma kamu tetap di sini karena kamu tak akan pernah mendapat jawaban. Oh ya terima kasih atas pertolonganmu tadi. Sekarang aku harus segera pulang,” katanya.
Dengan wajah sedih dan kecewa Pramono menatap kepergian gadis itu hingga tak terlihat lagi di te tengah rimbunnya padi di sawah. Dia terduduk sejenak sambil memikirkan siapa gadis itu hingga beberapa menit.
Karena hari sudah mulai petang dia pun Kembali ke motornya dan pergi meninggalkan jalan itu kembali ke rumahnya sambil pikirannya masih berkecamuk.
Setelah salat Isya di masjid, Pram buru-buru pulang. Tak seperti biasanya dia seperti itu. Biasanya dia duduk-duduk santai di serambi masjid setelah itu mampir di warung kopi. Namun hari ini tak dilakukannya.
Teman-temannya pun heran dengan perubahan sikap Pram. Sampai di rumah tak lupa dia menghampiri ibunya di kamarnya yang sudah 1 tahun ini sakit-sakitan.
“Ibu! Di mana sih sebenarnya ayah? Kenapa setiap malam tidak pernah berada di rumah, berangkat Magrib dan habis Subuh baru pulang. Harusnya ayah ada di rumah mendampingi ibu. Ibu kan saat ini sedang sakit,” tanya Pram kepada ibunya.
“Sudahlah Pram, kenapa kamu selalu menanyakan itu. Ibu tidak apa-apa, dan ayahmu sudah pamitan sama ibu. Sekarang masuklah ke kamarmu dan istirahat. Ibu juga mau istirahat,” jawab ibunya sambil menahan batuk.
Pram tak tega melihat kondisi ibunya, namun perkataan ibunya harus dia turuti. “Baiklah bu, aku ke kamar dulu. Kalau ibu butuh apa-apa panggil Pram,” kata Pram sambil mengecup kening ibunya.
Sementara di dalam kamarnya Pram masih memikirkan kejadian tadi sore. Ada hal yang mengganjal dan perasaan ingin tahu yang begitu besar tentang gadis itu. Dan dia bertekad besok dia akan pergi ke gubuk itu lagi.
Seperti yang sudah direncanakan tadi malam, Pram kembali bersepeda menyusuri sawah desa sebelah untuk bertemu gadis yang ditemuinya di sebuah gubuk.
Sesampainya di jalan di mana dia kemarin berhenti, dia kembali melihat gadis itu di gubuknya sambil memainkan orang-orangan di sawah. Setelah di dekat gubuk dia sudah disambut oleh gadis itu.
“Kenapa kamu masih nekad datang kemari, padahal aku sudah melarangmu,” kata gadis itu.
“Maafkan aku, terus terang aku tadi malam tidak bisa tidur memikirkan kamu sepanjang malam. Karena baru kali ini aku merasa begitu ingin dekat denganmu. Kamu berbeda dengan gadis lain, kamu sangat istimewa. Bolehkah aku tahu siapa namamu?” jawab Pram sambil balik bertanya.
“Sebaiknya kamu tidak usah tahu siapa aku, karena nanti akan menyakiti dirimu sendiri. Pulanglah, bukankah ibumu saat ini sedang sakit,” kata gadis itu dengan nada yang berat dan tanpa disadarinya air matanya jatuh dan diketahui oleh Pram.
“Tunggu sebentar, kenapa kamu tahu tentang aku dan ibuku. Siapa sebenarnya dirimu dan kenapa kamu menangis?” tanya Pram kepada gadis itu.
“Siapa yang tidak tahu anak Pak Guntur, Kepala Desa Sukmajaya yang terkenal. Seluruh warga di kecamatan ini mengenal keluargamu,” jawab gadis itu sambil menutupi mukanya yang kembali meneteskan air mata.
“Bukan itu jawaban yang kuinginkan. Kamu mengetahui seluk beluk keluargaku. Tapi aku tidak pernah tahu siapa dirimu. Aku mohon katakanlah siapa sebenarnya dirimu?” tanya Pram Kembali.
Gadis itu terdiam sebentar dan menghela napas panjang lalu dia berkata dengan agak gemetar “Sebaiknya kamu pulang, bahaya kalau kamu lama-lama di sini. Aku juga mau pulang.”
“Tunggu!…..tunggu!…. Jangan pergi dulu, katakan dulu siapa sebenarnya kamu,” sahut Pram. Namun gadis itu tak menghiraukan dan tetap melanjutkan langkahnya hingga menghilang di balik rimbunnya padi yang mulai menguning.
Pramono tak bisa berbuat apa-apa dan membiarkan gadis itu pergi. Dengan tertunduk lesu dia terus bertanya sebenarnya siapa gadis itu. Karena hari mulai petang Pram pun Kembali pulang dan seperti hari kemarin dia membuat teman-temannya bingung dengan perubahan sikap Pramono.
Malam harinya dia kembali susah tidur masih terbayang wajah gadis yang bagi dirinya sangat misterius. Dia Kembali berencana menemui gadis itu.
Keesokannya Pram berangkat lebih awal sebelum asar. Dan sebelum berangkat dia wudu dulu karena dia akan salat Asar di gubuk gadis itu. Sesampainya di gubuk itu tak lama terdengar suara azan dari masjid dekat desa gadis itu tinggal.
Dia pun bergegas untuk salat. Sementara dari kejauhan gadis itu datang dengan membawa singkong rebus. Alangkah terkejutnya ia melihat Pramono yang sudah ada di gubuknya dan khusu’ untuk salat asar. Di pandanginya lelaki yang sebenarnya sudah sejak lama dia nantikan kehadirannya.
Selesai salat Pram terus berdoa dan dilihatnya gadis itu sudah ada di dekat gubuk.
“Kenapa kamu berdiri saja di situ, kemarilah duduk di gubuk ini,” kata Pram. Gadis itu pun mendekat dan sesekali mencuri pandang ke arah Pramono. “Kamu sudah lama di sini?” tanya gadis itu.
“Tidak, aku datang bebarapa menit sebelum azan asar tadi,” jawab Pram.
“Kenapa kamu tetap nekad datang kemari, padahal aku sudah melarangmu,” tanya gadis itu Kembali.
“Semalam aku tidak bisa tidur terus memikirkan dirimu. Sepertinya aku sedang jatuh cinta padamu. Ku mohon jangan larang aku untuk bertemu denganmu. Aku ingin setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik ingin selalu dekat dengan dirimu,” jawab Pram.
“Apa yang kamu lihat dari diriku, tak ada yang istimewa dari diriku,” kata gadis itu.
“Kamu pintar merendah, bagiku kamu sangat istimewa dan sudah tertanam begitu dalam di dalam hatiku. Sekarang aku mau tahu siapa namamu?” kata Pram sambil bertanya.
“Apakah begitu penting namaku untuk kusebutkan?” tanya balik gadis itu.
“Sangat penting, bagaimana aku bisa memanggilmu jika tak tahu namamu,” jawab Pram.
“Aku bersedia menyebutkan namaku asalkan kamu mau berjanji satu hal,” kata gadis itu.
“Apa yang harus kulakukan?” jawab Pram.
“Kamu harus berjanji tidak boleh mengikutiku dan tidak boleh menemuiku di rumah. Kalua mau bertemu di gubuk ini saja,” lanjutnya.
“Kenapa harus seperti itu, aneh sekali?” tanya Pram.
“Kamu mau berjanji tidak, kalua tidak mau ya terserah, sebaiknya kamu pulang saja,” kata gadis itu.
“Baiklah…baiklah jangan marah. Iya… iya aku berjanji. Sekarang katakan siapa namamu?” kata Pram sambil mengacungkan dua jari sebagai tanda sebuah janji.
“Namaku ….. Anjani,” jawab gadis itu. Pram terdiam sebentar lalu berkata, “Sungguh nama yang begitu indah, seindah orangnya.”
“Kenapa kamu tersenyum?” tanya Anjani.
“Tidak apa-apa, aku sekarang sudah lega sudah tahu siapa namamu. Tapi aku masih ada yang mengganjal, kenapa kamu begitu tahu keluargaku?” jawab Pram sambil balik bertanya.
Melihat ada hal yang kurang kurang nyaman pada diri Anjani. “kalau kamu keberatan, tidak dijawab ya tidak apa-apa, sekarang kita berbicara hal lain saja,” kata Pram.
Anjani pun mengangguk dan bebarapa waktu mereka berbicara seolah sudah tidak ada lagi hal yang menjadi penghalang untuk mereka sambal menikmati singkong rebus yang dibawa Anjani. Dan terlihat Anjani menikmati akan perbincangan itu sampai akhirnya tangan Pram meraih tangannya dan berkata,”Aku mencintaimu Anjani.”
Anjani sudah menduga bahwa hal itu akan keluar dari bibir Pramono. Meskipun dalam hatinya dia sangat senang dengan kata-kata itu, namun dia harus menyingkirkan jauh-jauh perasaan itu lalu dia menarik tangannya.
“Sebaiknya kita hanya berteman saja, tidak boleh lebih dari itu,” kata Anjani.
“Kenapa Anjani? Kenapa? Apakah kamu tidak mencintaiku?” tanya Pram. Mendengar pertanyaan itu Anjani hanya diam saja. Tak lama Pram pun bertanya lagi, “Katakan Anjani, katakan? Kenapa tidak boleh. Apakah kamu sudah punya kekasih?”
Lama Anjani berpikir dan dia pun menjawab pertanyaan Pram dengan suara yang berat dan berlinang air mata, “Iya, kamu benar, aku sudah menjadi milik orang lain.”
Pramono tidak buru-buru percaya. “Lalu katakan siapa lelaki itu. Lelaki yang sudah beruntung mendapatkan dirimu?” tanyanya.
Mendengar pertanyaan Pramono, Anjani semakin deras air matanya mengalir dan dengan nada yang berat dia berkata, “Pram….. kamu tidak perlu tahu siap dia. Kamu masih muda dan ganteng, banyak gadis di luar sana yang akan menyukaimu.”
“Tidak Anjani, aku hanya menginginkan dirimu tidak yang lain, jika kamu sudah milik orang lain dan tidak menginginkan aku, kenapa kamu menangis,” kata Pramono. Anjani berpikir sejenak, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Pramono itu.
“Sebaiknya kamu pulang, hari sudah mau maghrib. Aku belum shalat ashar, jadi aku harus pulang,” kata Anjani sambil beranjak dari tempat duduknya.
Namun Pram menarik tangannya. “Baiklah Anjani, tapi besok aku akan datang lagi kemari. Jika kamu tidak datang aku akan pergi ke rumahmu,” katanya. Setelah itu Pram pun melepaskan tangan Anjani.
Benar saja esok harinya Pramono datang lagi ke gubuk itu. Anjani pun menemui Pramono digubuk itu, karena dia takut ancaman Pram apabila dia tidak datang, maka Pram akan datang ke rumahnya. Pembicaraan mereka semakin mencair dan semakin akrab disertai canda tawa hingga beberapa hari kemudian.
Pada hari kesembilan pertemuan Pram dan Anjani, diam-diam Pramono mengikuti Anjani dari belakang dengan sembunyi-sembunyi hingga sampai di rumah Anjani.
Rumah itu cukup sederhana dengan penerangan lampu seadanya. Pramono kemudian menyelinap masuk ke rumah Anjani lewat pintu belakang. Di saat akan mandi alangkah terkejutnya Anjani melihat Pramono sudah ada di depannya.
“Pram, kenapa kamu ada di sini, cepat keluar, nanti kamu ketahuan suamiku. Ayo cepat,” kata Anjani sambil menarik tangan Pramono ke luar rumah.
“Aku kecewa sama kamu, kenapa kamu mengkhianati janji yang kamu ucapkan untuk tidak pernah menemuiku di rumah. Sekarang kamu pulang,” kata Anjani sambil mengunci pintu belakang rumahnya.
Pramono tak langsung pergi, dia menunggu beberapa saat untuk mengetahui siapa suami Anjani hingga terdengar suara azan Magrib. Setelah ditunggu beberapa lama dengan bersembunyi di tempat yang dirasa aman terdengar suara motor yang bunyi motor itu tidak asing di telinganya. Benar dugaannya bahwa motor itu adalah milik ayahnya.
“Jadi, Anjani adalah istri ayahku. Anjani adalah selingkuhan ayahku,” Pramono menggumam dengan suara yang gemetar.
“Kurang ajar ayah, dia telah mengkhianati ibu. Seharusnya dia berada di sisi ibu untuk menemaninya di saat ibu sakit,” kata Pramono. Dia hendak melabrak ayahnya, namun niat itu dia urungkan dan kembali ke rumahnya.
Sampai di rumah dia langsung mandi dan salat Magrib. Setelah jamaah isya di masjid dia makan di ruang tengah dan ibunya menghampirinya dengan jalan tertatih.
“Ibu kenapa kemari, kan bisa panggil Pram,” kata Pramono. Ibunya menjawab dengan suara yang lirih menahan sakit.
“Pram…. Kamu kemana saja beberapa hari ini sering pulang mau maghrib. Bahkan hari ini kamu melewatkan jemaah Magrib di masjid. Ada apa, Nak, cerita sama ibu.”
“Tidak ada apa-apa bu, sudah sekarang ibu masuk kamar ya Pram gendong Ibu,” kata Pram tanpa menunggu jawaban ibunya.
Keesokannya Pram kembali menemui Anjani. Ternyata Anjani tidak ada di gubuk itu. Tanpa berpikir panjang dia langsung bergegas menemui Anjani di rumahnya. Tanpa dia sadari ibunya telah menyuruh seseorang untuk membuntuti Pramono.
Sesampainya di rumah Anjani dia mengetuk pintu belakang Anjani. Alangkah terkejutnya Anjani setelah pintu dibuka ternyata tamu itu adalah Pramono.
“Pram, kamu rupanya. Kan sudah kubilang jangan menemuiku di rumah nanti ketahuan suamiku. Pulanglah!!” kata Anjani dan langsung menutup pintunya. Namun Pram menahan dan dia memaksa masuk.
“Pram… ku mohon pulanglah karena sebentar lagi suamiku akan sampai” kata Anjani. Pram diam sejenak lalu dengan wajah yang memerah menahan marah dia berkata “Kenapa kamu tidak terus terang kepadaku kalau kamu adalah istri selingkuhan ayahku.”
“Rupanya kamu sudah tahu, itu lebih baik tanpa aku harus menjelaskannya kepadamu. Namun jangan kamu mengatakan aku istri selingkuhan ayahmu, karena aku sudah mendapat izin dari ibumu,” jawab Anjani.
“Lalu apa artinya hubungan kita Anjani. Di gubuk itu kamu pernah mengatakan bahwa kamu juga menyukaiku. Kenapa kamu permainkan perasaanku Anjani,” tanya Pram kepada Anjani.
Mendengar pertanyaan Pram Anjani menangis dan dengan tertunduk dia berkata, “Pram, awalnya aku hanya menganggapmu seperti ibu dan anak, karena aku adalah ibu tirimu. Namun aku juga tidak bisa menyembunyikan perasaanku kepadamu seiring berjalannya waktu aku juga menaruh hati padamu. Tapi ini tidak benar Pram. Dan aku minta kamu jangan pernah menemuiku lagi. Sekarang pulanglah karena sebentar lagi ayahmu akan datang.”
“Kamu begitu mudah mengatakan itu Anjani, tapi bagiku itu sangat sulit. Aku terlanjur mencintaimu. Kita pergi jauh saja Anjani dari sini. Kita kawin lari,” kata Pramono
“Tidak Pram, itu tidak mungkin. Karena aku sudah berjanji kepada ayah dan ibumu bahwa aku akan setia dan melayani ayahmu sebagai suamiku. Sekarang pulanglah, kita akhiri hubungan kita” kata Anjani sambal menyeret Pramono keluar rumah.
Tak lama kemudian terdengar motor ayah Pramono. Anjani pun menutup pintu dan menguncinya lalu bergegas menyambut suaminya.
Sementara Pramono dengan Langkah gontai berjalan pulang. Begitu sesak rasanya, ingin dia luapkan amarahnya kepada apapun yang ditemuinya. Sesampainya di rumah dia sudah ditunggu oleh ibunya.
“Pram, duduklah di dekat ibu. Ibu mau bicara penting denganmu,” kata ibunya dengan suara yang parau. “Ibu mau bicara apa?” tanya Pram.
“Pram, dengar ya, Nak. Ibu sudah tahu kemana kamu pergi selama ini hingga sering pulang telat. Ibu telah menyuruh Paklek Amir untuk mengikutimu ke mana kamu pergi. Hentikan anakku, hentikan perbuatan terlarang itu. Kamu tidak boleh menyukai Anjani. Anjani adalah ibu tirimu sendiri. Itu sama saja kamu makan dalam satu piring dengan ayahmu. Itu dosa, Nak,” kata ibunya dengan menangis.
“Ibu, kenapa ibu lakukan ini? Kenapa ibu memperbolehkan ayah kawin lagi, kenapa, Bu?” tanya Pram kepada ibunya.
“Ketahuilah, Nak, tidak ada wanita di dunia ini yang ingin dimadu. Ibu juga berat, tapi ini juga demi kebaikan keluarga kita, Nak. Ibu sudah sakit-sakitan dan tidak bisa melayani ayahmu lagi. Daripada ayahmu berbuat dosa, maka ibu membolehkan ayahmu kawin lagi dengan gadis pilihan ibu,” jawab ibunya.
“Lalu mengapa ibu tidak bercerita kepadaku?” tanya Pram kembali.
“Sebenarnya ibu sudah berencana menceritakan kepadamu, tapi ibu menunggu waktu yang tepat. Tapi ternyata malah ini yang terjadi. Pram, relakan Anjani menjadi istri ayahmu, carilah gadis lain. Ibu yakin kamu akan bisa mendapatkannya. Karena anak ibu adalah anak yang shalih yang selalu menurut sama orang tuanya,” menjawab ibu Pram.
Setelah berkata demikian ibunya memeluk Pramono dengan erat sambil menangis. Keduanya pun saling menangis meluapkan semua isi hati mereka. (*)
Penyunting Ichwan Arif












