Cerpen

Sebotol Air di Lantai Delapan Belas

88
×

Sebotol Air di Lantai Delapan Belas

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Seorang pembersih kaca kehilangan botol airnya di tengah terik siang Ramadan. Saat tenggorokannya kering, sebuah jendela di lantai delapan belas tiba-tiba terbuka.

Cerpen oleh Mochammad Nor Qomari, Guru SMP Muhammadiyah 12 GKB

Tagar.co – Cuaca cerah berawan menyelimuti Kabupaten Rempah sejak pagi. Langit biru tampak bersih, seolah memberi ruang bagi dua gedung tertinggi di kota itu untuk berdiri gagah: Gedung As-Salam dan Menara Al-Aziz, bangunan biru cerah setinggi seratus tujuh puluh meter dengan dua puluh lima lantai.

Menara Al Aziz milik Dr. H. Muslih Ihsan, pengusaha properti yang namanya cukup dikenal di kota itu. Di puncak menara terpampang lafaz Allah dan Muhammad yang tampak jelas dari kejauhan. Bagi Pak Muslih, menara itu bukan sekadar tanda keberhasilan usaha, tetapi juga pengingat tentang iman dan teladan Rasulullah.

Klik dan baca kumpulan cerpen Mochammad Nor Qomari

Sejak lima hari terakhir, beberapa orang pekerja tampak bergantungan di sisi bangunan. Sebuah perusahaan jasa kebersihan dipercaya membersihkan seluruh kaca menara yang menjulang tinggi itu.

Salah satunya Robert Williem, pria berusia dua puluh tujuh tahun. Ia ayah dari seorang balita dan dikenal tekun dalam pekerjaannya. Setiap minggu ia selalu menyempatkan diri beribadah di gereja. Dalam pekerjaannya, ia terbiasa bekerja di ketinggian, menggantung pada tali pengaman sambil membersihkan kaca demi kaca.

Baca Juga:  Suara dari Gang Pandan

Empat hari pertama berjalan lancar. Robert dan timnya turun perlahan dari lantai paling atas, membersihkan kaca satu demi satu.

Pagi hari kelima, mereka bersiap melanjutkan pekerjaan.

“Siap turun?” tanya salah satu rekannya.

“Siap,” jawab Robert sambil tersenyum tipis.

Hari itu mereka mulai mengerjakan lantai delapan belas—tepat di mana kantor utama PT Cahaya Suci berada.

Di dalam ruangan, Pak Muslih sedang memimpin rapat rutin Kamis bersama para direksi dan manajer. Mereka membahas rencana halalbihalal, evaluasi pemberian THR, serta proyek pembangunan perumahan baru bernama Giri Andalusia.

Suasana rapat berlangsung serius.

Namun sesekali pandangan Pak Muslih tertuju ke jendela kaca besar di sisi ruangan.

Di luar sana, tubuh Robert tampak bergantung pada tali pengaman, bergerak perlahan mengusap kaca.

Menjelang siang, matahari mulai terasa menyengat. Angin yang sejak pagi bertiup lembut berubah menjadi panas.

Di luar gedung, Robert mulai merasakan tenggorokannya kering. Ia berhenti sejenak, mencoba meraih botol air minum yang tergantung di sabuknya.

Baca Juga:  Antrean yang Menyimpan Luka

Namun tangannya terlambat.

Botol itu terlepas.

Robert hanya bisa menatapnya jatuh, meluncur cepat ke bawah hingga hilang dari pandangan.

Ia menarik napas panjang.

“Ya sudah… tahan dulu,” gumamnya pelan.

Ia kembali menggosok kaca. Gerakannya tetap rapi, tetapi kini terasa lebih lambat. Bibirnya mulai kering.

Di dalam ruangan, Pak Muslih memperhatikan dengan saksama.

“Pak, laporan proyek ini bagaimana?” tanya salah seorang manajer.

Pak Muslih mengangguk, tetapi pandangannya masih sesekali melayang ke luar jendela.

“Lanjutkan sebentar,” katanya tenang.

Ia berdiri, berjalan menuju kulkas kecil di sudut ruangan, lalu mengambil sebotol air mineral.

Seorang staf menatap heran.

“Untuk siapa, Pak?”

Pak Muslih hanya tersenyum.

Ia membuka jendela kaca perlahan. Angin panas segera menerpa wajahnya.

“Mas…,” panggilnya.

Robert menoleh kaget. Ia tidak menyangka jendela itu bisa dibuka.

“Iya, Pak?”

“Sudah minum?” tanya Pak Muslih.

Robert tersenyum sedikit canggung.

“Tadi… jatuh, Pak.”

Pak Muslih mengulurkan botol air itu.

“Ini… minum dulu.”

Robert ragu sejenak.

“Tidak apa-apa, Pak?”

“Tidak apa-apa. Anda sedang bekerja keras.”

Robert menerima botol itu dengan tangan agak gemetar.

“Terima kasih banyak, Pak.”

Ia membuka tutupnya dan meneguk air itu perlahan. Rasa dingin yang mengalir di tenggorokannya terasa menenangkan.

Baca Juga:  Rahasia Manis Sumi Cake

Di dalam hatinya muncul rasa haru.

Ia tahu pemilik gedung itu sedang menjalankan puasa Ramadan.

Namun tetap memberinya air.

“Semoga Tuhan membalas kebaikan Bapak,” ucap Robert tulus.

Pak Muslih tersenyum.

“Yang penting Anda sehat dan selamat bekerja.”

Jendela kembali ditutup.

Robert menghela napas panjang, lalu melanjutkan pekerjaannya. Kali ini gerakannya terasa lebih mantap.

Sore harinya, ketika pekerjaan hampir selesai, Robert turun bersama rekan-rekannya. Ia menatap menara tinggi itu sejenak.

“Kenapa diam saja?” tanya salah seorang temannya.

Robert tersenyum.

“Tadi pemilik gedung memberi saya air.”

“Serius?”

“Iya. Padahal beliau sedang puasa.”

Temannya terdiam.

Langit mulai berubah jingga.

Robert memandangnya sejenak.

“Kadang,” katanya pelan, “hal kecil bisa terasa sangat besar.”

Ia lalu melangkah pulang dengan hati hangat.

Menjelang waktu berbuka, Pak Muslih duduk di ruangannya. Dari balik kaca, ia melihat matahari mulai turun di balik gedung-gedung kota.

Sesaat ia teringat wajah Robert yang meneguk air itu dengan lega.

Pak Muslih tersenyum kecil.

Di luar, azan Magrib sebentar lagi akan berkumandang. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…