Rileks

Doa di Balik Jendela Universitas Tsukuba: Saat Salju Menjemput Impian yang Hampir Gugur

1215
×

Doa di Balik Jendela Universitas Tsukuba: Saat Salju Menjemput Impian yang Hampir Gugur

Sebarkan artikel ini
Ria Pusvita Sari tersenyum di tengah turunnya salju di Tokyo, Jepang, saat mengikuti program belajar di University of Tsukuba. Bagi guru SD Muhammadiyah Manyar Gresik ini, salju yang turun di hari-hari terakhir kunjungan menjadi pengalaman emosional sekaligus jawaban atas doa yang ia panjatkan sepanjang perjalanan. (Ria Pusvita Sari untuk Tagar.co)

Di tengah ramalan cuaca yang menyebut Tokyo tanpa salju, saya menyaksikan bagaimana doa dan harapan akhirnya bertemu tepat di hari-hari terakhir perjalanan belajar saya di Universitas Tsukuba.

Catatan perjalanan belajar di University of Tsukuba, kampus Tokyo, Jepang, oleh guru SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik, Ria Pusvita Sari, M.Pd.

Tagar.co – Ada satu kutipan yang selalu saya pegang: “Manusia merencanakan dengan logika, namun Allah menyempurnakannya dengan keajaiban.” Perjalanan saya ke Jepang pada awal Februari 2026 ini menjadi saksi hidup betapa kekuatan doa mampu menembus dinginnya ramalan cuaca.

Sebagai guru yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Negeri Sakura, ada satu mimpi sederhana yang amat saya dambakan: melihat salju. Namun, informasi yang saya terima sebelum berangkat cukup mematahkan semangat. Tokyo dikabarkan kering dari salju sepanjang 1 hingga 9 Februari.

Baca juga: Dari Manyar ke Tokyo: Menemukan Makna Belajar di Balik Pintu Kelas yang Terbuka

Sejujurnya, ada sesak kecewa di dada. Mengingat ini adalah kesempatan langka yang belum tentu datang dua kali, saya hanya bisa mengetuk pintu langit. Sepanjang perjalanan, di sela-sela kepadatan agenda, saya tak henti berbisik, “Ya Allah, izinkan hamba merasakan sedikit saja anugerah-Mu di tanah ini.”

Baca Juga:  Empat Hari di Bogor, Menempa Nalar lewat Kombinatorik dan Geometri
Ria Pusvita Sari, guru SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik, menikmati turunnya salju di Tokyo, Jepang, Sabtu (7/2/2026). Momen ini menjadi pengalaman berkesan dalam perjalanan belajar di University of Tsukuba, setelah sebelumnya ramalan cuaca memperkirakan Tokyo tanpa salju pada awal Februari. (Ria Pusvita Sari untuk Tagar.co)

Penantian di Ambang Batas

Satu pekan berlalu di University of Tsukuba, kampus Tokyo. Dingin memang terasa menusuk hingga ke tulang—suhu konsisten di angka 3 hingga 5 derajat Celsius—namun langit tetap bersih tanpa kristal putih.

Hingga tibalah hari keenam, hari-hari terakhir saya di Jepang. Saya bergumam dalam hati, “Tinggal dua hari lagi, akankah salju tetap tidak menyapa?”

Pagi itu terasa berbeda, Sabtu (7/2/2026). Udara jauh lebih menggigit, angin berembus kencang, dan langit tampak lebih pekat. Saat saya menyusuri trotoar menuju SMP Laboratorium University of Tsukuba, rasa optimis itu muncul kembali di tengah kedinginan yang luar biasa.

Sekitar pukul 10.00, di tengah keriuhan proses diskusi kami di dalam kelas, mata saya tak sengaja melirik ke arah jendela. Di sana, di balik kaca yang mulai berembun, tampak butiran putih halus jatuh perlahan. Tipis, sedikit, namun nyata.

Hati saya berdegup kencang. Rasanya ingin segera berlari keluar. Begitu kelas usai, saya bergegas menuju halaman. Benar saja, salju mulai turun menari-nari ditiup angin. Meski dinginnya terasa sangat ekstrem, rasa syukur saya jauh lebih hangat. Allah menjawab doa saya tepat saat saya mulai pasrah.

Baca Juga:  Dari Manyar ke Tokyo: Menemukan Makna Belajar di Balik Pintu Kelas yang Terbuka

Angka, Doa, dan Kristal Putih

Menjelang sore, salju justru turun semakin lebat, menyelimuti jalanan dengan karpet putih yang tebal. Saya berdiri di sana, di antara kepingan salju yang jatuh di telapak tangan, sembari terus melafalkan asma Allah.

Keajaiban ini bertahan hingga keesokan harinya, hari terakhir saya di Jepang. Dua hari penuh salju yang “mustahil” menurut ramalan, namun sangat mungkin bagi Sang Pencipta.

Terima kasih, Ya Allah. Perjalanan ini bukan sekadar tentang lesson study atau simposium internasional, melainkan tentang pelajaran iman bahwa tidak ada doa yang sia-sia jika kita percaya. Ini adalah kisah saya—tentang angka, tentang usaha, dan tentang salju yang turun tepat pada waktunya. (*)

Penyunting Mohammad Nurfatoni