Opini

Dihantui Layar: Tekanan Media Sosial dan Kesehatan Mental Generasi Digital

67
×

Dihantui Layar: Tekanan Media Sosial dan Kesehatan Mental Generasi Digital

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Notifikasi, “likes”, dan komentar di media sosial bukan sekadar hiburan—bagi generasi muda, itu bisa menjadi sumber kecemasan, depresi, dan tekanan psikologis. Simak bagaimana anak muda bisa menjaga kesehatan mental di era digital.

Oleh Hanif Asyhar; Trainer Spiritual Healthy Parenting Nasional, Konsultan Pendidikan

Tagar.co – Perkembangan teknologi yang semakin pesat, termasuk maraknya penggunaan artificial intelligence (AI) di berbagai platform dan aplikasi, semakin mempererat interaksi anak muda, termasuk remaja dan mahasiswa, dalam dunia maya.

Kemajuan teknologi tersebut memang memberikan manfaat yang luar biasa bagi mereka, tidak hanya membantu dari sisi hiburan tetapi juga sisi akademis dan ekonomi. Namun, di balik kebermanfaatan dan kemudahan akses, muncul dampak lain yang cukup berbahaya bagi perkembangan emosi mereka.

Kecemasan, depresi, amarah, dan pencarian validasi melalui media sosial masih menjadi tantangan yang memerlukan solusi efektif dan efisien.

Kecemasan yang Meningkat: Ketergantungan pada Notifikasi dan Respons

Banyaknya postingan yang berkeluh kesah, galau, hingga pertengkaran online dengan saling menyindir dijadikan solusi atas permasalahan yang mereka hadapi. Tak pelak, hal itu semakin mengundang komentar negatif warganet yang akhirnya meningkatkan tingkat kecemasan (anxiety) pada penggunanya.

Setiap notifikasi, komentar, atau pesan langsung dari media sosial sering kali menjadi pemicu kecemasan, terutama bagi generasi muda yang lebih sering online. Data dari WHO (2024) menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental akan mulai banyak dirasakan sejak usia 14–18 tahun.

Baca Juga:  Pembatasan Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun

Baca juga: Penggunaan Medsos Berlebihan Ancam Kesehatan Mental Gen Z, Menko PMK Akan Ambil Langkah

Kondisi ini semakin parah karena lebih dari setengah remaja tidak mencari bantuan ketika mengalami gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan, akibat takut, malu, atau tidak tahu harus ke mana.

Rasa cemas ini muncul karena ketakutan akan “ketinggalan zaman” (FOMO atau fear of missing out), di mana seseorang merasa terabaikan atau tertinggal karena tidak mengikuti tren atau peristiwa yang sedang viral.

FOMO semakin parah dirasakan remaja dan mahasiswa ketika ada perbandingan sosial yang terus-menerus di media sosial. Hal ini dapat menyebabkan stres berlebih, sehingga memengaruhi kualitas hidup dan kesejahteraan mental penggunanya.

Depresi: Perbandingan Sosial yang Merusak

Fenomena perbandingan sosial di media sosial menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan depresi di kalangan penggunanya. Media sosial sering menampilkan gambaran kehidupan yang sempurna dari para penggunanya; penggunaan filter yang berlebihan turut mendukung hal itu, apalagi dengan kemajuan AI yang semakin mempermudah penggunanya untuk menampilkan kehidupan bergelimang harta di dunia maya, namun kenyataannya tidak sesuai realita.

Banyak anak muda yang merasa bahwa kehidupan mereka tidak cukup baik atau menarik bila dibandingkan dengan teman-teman atau orang yang mereka ikuti di media sosial. Mereka mulai membandingkan kehidupan mereka, sehingga rela melakukan apa pun demi tampak mewah dan hebat di media sosial.

Baca Juga:  AI Generatif dan Integritas Jurnalisme

Situasi ini sesuai dengan teori perbandingan sosial (Social Comparison Theory) yang dicetuskan Festinger (1954), yang menyatakan bahwa setiap individu memiliki dorongan untuk mengevaluasi diri dengan membandingkan diri dengan orang lain yang lebih baik atau lebih buruk. Hal ini memengaruhi kebahagiaan, harga diri, motivasi, dan adaptasi mereka dalam pergaulan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Pencarian Validasi: Efek Positif yang Palsu

Faktor lain yang menyebabkan munculnya kecemasan adalah kebutuhan akan validasi diri, dan ini merupakan salah satu aspek yang sangat menonjol di dunia media sosial. Anak muda seringkali merasa perlu mendapatkan “likes“, komentar positif, atau pengikut (followers) yang banyak untuk merasa dihargai dan diakui.

Hal ini menciptakan tekanan tersendiri, di mana setiap tindakan di media sosial, mulai dari unggahan foto hingga cerita pribadi, dilihat sebagai cara untuk mendapatkan perhatian dan pengakuan dari orang lain. Namun, pencarian validasi yang berfokus pada jumlah “likes” dan “followers” ini tidak hanya tidak sehat, tetapi juga dapat merusak rasa percaya diri. Ketergantungan pada validasi eksternal membuat mereka merasa tidak berharga jika tidak mendapatkan respons positif.

Cara terbaik dalam mengurangi dampak negatif media sosial terhadap kesehatan mental adalah dengan membangun kesadaran akan bagaimana media sosial memengaruhi perasaan dan pikiran. Anak muda perlu belajar untuk lebih selektif dalam memilih informasi yang mereka konsumsi dan memahami bahwa tidak semua yang terlihat di media sosial adalah kenyataan.

Baca Juga:  Keteladanan Orang Tua, Kunci Membangun Kebiasaan Baik Anak

Selain itu, diperlukan pelatihan digital detox atau pengurangan waktu di media sosial, sehingga dapat membantu mengurangi kecemasan dan depresi yang mereka alami. Menggunakan waktu untuk aktivitas lain yang lebih produktif, seperti berolahraga, berkumpul dengan teman secara langsung, atau menekuni hobi, dapat membantu mengalihkan perhatian dan meningkatkan kesejahteraan mental. P

enting pula untuk menciptakan lingkungan yang mendukung, baik di rumah, sekolah, maupun kampus, karena komunikasi terbuka tentang kesehatan mental dan dampak media sosial bisa menjadi langkah awal dalam menciptakan kesadaran kolektif yang lebih besar.

Media Sosial yang Sehat dan Bermakna

Remaja dan mahasiswa tidak bisa berlepas diri dari kemajuan teknologi karena masa depan mereka juga berinteraksi dengan teknologi. Termasuk penggunaan media sosial, yang akan selalu menjadi bagian penting dari kehidupan generasi digital.

Namun, ada hal penting yang perlu diperhatikan agar anak muda bisa memanfaatkannya dengan bijak dan tidak terjebak dalam pencarian validasi atau perbandingan sosial yang merugikan.

Pada intinya, mengelola dampak media sosial terhadap kesehatan mental membutuhkan kesadaran, waktu untuk diri sendiri, dan dukungan dari lingkungan sekitar. Dengan cara ini, media sosial bisa menjadi alat yang lebih sehat dan bermakna, bukan sumber tekanan yang merusak kesehatan mental mereka. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni