
Tagar.co – Demonstrasi mahasiswa Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Pasuruan Raya dihadang aparat ketika hendak melintas jalan di depan Markas Kodim 0819 Pasuruan, Kamis (16/4/2026) sore.
Tujuan rombongan demonstrasi mahasiswa yang naik motor ini hendak menuju Gedung DPRD Kota Pasuruan. Tujuannya memprotes tindakan anggota BAIS (Badan Intelijen Strategis) menyiram air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus.
Langkah mereka terhalang barikade personel gabungan militer dan polisi di tengah jalan. Pihak aparat keamanan berdalih menjaga kawasan militer yang berdasarkan aturan ada larangan demonstrasi di instansi militer.
Perwakilan mahasiswa menilai alasan tersebut hanya tameng melindungi institusi militer dari kritik masyarakat.
”Tujuan utama kami long march menuju DPRD. Jalan raya di depan Kodim ini fasilitas publik, milik rakyat, yang dilewati kami, bukan area steril pangkalan militer,” kata mahasiswa.
Situasi sempat memanas ketika massa mahasiswa mendesak untuk dibukakan jalan. Beberapa personel militer berseragam loreng dan polisi bertameng membuat pagar betis berlapis.
Dengan pengeras suara, Koordinator Aliansi BEM Pasuruan Raya, M. Ubaidillah Abdi, menyampaikan, tentara dan polisi digaji dari pajak rakyat.
” Jika institusi ini tidak merasa melindungi oknum yang menyiram air keras kawan kami Andrie Yunus, kenapa kalian harus panik dan memblokir jalan raya? Biarkan kami lewat menuju DPRD. Menghalangi kami hari ini sama saja mengonfirmasi bahwa supremasi sipil memang sedang kalian injak-injak,” kata Ubaidillah yang disambut gemuruh riuh massa aksi.
Demonstrasn akhirnya membuka panggung orasi dadakan di tempat itu. Membentangkan spanduk bertuliskan Usut Tuntas Aktor Intelektual! Tendang TNI ke Barak!. Lalu melantangkan orasi perjuangan melawan kezaliman.
Setelah bertahan lama di tempat ini, massa Aliansi BEM Pasuruan Raya menyalakan motor bergerak lagi memilih jalan lain menuju Gedung DPRD.

DPRD Kosong
Setibanya di Gedung DPRD, ternyata kosong. Sore hari anggota dewan sudah pada pulang. Sebelumnya alinasi mahasiswa sudah mengirim surat pemberitahuan aksi tidak ada anggota dewan yang menyambut. Kecuali staf Sekwan.
Koordinator Aliansi BEM Pasuruan Raya, M. Ubaidillah Abdi, kecewa ketidakhadiran para wakil rakyat ini.
“Hari ini, kita menjadi saksi bisu matinya nurani di gedung ini. Di saat rakyat sipil diteror, di saat keadilan diinjak-injak, wakil rakyat yang dibayar dari keringat kita justru memilih sembunyi dan lari dari tanggung jawab. Jika mereka tidak berani bersuara untuk rakyatnya, untuk apa gedung megah ini berdiri?” katanya disambut gemuruh kemarahan massa.
Di hadapan staf Sekretariat DPRD dan aparat yang berjaga, Aliansi BEM Pasuruan Raya membacakan deklarasi Mosi Tidak Percaya dengan lantang.
Lalu mahasiswa membuat aksi penyegelan gedung DPRD secara simbolis dengan tali yang dililitkan menyilang. Poster-poster bertuliskan Gedung Ini Disita Rakyat! dan Wakil Rakyat Cuti Nurani, Gedung Disege! ditempelkan.
Setibanya di Gedung DPRD mahasiswa menggaungkan orasi. Mereka menuntut wakil rakyat Pasuruan keluar mendengarkan langsung tuntutan rakyat. Mereka mendesak anggota DPRD Kota Pasuruan berani bersikap tegas dan tidak diam melihat militer yang mencederai demokrasi di negeri ini. (#)
Jurnalis Waisul Quroni Penyunting Sugeng Purwanto












