Cerbung

Della, Potret Perempuan di Ujung Api: Skandal Pinjol Seragam Cokelat

38
×

Della, Potret Perempuan di Ujung Api: Skandal Pinjol Seragam Cokelat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Della memilih terbakar demi kebenaran. Di balik seragam dan sistem busuk, ia meninggalkan rekaman, bukan dendam. Sebuah jejak sunyi dari perempuan yang menolak tunduk—dan memilih jadi api terakhir.

Skandal Pinjol Seragam Cokelat (seri 11): Della, Potret Perempuan di Ujung Api

Cerbung oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Della duduk di depan cermin. Matanya memerah, bukan karena menangis, tapi karena terlalu lama tidak tidur. Empat hari terakhir, namanya berseliweran di berita daring, akun-akun gosip, dan siaran YouTube yang mendadak jadi pakar integritas. Ada yang menyebutnya ‘wanita penjilat seragam’, ada yang menjulukinya ‘korban sistem busuk.’ Tapi yang paling menyakitkan justru dari internalnya sendiri: “Della itu aset mati.”

Tak ada yang lebih menyesakkan daripada menjadi simbol dari sesuatu yang kau benci dan kau sendiri pernah percaya.

Baca seri selengkapnyaSkandal Pinjol Seragam Cokelat

Setahun lalu, Della hanya staf koperasi internal. Tugasnya sederhana: mencatat, memverifikasi, lalu memasukkan data pengajuan ke sistem. Tapi ia tahu, terlalu banyak ‘kecelakaan kecil’ yang disengaja. Pinjaman fiktif, nama fiktif, peminjam fiktif. Tapi uangnya nyata. Mengalir deras ke rekening yang dilindungi badge pangkat.

Ia menutup mata, mengingat momen pertama kali diajak ke ‘ruang belakang’ oleh Brigjen Budi Santosa. Ia hanya diberi satu tawaran: “Kau bisa jadi pegawai biasa yang pensiun dalam sunyi, atau jadi bagian dari jaringan yang menentukan arah peta.”

Baca Juga:  Hisab Digital: Ketika Layar Menjadi Saksi Amal Manusia

Saat itu Della masih idealis. Tapi utang kakaknya di pinjol bodong membebani seluruh keluarga. Ketika seseorang menawarkan solusi lengkap dengan karpet merah dan gaji dobel, moral jadi sekadar hiasan.

Ia tak pernah menyangka, satu tahun kemudian ia akan duduk dalam ruang interogasi internal, diancam dipecat tanpa hak pensiun, sementara mereka yang menyuruhnya malah naik jabatan.

Di pagi yang dingin, Della menerima surat elektronik dari alamat anonim. Judulnya: Bukti Pembalikan Fakta. Isinya adalah transkrip percakapan antara dua perwira tinggi. Dalam rekaman itu, Zikri disebut sebagai “bayangan yang terlalu cerdas.” Mereka khawatir Zikri membuka terlalu banyak hal—termasuk pengalihan dana operasional ke proyek-proyek ilegal.

Di akhir rekaman, Brigjen Budi terdengar berkata:

“Kalau Zikri tak bisa dikendalikan, jadikan dia dalangnya. Publik butuh kambing hitam. Lalu kita bersih-bersih nama pakai air kotor yang dia tinggalkan.”

Della gemetar. Apa yang selama ini ditakutkan Zikri benar terjadi.

Siang itu, ia menemui Ayu di luar kantor. Mereka bertemu di warung gudeg kecil, di belakang terminal Giwangan. Della mengenakan kacamata hitam dan topi. Ayu tampak tenang, tapi senyumnya hambar.

“Kau kelihatan seperti buronan,” canda Ayu.

Baca Juga:  Surah Al-Waqiah Ungkap Rahasia Rezeki

“Aku merasa lebih parah dari itu. Seperti saksi sejarah yang ingin dilenyapkan,” jawab Della sambil menyodorkan flashdisk.

“Apa ini?”

“Rekaman asli. Kau bisa pakai untuk membuktikan siapa sebenarnya dalang dari semua ini. Tapi… aku tak akan ikut lagi.”

Ayu memandangi Della cukup lama. “Lalu kau mau ke mana?”

Della tersenyum getir. “Ke tempat di mana tak ada sinyal. Di mana namaku tidak penting, dan seragam tak berarti apa-apa.”

Namun, saat Ayu pulang dan memeriksa isi flashdisk itu, ia terhenyak. Di dalamnya hanya ada satu file video, berdurasi 47 detik. Isinya? Della yang sedang berdiri di depan laptop, menangis, lalu berkata:

“Aku tahu semua yang kukatakan bisa dipakai melawan siapa pun. Tapi kebenaran tak pernah menang tanpa harga mahal. Jadi… silakan pakai ini sebagai kunci, atau bakar saja. Aku sudah terlalu lelah menjadi api di tengah hutan.”

Ayu menyandarkan diri ke kursi. Ia sadar Della menyerahkan keputusan akhir pada dirinya. Tapi juga mengirim pesan penting: sistem tidak bisa diperbaiki dari dalam tanpa korban dari mereka yang paling rentan.

Malam itu, Zikri muncul dalam sebuah video bocor di Telegram. Ia tampak duduk di ruangan gelap, hanya diterangi cahaya layar laptop. Wajahnya tirus, lelah, tapi tegas.

Baca Juga:  Jika Bangsa Ini Mau Muhasabah

“Jika kalian melihat ini, berarti mereka sudah memalsukan semua. Rekening atas namaku? Itu bayangan. Surat perintah rahasia? Aku buat sendiri, untuk menjebak mereka. Tapi jangan percaya padaku. Percayalah pada file yang kupasang di tiga server luar negeri. Jika suatu hari publik membukanya, kebenaran akan kembali bicara.”

Tiba-tiba, video mati.

Ayu langsung membuka laptop. Ia membuka situs yang pernah disebut Zikri. Tapi servernya tak bisa diakses.

Pesan terakhir dari Zikri hanya satu kalimat di layar hitam:

“Kebenaran tak butuh pahlawan. Hanya butuh waktu.”

Di tengah semua kekacauan, Della menghilang. Tak ada catatan keberangkatan. Tak ada laporan kehilangan. Yang tersisa hanya sebuah surat tanpa nama pengirim, tiba di meja Ayu dua minggu kemudian.

Tulisan tangan itu berbunyi:

“Jika kebenaran adalah api, maka aku telah terbakar. Tapi dari abuku, semoga tumbuh keberanian bagi orang-orang yang tersisa.”

Ayu menangis. Bukan karena kehilangan, tapi karena tahu: Della bukan lagi korban. Ia telah memilih menjadi bayangan yang tak bisa dijinakkan.

Dan sistem yang mengira bisa menghapus cerita perempuan kecil lupa satu hal penting:

Abu bisa beterbangan. Tapi ia tetap meninggalkan jejak. (#) Bersambung seri ke-12: “Ayu dan Berkas Rahasia Operasi Langit”

Penyunting Mohammad Nurfatoni