Feature

Deg-degan di Uji Kompetensi Massage and Baby Spa PCA Sukodono

44
×

Deg-degan di Uji Kompetensi Massage and Baby Spa PCA Sukodono

Sebarkan artikel ini
Post tes setelah menyelesaikan materi hari kedua secara lengkap di Pelatihan Massage and Baby Spa (Tagar.co/Istimewa)

Setelah dua hari belajar teknik pijat dan senam bayi, para peserta Pelatihan Massage dan Baby Spa PCA Sukodono harus menghadapi ujian kompetensi. Boneka bayi jadi medan latihan, tangan gemetar jadi kenyataan.

Tagar.co – Pelatihan Baby Spa yang digelar Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Sukodono Sabtu-Ahad 28–29 Juni 2025 di Gedung Vocatama, Sidoarjo, bukan sekadar ajang menimba ilmu tentang pijat dan perawatan bayi. Pada hari kedua pelatihan, para peserta dihadapkan pada fase yang paling menegangkan sekaligus menentukan: ujian kompetensi.

Jika hari pertama pelatihan diisi dengan materi teori, praktik teknik massage, baby gym, dan terapi air, maka hari kedua menjadi puncaknya—saat para peserta diuji kemampuan teknis dan ketepatan urutan gerakan dalam sebuah simulasi. Bukan dengan bayi sungguhan, tetapi dengan boneka bayi yang dirancang menyerupai tubuh manusia mungil. Namun justru dari sinilah tantangan dimulai.

Dari Pelatihan Menuju Pengakuan

Seperti diberitakan sebelumnya dalam Pelatihan Massage and Baby Spa Aisyiyah Sukodono: Sentuhan Awal untuk Kesehatan Anak sejak Dini, kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Milad Ke-108 Aisyiyah yang digagas oleh Majelis Kesehatan PCA Sukodono, bekerja sama dengan LPK Kari Bahtera Jaya (Kabaja).

Selain mengajarkan teknik pijat bayi, pelatihan ini juga bertujuan memberikan sertifikasi kompetensi kepada peserta sebagai bekal wirausaha di bidang baby spa.

Untuk itulah, uji praktik menjadi penentu: apakah ilmu yang telah diperoleh benar-benar melekat dan bisa diaplikasikan dalam kehidupan nyata?

Tegang tapi Menantang

Suasana ruang praktik berubah menjadi hening ketika peserta satu per satu maju ke depan. Dengan boneka bayi di hadapan mereka dan dua penguji—Sri Mukhodim Faridah Hanum dari Majelis Kesehatan PWA Jawa Timur dan Ira Novita dari pihak LPK Kabaja—yang mengamati dengan saksama, setiap gerakan tangan menjadi sangat berarti.

“Jangan hanya hafal urutan, tapi rasakan seolah sedang memegang bayi betulan,” ujar Faridah Hanum memberi pengarahan. Beberapa peserta terlihat gugup, bahkan sempat keliru dalam tekanan atau posisi tangan. Namun secara umum, mereka mampu menyelesaikan simulasi dengan baik berkat pembelajaran sistematis yang diberikan sejak hari pertama.

Beberapa peserta bahkan tampak percaya diri. “Saya sempat praktik ke anak sendiri sepulang dari pelatihan hari pertama. Alhamdulillah, lebih siap dan lebih yakin,” ujar Maslahah Aji dari Fatayat NU Anak Cabang Sambungrejo, sembari tersenyum.

Peserta Pelatihan Massage dan Baby Spa berhak mendapat sertifikat kompetensi (Tagae.co/Istimewa)

Boneka yang Mengajarkan Empati

Meski hanya boneka, banyak peserta merasakan sensasi emosional saat praktik. Mereka belajar menyentuh dengan hati-hati, memperhatikan ekspresi (meski diam), dan menyadari pentingnya kelembutan dalam merawat bayi.

“Boneka ini seolah mengingatkan bahwa sentuhan kita harus penuh tanggung jawab. Karena nanti yang dihadapi adalah makhluk kecil yang hidup dan butuh rasa aman,” kata salah satu penguji, mengapresiasi keseriusan peserta.

Semua Lulus, tapi Tantangan Sebenarnya Baru Dimulai

Hasil post-test menunjukkan peningkatan signifikan. Dari 29 peserta, nilai rata-rata naik dari 44,8 saat pre-test menjadi 88,4 setelah ujian. Seluruh peserta dinyatakan lulus dan berhak mendapat sertifikat kompetensi.

Namun trainer utama, Faridah Hanum, memberi catatan penting. “Setelah ini, jangan menunggu lama. Segera praktik. Siapkan sudut kecil di rumah, gelar matras, dan mulai dari orang terdekat. Semakin sering dipraktikkan, semakin tajam keterampilannya,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa keterampilan yang sudah dimiliki bisa menjadi bekal usaha yang riil. “Ilmu yang tidak diamalkan akan hilang. Tapi kalau langsung dipakai, akan jadi modal berharga untuk masa depan,” tambahnya.

Pelatihan ini, yang sebelumnya menjadi ajang menimba ilmu, kini menjelma jadi batu loncatan untuk kemandirian. Dari boneka ke bayi sungguhan, dari pelatihan ke pengakuan kompetensi, inilah perjalanan peserta Massage and Baby Spa Aisyiyah Sukodono: menegangkan, membanggakan, dan membuka peluang besar untuk kehidupan yang lebih bermakna. (#)

Jurnalis Islamiyah Penyunting Mohammad Nurfatoni