Telaah

Dari Lumpur Jadi Ladang Rezeki: Belajar dari Kisah Sukses Budidaya Cacing ala Lilis Suhartini

40
×

Dari Lumpur Jadi Ladang Rezeki: Belajar dari Kisah Sukses Budidaya Cacing ala Lilis Suhartini

Sebarkan artikel ini
Lilis Suhartini

Dari halaman belakang rumah dan tumpukan limbah ternak, Lilis Suhartini membuktikan: kerja keras dan ilmu bisa mengubah cacing menjadi sumber berkah, rezeki, dan pemberdayaan masyarakat.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Tagar.co – Di kaki pegunungan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, ada satu kisah yang mengalir dari tanah—secara harfiah. Kisah itu datang dari Lilis Suhartini (36), warga Desa Margamekar, Kecamatan Pangalengan, yang kini dikenal sebagai pengusaha sukses budidaya cacing tanah.

Semua bermula pada 2012, ketika krisis ekonomi menimpa rumah tangganya. Suaminya, seorang sopir angkot, kehilangan penghasilan tetap, sementara kebutuhan keluarga terus berjalan. Dalam kondisi itulah Ibu Lilis, sapaan akrabnya, mulai berpikir keras: adakah cara lain untuk bertahan?

Ia kemudian mengikuti pelatihan kecil-kecilan tentang budidaya cacing yang digelar oleh pihak desa. Tak banyak peserta yang benar-benar menaruh harapan pada usaha itu. Banyak yang meragukan dan menganggapnya kotor, menjijikkan, atau tak layak dijadikan ladang rezeki.

Tapi Ibu Lilis berbeda. Ia pulang dari pelatihan dengan semangat membara dan mulai membudidayakan cacing dari halaman belakang rumahnya. Berbekal sedikit tanah, ember bekas, dan limbah organik dari peternakan sekitar, ia memulai dari nol.

Hari-hari Ibu Lilis diisi dengan menyiram, memberi makan, dan memanen cacing yang hidup di bawah permukaan tanah. Awalnya, hasilnya kecil. Tapi dia tekun. Dalam waktu dua tahun, usahanya mulai membesar.

Baca Juga:  Penyakit Hati yang Sering Diabaikan

Ia menjual cacing hidup ke peternak ikan, menjual pupuk kompos ke petani, bahkan mulai memasarkan cacing kering ke industri kosmetik dan farmasi. Ia juga mulai mempelajari proses pembuatan bubuk cacing yang bernilai jual tinggi.

Kini, Ibu Lilis mampu meraih omzet hingga ratusan juta rupiah per bulan. Ia tak hanya mencukupi kebutuhan keluarganya, tetapi juga menciptakan lapangan kerja bagi warga sekitar.

Cermin Kesungguhan dan Etos Kerja dalam Islam

Islam sangat memuliakan kerja keras. Allah tidak pernah menjanjikan kekayaan bagi mereka yang hanya berpangku tangan. Sebaliknya, Dia memberikan jalan bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh dalam ikhtiar. Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (An-Najm: 39)

Ayat ini menjadi pedoman hidup bagi siapa pun yang ingin sukses tanpa mengandalkan keajaiban instan. Ibu Lilis membuktikannya. Ia memulai dari bawah, dari tanah yang barangkali diabaikan orang lain. Namun dengan niat, kerja keras, dan keuletan, ia mampu mengubah lumpur menjadi ladang emas.

Melihat Peluang di Balik Hal yang Dianggap Remeh

Nabi Muhammad Saw. mengajarkan bahwa tidak ada kebaikan, sekecil apa pun, yang patut diremehkan. Beliau bersabda:

Baca Juga:  Jangan Sia-siakan Ramadan, setiap Detiknya Bernilai Surga

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Jangan sekali-kali kamu meremehkan kebaikan sekecil apa pun, walaupun hanya dengan menampakkan wajah berseri kepada saudaramu.” (H.R. Muslim No. 2626)

Cacing, yang selama ini dianggap menjijikkan dan tak berguna, justru menjadi jalan berkah bagi Ibu Lilis. Di tangan orang yang tepat dan hati yang jernih, apa pun bisa menjadi jalan rezeki.

Barakah dan Keberlanjutan

Apa yang dilakukan Ibu Lilis juga selaras dengan konsep keberlanjutan dalam Islam. Budidaya cacing membantu proses daur ulang limbah organik, menyuburkan tanah, dan menjaga keseimbangan ekosistem. Allah Ta’ala mengingatkan:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” (Al-A’raf: 56)

Ibu Lilis tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga turut memperbaiki bumi. Inilah contoh konkret dari barakah: berkah yang memberi manfaat luas, tak hanya untuk dirinya, tapi juga untuk lingkungan.

Belajar sepanjang Usia

Ibu Lilis tak puas hanya jadi peternak cacing. Ia terus belajar. Ia ikut penyuluhan, belajar pemasaran digital, bergabung dengan platform keuangan mikro seperti Amartha, dan mengembangkan produk turunannya. Rasulullah Saw. bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (H.R. Ibnu Majah No. 224)

Baca Juga:  Jangan Lelah Berbuat Baik

Dari Lilis, kita belajar bahwa ilmu bisa datang dari mana saja dan kapan saja, asal kita mau membuka diri dan tidak lelah mencoba.

Dari Ibu Lilis untuk Sekitarnya

Dengan berkembangnya usaha, kini Ibu Lilis mempekerjakan dua orang warga desa. Ia bukan hanya mandiri, tapi juga ikut memberdayakan. Rasulullah Saw. bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (H.R. Ahmad No. 23408)

Usaha yang baik bukan hanya memperkaya individu, tapi membangun lingkungannya. Dan itulah yang dilakukan Ibu Lilis.

Cacing sebagai Jalan Kemuliaan

Dari seekor cacing yang hidup dalam gelap dan lumpur, Ibu Lilis menemukan cahaya. Ia tidak hanya menjemput rezeki, tapi juga menginspirasi. Dalam Islam, tidak ada pekerjaan yang hina selama itu halal dan memberi manfaat. Sebaliknya, justru dari tempat yang tak diduga, Allah bukakan pintu-pintu kemuliaan.

Semoga kisah ini menggerakkan hati kita untuk lebih giat berusaha, tidak gengsi pada pekerjaan kecil, dan terus belajar. Karena setiap jengkal tanah bisa menjadi ladang emas, jika kita mengolahnya dengan tangan dan hati yang bersungguh-sungguh.

وَاللّٰهُ الْمُوَفِّقُ إِلَىٰ سَبِيلِ الرَّشَادِ

“Dan Allah-lah yang memberi taufik ke jalan yang lurus.” (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni