
Perjalanan tim panahan Lumajang menuju Kejurprov Jatim 2025 sarat makna: dari dukungan Kadisdik hingga persaudaraan hangat komunitas panahan Tulungagung yang menyambut penuh kekeluargaan.
Tagar.co – Perjalanan tim panahan Fast Satria Pandhita menuju ajang Kejuaraan Provinsi Junior Panahan Jawa Timur 2025 di Kompleks Lapangan Panahan Stadion Pacitan, 5-14 Mei, bukan sekadar misi meraih medali.
Di balik bus yang melaju dari Lumajang menuju arena pertandingan, terukir kisah tentang dukungan pemerintah, kekuatan komunitas, dan semangat persaudaraan yang mengiringi langkah para atlet muda ini.
Coach Sukma Andi Darmawan, Ketua Fast Satria Pandhita, tak menyembunyikan rasa terima kasihnya kepada Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lumajang, Yudha Nugraha Mudiarto, S.Sos., M.Si., yang juga menjabat sebagai Ketua Perpani Lumajang.
Baca juga: Atlet Panahan Fast Satria Pandhita Lumajang Berlaga di Kejurprov Pacitan
Menurutnya, perhatian dan bantuan fasilitas transportasi dari Dinas Pendidikan telah meringankan beban logistik tim dan memastikan kelancaran perjalanan mereka.
“Terima kasih kami sampaikan kepada Bapak Yudha yang sudah memfasilitasi transportasi untuk tim kami. Dukungan ini sangat berarti dan menjadi penyemangat tersendiri bagi anak-anak,” ujar Coach Sukma saat ditemui selepas perjalanan, Senin (12/5/25) malam.

Persinggahan Penuh Kehangatan di Tulungagung
Di tengah perjalanan, rombongan Fast Satria Pandhita menyempatkan diri singgah di Tulungagung. Di sana, mereka disambut hangat oleh dr. Andi Prasetyo, Sp.Rad.(K), RI—dokter spesialis radiologi intervensi di RSUD dr. Iskak Tulungagung sekaligus pelatih di Padepokan Panahan Tulungagung (Papatua).
Kediaman dr. Andi menjadi tempat istirahat sejenak bagi para atlet dan pendamping. Mereka disilakan menunaikan ibadah salat dan menikmati makan siang bersama dalam suasana kekeluargaan.
“Biasanya kalau lewat Tulungagung dalam perjalanan kejuaraan, kami memang diminta mampir. Begitu juga kalau mereka ke arah kami. Ini bukan cuma soal panahan, tapi juga kebersamaan dan persaudaraan,” ujar Arif Hafiansyah, official tim panahan Lumajang.
Arif melihat tradisi saling menyambut seperti ini sebagai bagian dari pendidikan karakter dalam dunia olahraga. Ia menilai, para atlet muda perlu belajar bahwa menjadi atlet bukan hanya tentang teknik dan prestasi, tapi juga soal membangun nilai-nilai kekeluargaan dan saling menghargai antarklub.
Membangun Ekosistem Olahraga yang Kolaboratif
Coach Arif berharap, kolaborasi antara pemerintah daerah dan komunitas panahan seperti Papatua dapat terus diperkuat. Menurutnya, keberhasilan seorang atlet tidak bisa dilepaskan dari ekosistem yang mendukung—mulai dari fasilitas, pelatih, hingga jejaring sosial yang sehat.
“Kalau ingin prestasi anak-anak terus berkembang, semua pihak harus bergandengan tangan. Pemerintah, sekolah, komunitas, semua punya peran,” tegasnya.
Perjalanan ke Kejurprov Jatim kali ini bukan hanya membawa bus penuh anak muda bertalenta, tapi juga cerita tentang bagaimana dukungan dan kolaborasi bisa menjadi bahan bakar semangat juang mereka. Dan dari Lumajang hingga Tulungagung, semangat itu terus menyala. (#)
Jurnalis Umi Fauzia Yuniarsih Penyunting Mohammad Nurfatoni












