Opini

Dagusibu, Langkah Kecil yang Menyelamatkan Nyawa

26
×

Dagusibu, Langkah Kecil yang Menyelamatkan Nyawa

Sebarkan artikel ini
Abdul Rahem, dosen Fakultas Farmasi Universitas Airlangga dan Wakil Ketua Umum PP IAI, berfoto usai menjadi peserta Asian Pharmacy Summit on Universal Health Care di Seda Vertis North, Quezon City, Filipina, Sabtu (25/10/2025).

Kampanye Dagusibu mengingatkan bahwa obat bukan sekadar produk konsumsi. Cara mendapatkan, menggunakan, menyimpan, dan memusnahkan obat menentukan keberhasilan penyembuhan dan keselamatan lingkungan kita.

Oleh: Abdul Rahem, Dosen Fakultas Farmasi Unair dan Wakil Ketua Umum PP Ikatan Apoteker Indonesia (IAI)

Tagar.co – Dalam kehidupan sehari-hari, obat menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya menjaga kesehatan.

Namun, masih banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa cara kita mendapatkan, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat memiliki dampak besar terhadap efektivitas pengobatan dan keselamatan pasien, termasuk kesehatan lingkungan tempat kita tinggal.

Di sinilah pentingnya kampanye Dagusibu (dapatkan, gunakan, simpan, dan buang obat dengan benar).

Baca juga: Ikatan Apoteker Indonesia, Garda Depan Percepatan Sertifikasi Halal Nasional

Sebagai inisiator dan kreator Dagusibu adalah sejawat Dr. Sugiyartono, M.S., Apt., pada tahun 2002 ketika beliau menjabat sebagai Ketua Pengurus Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI) Daerah Jawa Timur, dengan tujuan utama Dagusibu untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang pentingnya perlakuan obat yang benar dari awal hingga akhir siklus penggunaannya.

Banyak kasus keracunan, resistensi antibiotik, bahkan kegagalan pengobatan yang terjadi bukan karena obatnya salah, tetapi karena cara masyarakat memperlakukan obat secara keliru.

Dagusibu sebagai pegangan apoteker dalam melakukan edukasi kepada masyarakat, lahir sebagai jawaban atas masalah klasik yang sering diabaikan, yaitu ketidaktahuan masyarakat dalam memperlakukan obat.

Obat bukan produk konsumen biasa; obat adalah zat kimia yang bisa menyembuhkan, tetapi juga bisa mencelakakan bila digunakan tidak benar. Oleh karena itu, tujuan dari dibentuknya Dagusibu bukan hanya memberi edukasi teknis, tetapi juga untuk mengubah pola pikir dan kebiasaan masyarakat terhadap obat.

Baca Juga:  Mengenang Suasana Ramadan di Kampung Halaman Sumenep

Empat Komponen Dagusibu

1. Dapatkan Obat dengan Benar

Artinya, masyarakat harus mendapatkan obat dengan cara yang aman dan legal, yaitu dari tangan apoteker atau fasilitas kesehatan resmi yang memiliki apoteker seperti apotek, puskesmas, rumah sakit, klinik, dan juga bisa didapatkan di toko obat berizin yang hanya menjual obat bebas dan obat bebas terbatas dan dikelola oleh tenaga teknis kefarmasian.

Selain itu, harus dipastikan obat diperoleh dengan resep dan/atau arahan apoteker. Hindari dan waspadai pembelian obat secara daring pada platform yang tidak berizin. Jangan tergoda harga murah atau janji manis penyembuhan cepat.

2. Gunakan Obat dengan Benar

Ketepatan dosis, waktu, dan cara penggunaan sangat menentukan keberhasilan pengobatan. Obat mengandung zat aktif yang dirancang untuk mengatasi penyakit tertentu dalam dosis dan waktu yang tepat.

Menggunakannya secara serampangan—tanpa dosis yang sesuai, tanpa mengetahui indikasinya, atau berhenti sebelum waktunya—bisa menyebabkan lebih banyak mudarat daripada manfaat.

Selain itu, terkait waktu penggunaan obat, frekuensi harian, dan lama penggunaan obat merupakan hal yang sangat kritis. Ada obat yang harus diminum pada pagi hari, ada juga yang diminum pada malam hari.

Ada yang digunakan satu jam sebelum makan, ada yang digunakan saat suapan pertama makan, ada juga yang harus digunakan satu jam setelah makan.

Ada obat yang digunakan hanya satu kali dalam sehari, ada dua kali, dan juga ada yang lebih dari dua kali dalam sehari. Ada obat yang digunakan selama empat hari, ada yang digunakan selama tujuh hari, ada yang digunakan selama enam bulan, bahkan ada yang harus digunakan sepanjang hayat.

Baca Juga:  Mengenang Suasana Ramadan di Kampung Halaman Sumenep

Menggunakan obat mungkin terdengar sederhana: tinggal minum sesuai gejala, selesai. Namun kenyataannya, banyak orang masih menggunakan obat secara keliru, dan dampaknya bisa sangat berbahaya karena efek samping mulai dari yang sederhana hingga menyebabkan kematian. Inilah mengapa prinsip kampanye Dagusibu oleh apoteker begitu penting.

Prinsip “Gunakan Obat dengan Benar” mengajarkan kita untuk:
• Mengikuti petunjuk dokter atau apoteker secara disiplin
• Tidak berbagi obat dengan orang lain karena kondisi setiap orang berbeda
• Memperhatikan waktu, dosis, dan cara penggunaan
• Tidak mencampur sembarang obat

3. Simpan Obat dengan Benar

Penyimpanan obat sering kali dianggap remeh. Asal tidak basah atau hilang, dianggap aman. Padahal, cara menyimpan obat sangat menentukan keamanan dan efektivitasnya. Obat yang disimpan tidak sesuai arahan apoteker bisa mengalami kerusakan fisik maupun kimia bahkan sebelum masa kedaluwarsa tiba.

Misalnya, menyimpan obat di tempat lembap dan panas atau di dekat jendela dapat menyebabkan perubahan bentuk, bau, warna, bahkan menghilangkan khasiat obat.

Tujuan prinsip ini adalah agar masyarakat paham bahwa menjaga kualitas obat sama pentingnya dengan mendapatkannya dari sumber yang benar. Obat yang rusak bukan hanya tidak efektif, tetapi juga bisa menimbulkan efek samping yang membahayakan.

Hal penting dalam menyimpan obat:
• Simpan di tempat sejuk, kering, dan terlindung dari cahaya matahari langsung
• Jauhkan dari jangkauan anak-anak
• Gunakan wadah asli obat
• Catat tanggal kedaluwarsa dan jangan simpan obat terlalu lama

Untuk obat tertentu seperti insulin dan vaksin yang harus disimpan pada suhu rendah: gunakan lemari es, namun tetap pada bagian tertentu (bukan freezer), dan jauh dari makanan untuk mencegah kontaminasi.

Baca Juga:  Mengenang Suasana Ramadan di Kampung Halaman Sumenep

Masyarakat perlu diberi pemahaman bahwa menyimpan obat “untuk jaga-jaga” tanpa tahu kondisi penyimpanannya bisa berisiko. Lebih baik berkonsultasi ulang ke dokter jika gejala muncul kembali daripada menggunakan obat sisa yang kualitasnya tidak terjamin.

4. Buang Obat dengan Benar

“Buang” dalam hal ini maksudnya memusnahkan obat dengan benar, yang sering kali diabaikan. Banyak orang memusnahkan obat kedaluwarsa ke tempat sampah dan saluran air.

Padahal, beberapa apotek kini menyediakan layanan penampungan obat kedaluwarsa untuk dimusnahkan secara aman. Membuang obat dengan benar bertujuan agar tidak mencemari lingkungan dan tidak disalahgunakan pihak tidak bertanggung jawab.

Kapan obat harus dimusnahkan?
• Tablet/kapsul dalam wadah botol: 6 bulan setelah tutup botol dibuka
• Obat minum (sirup): 6 bulan setelah dibuka atau sesuai saran pabrik
• Tetes mata/telinga/hidung: 1 bulan/28 hari setelah dibuka
• Salep mata: 1 bulan/28 hari setelah dibuka

Selama ini, banyak orang tidak menyadari bahwa membuang obat sembarangan dapat mencemari tanah, air, dan rantai makanan. Selain itu, obat yang dibuang dalam bentuk utuh berpotensi ditemukan dan disalahgunakan.

Penutup

Dagusibu bukan sekadar slogan, tetapi panduan penting agar penggunaan obat menjadi aman, efektif, dan bertanggung jawab. Edukasi tentang Dagusibu oleh apoteker harus terus digalakkan di sekolah, puskesmas, hingga media sosial. Karena dengan memahami dan menerapkan prinsip ini, kita tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga orang lain dan lingkungan. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Opini

Detak jantung tidak pernah berhenti bekerja—tetapi kita sering…