Opini

Bulan Guru Nasional, Cahaya yang Tak Pernah Padam

34
×

Bulan Guru Nasional, Cahaya yang Tak Pernah Padam

Sebarkan artikel ini
Foto freepik.com premium

Bulan Guru Nasional bukan sekadar seremoni, melainkan refleksi tentang cahaya yang dinyalakan para guru di setiap kelas. Dari tangan merekalah lahir generasi yang berakhlak dan berperadaban.

Oleh Nurkhan; Kepala MI Muhammadiyah 2 Campurejo Panceng, Gresik

Tagar.co – Memasuki Bulan Guru Nasional 2025, kita kembali diingatkan bahwa kemajuan bangsa tidak pernah lahir dari keserampangan. Ia lahir dari tangan-tangan yang sabar, dari teladan yang konsisten, dan dari suara lembut yang setiap hari memanggil nama anak-anak di kelas.

Ia lahir dari guru—dari mereka yang memilih tetap berdiri meski dunia berubah arah, tetap tersenyum meski beban sering kali tak terlihat.

Baca juga: Kemendikdasmen Hadirkan Bulan Guru Nasional 2025

Beberapa hari lalu, tepatnya 31 Oktober 2025, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti secara resmi membuka Bulan Guru Nasional melalui peluncuran program nasional yang sarat pesan. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa guru bukan sekadar agen pembelajaran, melainkan pembangun peradaban.

Pesan itu bukan sekadar retorika. Ia adalah pengingat bahwa di tangan para gurulah arah masa depan bangsa dititipkan. Guru bukan hanya mendidik, tetapi juga menanamkan nilai hidup—pekerjaan panjang yang memerlukan dedikasi, keteladanan, dan ruang untuk terus berkembang.

Baca Juga:  Memuliakan Kembali Guru sebagai Murabi

Peluncuran tersebut juga menandai komitmen pemerintah dalam memperkuat kapasitas guru, termasuk membuka peluang beasiswa pendidikan bagi puluhan ribu guru yang belum menyelesaikan jenjang akademik yang lebih tinggi.

Langkah ini penting, sebab peningkatan kualitas pendidikan tidak bisa dipisahkan dari kualitas guru itu sendiri. Ketika guru tumbuh, sekolah pun tumbuh; dan ketika sekolah tumbuh, bangsa ini bergerak menuju peradaban yang lebih kokoh.

Momentum nasional ini seharusnya mengalir sampai ke lembaga-lembaga pendidikan di pelosok—termasuk madrasah-madrasah kecil di pedesaan yang jauh dari keramaian. Spirit Bulan Guru Nasional bukan hanya milik kota-kota besar atau institusi mapan.

Ia milik semua insan yang setiap pagi menyambut tawa anak-anak dengan hati yang lapang. Merekalah yang diam-diam menyiapkan masa depan Indonesia dari kelas-kelas sederhana.

Peran Strategis Guru

Bulan Guru Nasional menjadi kesempatan bagi kita untuk menengok kembali peran strategis guru. Bukan sekadar memberi ucapan selamat atau bunga simbolis, tetapi memastikan mereka mendapat penghargaan yang bermakna: ruang untuk berkembang, kesempatan pelatihan, dukungan kesejahteraan, serta kolaborasi yang memperkuat profesionalitas.

Baca Juga:  Mendikdasmen: Pendidikan Harus Memuliakan Manusia, Guru Jadi Pilar Utama

Di tingkat madrasah, hal itu bisa diwujudkan melalui budaya refleksi, penguatan mutu guru, pelatihan internal, hingga apresiasi atas inovasi pembelajaran yang telah mereka lakukan.

Pemilihan sekolah inklusi sebagai lokasi peluncuran Bulan Guru Nasional oleh Menteri Abdul Mu’ti juga sarat makna. Itu adalah simbol bahwa pendidikan adalah hak setiap anak.

Pesan ini sangat relevan bagi semua lembaga pendidikan: guru harus hadir bagi setiap anak tanpa kecuali, termasuk mereka yang membutuhkan perhatian khusus. Inilah inti dari peradaban yang luhur—kehadiran guru yang mengasuh, membimbing, dan membuka ruang bagi setiap potensi.

Menyongsong Bulan Guru Nasional tahun ini, marilah kita memaknai kembali hakikat pengabdian seorang guru. Mereka bukan sekadar menjalankan profesi; mereka sedang menyalakan cahaya. Cahaya yang mungkin kecil, namun ketika dinyalakan serentak di ribuan kelas di seluruh negeri, ia berubah menjadi terang besar bagi masa depan Indonesia.

Guru adalah jantung pendidikan. Mereka adalah penjaga nilai. Mereka adalah arsitek masa depan. Dan Bulan Guru Nasional adalah cara bangsa ini mengakui bahwa dari tangan merekalah lahir generasi yang cerdas, berakhlak, dan berperadaban. (#)

Baca Juga:  Pemerintah Perkuat Sinergi Pusat-Daerah Atasi Kekurangan Guru

Penyunting Mohammad Nurfatoni