
Dengan bahan sederhana dari botol hingga kayu bekas, Mimtaras menyulap pojok baca di setiap kelas menjadi ruang inspirasi. Inovasi ini sukses memikat juri LLSMS dan menumbuhkan semangat literasi anak.
Tagar.co – Jumat pagi (22/8/2025) menjadi hari istimewa bagi MI Muhammadiyah Mentaras (Mimtaras), Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Sekolah ini kedatangan tim juri Lomba Lingkungan Sekolah Muhammadiyah Sehat (LLSMS).
Meski sinar matahari teriknya membakar, semangat para murid tetap menyala dalam menyambut dua juri, yakni Drs. Mohammad Nurfatoni dari Majelis Dikdasmen dan PNF Kabupaten Gresik serta Sutrisno Adi Prayitno, S.TP., M.P. dari Majelis Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik.
Baca juga: Ditolak Beli Es Blewah karena Tak Bawa Gelas: Kisah Kantin Mimdiga dan Budaya Baru
Kedatangan juri disambut meriah dengan tepuk tangan, yel-yel, hingga senyum sumringah dari murid, guru, dan ikatan wali murid (ikwam). Suasana semakin hidup ketika mereka bersama-sama melakukan Senam Anak Indonesia Hebat.
Dalam sambutan pembuka, Mohammad Nurfatoni yang akran disapa Fatoni menekankan pentingnya semangat kebersamaan.
“Saya merasa senang dengan semangat yang up seperti ini dan harus dipertahankan. Meskipun Mimtaras hanya memiliki 48 murid, ini justru menjadi poin plus karena guru dapat lebih fokus mendidik. Semoga ke depan Mimtaras menjadi sekolah yang unggul,” ujarnya.
Acara pembukaan ditutup dengan pemberian cendera mata berupa bucket buku dari Fatoni kepada Kepala Mimtaras, Darojatul Muslimah, S.Pd.I.

Perubahan Nyata
Dalam kesempatan itu, Fatoni mengaku kagum dengan perkembangan Mimtaras.
“Sudah jauh berbeda dibandingkan tiga tahun lalu ketika saya ke sini. Semoga perubahan ini bukan sekadar karena lomba LLSMS, tetapi terus berlanjut ke depan. LLSMS bukan hanya lomba, melainkan juga ajang silaturahmi ke delapan puluh sekolah Muhammadiyah di Gresik,” tuturnya.
Perubahan yang dimaksud terlihat nyata, mulai dari tangga menuju lantai dua yang kini lebih landai dan nyaman digunakan, hadirnya tanaman vertikal lee kuan yew yang menjuntai indah di teras, hingga meja-kursi siswa standar yang menggantikan dampar di dua ruang kelas. Ruang-ruang tersebut kini juga dilengkapi sekat yang tertata rapi.
Ia menilai, perubahan ini merupakan buah kerja keras kepala sekolah, guru, dan ikwam yang aktif memberikan masukan positif. “Inilah yang dulu saya maksud dengan menyalakan tombol semangat,” katanya, mengingat motivasi yang ia sampaikan tiga tahun lalu ketika menjadi juri LLSMS. Saat itu Mimtaras masih dipimpin oleh Sukarni, S.Pd.I, yang kemudian wafat pada 11 April 2025.
Hal ini diamini oleh guru Mimtaras, Imroatul Mazidah, S.Pd. “Kami melakukan persiapan sejak jauh hari, terutama dalam sepekan terakhir dengan melibatkan ikwam. Mulai dari merapikan bunga hingga menata ruang kelas. Saya senang karena LLSMS bisa menjadi ajang silaturahmi dan kerja sama antara sekolah dan wali murid,” ujarnya.
Fatoni berharap beberapa kekurangan yang masih terlihat dalam penilaian dapat diperbaiki ke depan. Salah satunya, empat ruang kelas yang hingga kini belum memiliki langit-langit.
“Semoga ada lagi yang tergerak untuk membantu menyelesaikannya,” harapnya. Ia juga mengingatkan bahwa setelah visitasi LLSMS tiga tahun lalu, ada pihak luar yang turut membantu, yakni sekolah Muhammadiyah GKB yang menyumbangkan meja dan kursi siswa.

Pojok Baca yang Menginspirasi
Rangkaian penilaian berlanjut. Tim juri meninjau setiap sisi sekolah, mulai dari kantin, laboratorium komputer, ruang guru, toilet murid, hingga kelas-kelas di lantai atas.
Suasana kelas yang rapi, bersih, dan berhias lukisan dinding membuat juri terkesima. Namun, perhatian khusus justru tertuju pada pojok baca di setiap ruang kelas.
Di sana terdapat rak sederhana dari kayu bekas yang berisi beberapa koleksi buku bacaan anak. Alasnya dilapisi karpet, sementara sisi luarnya dibatasi pagar mini dari botol plastik bekas yang dicat dan disusun rapi. Tak hanya itu, ada pula meja baca yang dibuat dari ban bekas..
Sutrisno Adi Prayitno menyampaikan kesan mendalam: “Pojok bacanya bagus, unik, dan menginspirasi. Desain minimalis yang sesuai usia menciptakan lingkungan nyaman dan berdampak pada psikomotorik anak, sehingga mereka suka membaca dan menikmati pembelajaran.”
Ia menambahkan, inovasi tata ruang, media, dan strategi pembelajaran akan membuat murid semakin betah di kelas.
“Saya punya anak kecil yang butuh stimulus untuk gemar membaca. Pojok baca ini menginspirasi saya, bahkan ingin saya terapkan di rumah,” ucapnya bangga.
Meski koleksi buku masih terbatas, Sutrisno menyampaikan niat membantu pengadaan buku bacaan ke depan.
Kepala Mimtaras, Darojatul Muslimah, S.Pd., juga tak menyembunyikan rasa bangganya.
“Pojok baca yang sederhana ini mampu menginspirasi. Saya melihat Mimtaras dipenuhi sumber daya manusia yang bukan hanya kompak, tetapi juga bijak dan solutif untuk kenyamanan murid serta kemajuan sekolah.” (#)
Jurnalis Ni’matul Laily Penyunting Mohammad Nurfatoni












