
Dengan gaya interaktif dan penuh semangat, Redaktur Tagar.co Mohammad Nurfatoni mengajak ratusan kader Nasyiatul Aisyiyah di Brondong menulis berita yang tak sekadar informatif, tapi juga menghidupkan. Dari game kata baku hingga praktik bercerita, pelatihan ini jadi ruang belajar yang menggugah dan membumi.
Tagar.co – Ahad pagi, 27 Juli 2025, Gedung Dakwah Muhammadiyah Brondong Lamongan Jawa Timur dipenuhi ratusan kader Nasyiatul Aisyiyah dari berbagai ranting. Mereka hadir dalam Pelatihan Jurnalistik yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) Brondong, sebuah acara yang menjadi ruang belajar bersama di tengah semangat menguatkan dakwah di era digital.
Saya memang tidak datang sejak awal. Ketika tiba di lokasi pukul 10.27, suasana pelatihan sudah berlangsung semarak. Saya segera mencari tempat duduk, lalu memilih baris kelima.
Baca juga: Tantangan Memotret Awali Pelatihan Jurnalistik PCNA Brondong
Cahaya matahari menyelinap melalui jendela-jendela besar, menyinari lantai keramik putih yang bersih dan membuat ruangan yang ditopang tiang-tiang biru itu terasa terang alami.
Meski ada lima kipas angin besar yang berputar dari berbagai sudut, hawa panas tetap terasa menyusup. Maklum di samping karena ruangan dipenuhi peserta, hawa hangat khas pesisir turut andil menghangatkan ruangan.
Beberapa peserta tampak mengibas-ngibaskan jilbab, yang lain menyeka peluh dengan tisu. Tapi tak ada yang mengeluh. Suasana tetap tertib dan fokus. Dan saya beruntung karena duduk di dekat kipas di pojok kiri ruangan
Dari kursi saya, terlihat barisan peserta perempuan duduk berjajar rapi di atas kursi biru plastik. Sebagian besar mengenakan batik khas Nasyiatul Aisyiyah nasional dengan kerudung putih gading.
Di antara sekitar 111 peserta, saya merasa cukup berbeda. Saya mengenakan batik Forum Guru Muhammadiyah (FGM) dengan kerudung biru elektrik, lengkap dengan ID card tempat saya mengajar. Meski tampak mencolok, saya membawa semangat yang sama—ingin belajar dan ikut serta dalam penguatan media dakwah Perserikatan.

Saat saya tiba, sesi inti pelatihan tengah berlangsung. Mohammad Nurfatoni, Redaktur Tagar.co, berdiri di panggung depan menyampaikan materi dengan penuh semangat. Ia mengenakan kemeja putih panjang dan vest abu-abu, tampil percaya diri dan komunikatif. Gestur tangannya mengiringi setiap kalimat. Di belakangnya, tergantung banner besar bertuliskan “Pelatihan Jurnalistik – Viralkan Eksistensi Persyarikatan di Keramaian Ruang Digital”.
Fatoni, sapannya, menyampaikan materi dengan gaya yang tidak biasa. Ia mengajak peserta membuka mesin pencarian Google lalu mengamati hasil pencarian.
“Coba ketik: Siapa yang disebut mahram? Di media mana muncul paling atas?” Ternyata di samping Muhammadiyah.or.id dan NU.or.id, media umum seperti detik.co muncul juga di halaman atas hasil pencarian. “Pertanyaan seperti ini seharusnya dijawab oleh media Islam. Dan di sinilah peran kalian dibutuhkan.”
Ia melanjutkan dengan menekankan pentingnya menulis berita berasa cerita. “Berita yang baik itu mampu membawa pembaca masuk ke dalam persitiwa. Dia seperti berada di lokasi,” ujarnya. Dia membandingkan berita seperti ini dengan berita yang dia sebut sebagai berita pamflet, yakni berita sekadar berisi informasi atau pengumuman—-hanya memenuhi apa, siapa, kapan, dan di mana.
Fatoni lalu memberi contoh berita bercerita yang dia tulis. Judulnya: Ditolak Beli Es Blewah karena Tak Bawa Gelas: Kisah Kantin Mimdiga dan Budaya Baru
Peserta pelatihan kemudian dia minta membacakannya. Salah satunya adalah Musfiroh, M.Pd., Ketua PCNA Brondong. “Membaca berita ini seperti diajak berada di madrasah itu dari pagi sampai waktu istirahat anak. Enak dibaca, jadi mudah dipahami,” ungkapnya saat diminta memberikan tanggapan. Ucapannya disambut senyum puas Fatoni dan tepuk tangan peserta lainnya.
alumnus SMA Muhammadiyah 1 Babat Lamongan ini kemudian menjelaskan salah satu unsur berita seperti itu adalah kemmapuan mendeskripsikan peristiwa—seperti tempat, narasumber, atau kronologi. Jika ditulis secara mengalir maka akan membawa pembaca seperti hadir di lokasi.
Menurut Direktur Kanzun Books itu, menulis berita seperti ini tidaklah sulit karena sehari-hari kita sudah terbiasa bercerita. “Nah kita ubah gaya bercerita secara lisan itu ke dalam tulisan,” jelasnya.

Pelatihan menjadi semakin menarik saat Fatoni mengadakan mini game. Peserta ditantang menuliskan sepuluh kata baku sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Caranya: dia membaca kata-kata sampai 10 nomor, peserta diminta menulisnya sesuai pemahamannya terhadap kata baku tersebut, misalnya Sumatra, elite, atau karisma. Ternyata banyak yang salah karena menulisnya—Sumatera, elit, dan kharisma. Suasana langsung riuh.
Semua tampak serius menulis, berdiskusi, hingga tertawa saat jawaban mereka dibacakan. Empat peserta dengan jawaban paling benar diadu kembali dalam babak penentuan. Akhirnya, Rohmad Afi Hidayat, peserta asal Mencorek, berhasil menjadi juara dan membawa pulang hadiah berupa kaus eksklusif.
Meski saya tidak menyaksikan sesi dari awal, pengalaman mengikuti pelatihan ini begitu membekas. Bukan hanya karena materinya yang padat, tapi juga suasananya yang hidup dan menggerakkan. Kegiatan ini tidak sekadar memberi teori jurnalistik, tetapi juga menghidupkan semangat untuk menulis dan bercerita sebagai bentuk dakwah yang nyata.
Sesuai dengan tema besar acara, “Viralkan Eksistensi Persyarikatan di Keramaian Ruang Digital,” pelatihan ini menjadi titik tolak yang penting. Semoga para kader PRNA se-Cabang Brondong dan peserta lainnya terus melanjutkan energi ini, mengisi ruang digital dengan narasi-narasi Persyarikatan yang menggugah dan membumi.
Jurnalis Zulfatus Salima. Tulisan ini dibuat sebagai bagian dari tugas pratktik menulis berita yang diberikan di akhir pelatihan.












