
Di saat kebanyakan manusia masih terlelap, Allah turun ke langit dunia dan menanti doa-doa kita. Jika terbangun di waktu ini, jangan abaikan panggilan paling lembut dari langit.
Renungan Fajar (Edisi 2); Oleh Ulul Albab; Ketua ICMI Orwil Jawa Timur; Ketua Litbang DPP Amphuri; Akademisi Unitomo Surabaya
Tagar.co – Rasulullah Saw. bersabda, “Rabb kita turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Baca Juga Renungan Fajar (Edisi 1): Allah yang Menidurkan dan Membangunkan Kita, untuk Apa?
Jika kita termasuk orang yang terbangun di sepertiga malam terakhir, berbahagialah. Itu bukan karena alarm. Bukan pula sekadar karena rutinitas. Tetapi karena Allah memilih kita untuk bangun di waktu yang paling mulia.
Ketika kebanyakan manusia masih terlelap, Allah “turun” mendekati hamba-Nya—membuka ruang pengabulan doa, pengampunan dosa, dan limpahan kasih sayang.
Bangun di waktu ini adalah kebiasaan orang-orang saleh. Mereka menjadikannya sebagai sesi pribadi—intim—antara hamba dan Tuhannya.
Perspektif Ilmiah: Kekuatan Spiritual Sepertiga Malam
Dari sudut pandang ilmu kedokteran dan psikologi, sepertiga malam terakhir (sekitar pukul 02.00–04.30 pagi) adalah waktu ketika gelombang otak mulai berubah dari fase tidur dalam menuju kesadaran.
Hormon kortisol—yang merangsang kewaspadaan dan energi—mulai meningkat. Bagi yang bangun dan melakukan aktivitas spiritual di waktu ini, fokus mentalnya justru lebih tinggi dan ketenangan batinnya lebih mendalam (Walker, Why We Sleep, 2017).
Dalam studi neuropsikologi, ibadah yang dilakukan di waktu sunyi seperti tahajud terbukti memperkuat konektivitas antara pusat emosi dan pusat perhatian di otak. Maka tidak heran, orang yang rutin menunaikan salat tahajud biasanya lebih stabil secara emosional dan lebih jernih dalam berpikir (Kraf, Spiritual Neuroscience Journal, 2021).
Panggilan yang Sering Kita Abaikan
Sayangnya, banyak di antara kita justru menyepelekan waktu ini. Kita menundanya, memilih tidur lebih nyenyak, atau bahkan melupakannya sama sekali. Padahal, jika kita sadar siapa yang sedang “menunggu” di langit dunia setiap malam, tak mungkin kita memilih untuk kembali tidur.
Sepertiga malam terakhir adalah momen penuh rahmat dan peluang. Tidak butuh banyak kata. Cukup bisikkan, “Ya Allah, terimalah aku.” Itu saja cukup untuk mengetuk pintu-Nya. Dan Allah, tidak seperti manusia—Dia tidak lelah mendengar, tidak malas memberi, dan tidak pernah menolak hamba yang datang dengan hati yang pasrah.
Mari Bangun, Bukan Sekadar Terbangun
Jika malam ini (atau esok) Allah membangunkan kita, jangan langsung mengambil ponsel. Jangan tergesa membuka notifikasi dunia. Bukalah hati terlebih dahulu. Angkat tangan ke langit. Sambut panggilan-Nya.
Berbahagialah jika kita bisa bangun. Tetapi lebih berbahagialah jika kita menyadari, untuk apa kita dibangunkan.
“Dan pada sebagian malam, bangunlah untuk salat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu. Semoga Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (l-Isra’: 79)
Sahabat pembaca, jika Anda pernah merasa ingin memperbaiki diri, ingin lebih dekat kepada Allah, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana—mulailah dari bangun di sepertiga malam terakhir. Di sana, langit terbuka. Dan doa Anda adalah suara hamba yang paling Allah rindukan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfaoni












