Opini

Rumi dan Luka Sunyi Manusia Modern

189
×

Rumi dan Luka Sunyi Manusia Modern

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Dunia makin terang, tetapi jiwa justru redup. Tujuh abad lalu, Jalaluddin Rumi sudah membaca kegelisahan yang hari ini kita anggap baru.

Catatan Ahmadie Thaha, Kolumnis

Tagar.co – Tujuh abad lalu, Jalaluddin Rumi dikuburkan dengan tenang di Konya, Turki.

Ia mungkin tak pernah membayangkan puisinya kelak menjadi “obat tidur” bagi dunia yang justru semakin sulit tidur. Dunia yang lampunya terang benderang, tetapi jiwanya redup seperti genset kehabisan solar.

Di tengah denting notifikasi, manusia modern berlari tanpa tahu sedang dikejar siapa dan menuju ke mana. Lalu datanglah Rumi dengan kalimat sederhana, tetapi menusuk: “Yang kau cari sebenarnya ada di dalam dirimu.”

Baca juga: Batas Scroll Anak di Negeri yang Sulit Membatasi Diri

Ironis. Kita sibuk berkeliling dunia, berkelana entah ke mana, padahal kalung mutiara itu sudah menggantung manis di leher sendiri. Tinggal diraba, bukan dicari.

Prof. Nevzat Tarhan menulis buku tentang penyakit manusia itu, berjudul Terapi Rumi. Akhir pekan ini, ia datang jauh-jauh dari Turki untuk membedah bukunya di Universitas Paramadina, Jakarta.

Nevzat, seorang ahli terapi, hadir seperti dokter yang membawa resep lama untuk penyakit baru. Atau mungkin sebaliknya: penyakit lama yang kini diberi nama baru agar terdengar ilmiah.

Baca Juga:  Diplomasi di Balik Kabut Islamabad

Namun, buku karyanya ini bukan panduan terapi klinis seperti yang dibayangkan orang. Tak ada resep obat, tak ada teknik relaksasi instan, melainkan pembacaan reflektif atas puisi-puisi Jalaluddin Rumi untuk memahami luka batin manusia modern.

Terapi Rumi menggali kedalaman hikmah dari buku Masnawi karya Rumi dan menyajikannya sebagai alat terapi bagi kehidupan modern.

Buku ini menjembatani prinsip-prinsip tasawuf dengan pendekatan psikologi kontemporer, menghadirkan cara pandang baru tentang pertumbuhan diri dan kesehatan emosional.

Ia mengulas tema-tema utama seperti cinta, penyerahan diri, transformasi, serta perjalanan menuju pencerahan. Ia juga menunjukkan relevansinya terhadap persoalan psikologis seperti kecemasan, depresi, relasi, hingga krisis makna hidup.

Dengan bahasa yang lebih mudah diakses, Nevzat menerjemahkan puisi Rumi menjadi panduan reflektif yang dilengkapi latihan, studi kasus, dan pertanyaan perenungan, sehingga pembaca tidak hanya memahami, tetapi juga mengalami proses penyembuhan dan penemuan diri.

Dari sini saja kita sudah bisa menebak: ini bukan buku yang menyembuhkan dengan cara menghapus masalah, melainkan dengan mengubah cara kita memandangnya. Di situlah letak keganjilannya—sekaligus keajaibannya.

Baca Juga:  OTT Berulang: Pilkada Diganti, Korupsi Berhenti?

Kita tahu, depresi, kesepian, dan kecanduan—semuanya kini memiliki istilah keren, lengkap dengan grafik dan jurnal internasional. Namun, Rumi sudah membicarakannya sejak manusia masih menulis di atas kulit domba.

Bedanya, ia tidak menyebutnya “disorder”, melainkan “kerinduan”. Tidak menyebutnya “trauma”, tetapi “jarak dari Tuhan”.

Untuk menyimpulkan, Nevzat menyebut ada tiga krisis besar manusia modern: ketimpangan, krisis iklim, dan kesepian.

Namun diam-diam, ada krisis keempat yang lebih sunyi: manusia kehilangan arah, lalu berpura-pura tidak tersesat. Kita ini seperti orang yang tersesat di hutan, tetapi sibuk memperbaiki sepatu, bukan mencari jalan pulang.

Lucunya, dunia modern begitu bangga pada “psikologi positif”. Empati, syukur, makna hidup—semua itu dipoles, dikemas, diberi label ilmiah, lalu dijual mahal dalam seminar ber-AC dingin.

Padahal, Rumi sudah membagikannya gratis, tanpa PowerPoint, tanpa sertifikat, tanpa jeda minum kopi.

Yang lebih tragis, kita ini generasi yang bisa mengobrol dengan kecerdasan buatan, tetapi kesulitan berdialog dengan hati sendiri.

Kita kini lebih percaya algoritma daripada intuisi, lebih percaya data daripada doa. Seolah-olah Tuhan harus diverifikasi terlebih dahulu melalui jurnal Scopus sebelum dianggap valid.

Padahal, sebagaimana diingatkan Rumi, masalah terbesar manusia bukanlah dunia yang kacau, melainkan cara pandangnya yang keruh. Kita melihat dengan mata yang lelah, menilai dengan ego yang lapar, lalu heran mengapa hidup terasa pahit.

Baca Juga:  Keberanian di Podium, Ujian di Konstitusi

Di titik ini, “Terapi Rumi” bukan sekadar bacaan, tetapi tamparan halus.

Ia tidak menyuruh kita lari dari masalah, melainkan mengubah cara melihatnya. Seperti kisah orang yang mengusir lalat dengan batu—niatnya baik, tetapi caranya membunuh. Dunia kita penuh niat baik, tetapi miskin kebijaksanaan.

Maka, mungkin benar kata Nevzat: tanpa kebijaksanaan, peradaban menjadi buta.

Kita punya teknologi untuk menjangkau Mars, tetapi tidak memiliki ketenangan untuk duduk lima menit bersama diri sendiri. Kita tahu cara mengedit video 4K, tetapi tidak tahu cara mengedit niat.

Di tengah semua itu, Rumi tersenyum sunyi dari kuburnya. Puisinya terus hidup, bukan hanya karena indah, tetapi karena jujur. Ia tidak menawarkan solusi instan, melainkan mengajak pulang—bukan ke tempat, tetapi ke diri.

Barangkali, di zaman yang serba bising ini, yang kita butuhkan bukan suara baru, melainkan keberanian untuk mendengar yang lama. (#)

Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 4 April 2026

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Opini

Sorakan terhadap satu pihak sering kali lahir dari…