Feature

Belajar Kue Lumpur sambil Menyulam Kepedulian: Rutinan NA Bulurejo

43
×

Belajar Kue Lumpur sambil Menyulam Kepedulian: Rutinan NA Bulurejo

Sebarkan artikel ini
Para aktivis NA Desa Bulurejo, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, sedang belajar membuat kue lumpur di Taman Cangkir, Ahad (7/12/25) (Tagar.co/Maria Hanim)

Aroma kue lumpur yang mengepul hangat di Taman Cangkir menjadi saksi bagaimana para aktivis Nasyiatul Aisyiyah Bulurejo belajar, tertawa, dan berbagi kepedulian. Dari lingkar belajar sederhana, tumbuh solidaritas yang mengalir tulus untuk membantu sesama.

Tagar.co – Ahad pagi 7 Desember 2025 Taman Cangkir di Dusun Rayung, Desa Bulurejo, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, tampak lebih hidup dari biasanya.

Angin sejuk berhembus lembut menyapa para ibu muda yang berdatangan. Mereka adalah anggota Nasyiatul Aisyiyah (NA) Bulurejo yang setiap bulan berkumpul untuk belajar, berbagi, dan mempererat silaturahmi.

Baca juga: Lastri Tak Lagi Diam: Kisah Perempuan Benjeng Melawan Banjir

Namun, suasana hari itu terasa berbeda. Ada semangat baru yang mengalir. Para Yunda, panggilan aktivis NA, duduk melingkar santai di bawah pepohonan. Di tengah lingkaran, bahan-bahan seperti kentang rebus, santan, tepung, dan gula tersusun rapi—semua dalam jangkauan agar setiap peserta dapat ikut mempraktikkan pembuatan kue dengan nyaman.

Di ruang lingkar itu, berdiri Yunda Hidayaturrohmah, salah satu owner Taman Cangkir, yang kali ini mendapat giliran menjadi mentor. Dengan senyum ramah, ia memulai sesi pelatihan membuat kue lumpur kentang—kudapan manis yang lembut dan digemari banyak orang.

Baca Juga:  Lazismu Benjeng Bantu Pemulihan Masjid Al-Furqon dan Dukung Dakwah PPEM

“Tenang, ini gampang. Siapa pun bisa buat,” ujarnya, memecah rasa canggung dan memantik tawa kecil dari peserta.

Di antara mereka, tampak Yunda Suliana memperhatikan dengan mata berbinar.
“Ini pertama kalinya saya belajar membuat kue lumpur,” tuturnya sambil tersenyum malu.

“Saya penasaran sekali karena belum pernah coba. Ternyata mudah. Sepertinya saya akan coba buat di rumah—siapa tahu bisa jadi ide jualan,” lanjutnya penuh harapan.

Aroma manis perlahan menyebar dari cetakan panas. Sesekali terdengar tawa ketika adonan tumpah atau bentuk kue tak sesuai harapan. Namun, justru pada momen-momen itulah kehangatan terasa: belajar bersama, tanpa tekanan, tanpa takut salah.

Para aktivis NA Desa Bulurejo, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, menunjukkan hasil belajar membuat kue lumpur sekaligus menggalang kepedulian soaial untuk bencana Sumatra, Ahad (7/12/25) (Tagar.co/Maria Hanim)

Kepedulian Sosial

Di sela kegiatan, para yunda tidak melupakan kepedulian sosial. Sebuah kotak donasi diletakkan di tengah area kegiatan. Satu per satu peserta menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu saudara-saudara di Sumatra yang sedang terdampak bencana. Tidak ada paksaan. Semua diberikan dari hati—menjadi bukti bahwa solidaritas dapat tumbuh di mana saja, bahkan di tengah aroma kue yang baru matang.

Baca Juga:  Silaturahmi Bukan Seremoni, Prof. Khozín: Ini Pilar Ketakwaan

Rutinan ini telah menjadi ruang aman bagi ibu-ibu muda Bulurejo untuk berkembang: ruang belajar keterampilan, memperkuat hubungan sosial, dan menumbuhkan nilai kemanusiaan. Di akhir acara, sambil menikmati hasil karya mereka sendiri, para yunda saling bertukar cerita, berbagi saran, dan menyusun rencana kecil untuk masa depan.

Hari itu, NA Bulurejo bukan hanya mengajarkan cara membuat kue lumpur kentang. Mereka menghadirkan sesuatu yang jauh lebih hangat: bahwa keterampilan, kebersamaan, dan kepedulian dapat berjalan seiring—menghangatkan hati sebagaimana lembutnya kue lumpur yang baru diangkat dari cetakan. (#)

Jurnalis Maria Hanim Penyunting Mohammad Nurfatoni