Feature

Belajar Ecoprint: Siswa SD Musix Surabaya Berkreasi dengan Teknik Pounding

31
×

Belajar Ecoprint: Siswa SD Musix Surabaya Berkreasi dengan Teknik Pounding

Sebarkan artikel ini
Para siswa kelas 6 SD Musix sdang asyik membuat batik ecoprint tehnik pukul atau pounding (Tagar.co/Basirun)

Dengan daun, kain, dan palu kayu, siswa SD Musix menciptakan ‘batik’ ecoprint yang unik. Proses kreatif ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mengenalkan seni ramah lingkungan sejak dini.

Tagar.co – Suara dentuman menggema dari lantai empat SD Muhammadiyah 6 Gadung (SD Musix) Surabaya. Beberapa siswa kelas lain terkejut dan bergegas keluar kelas untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Rupanya, suara itu berasal dari kelas 6 yang sedang sibuk berkarya dalam proyek batik ecoprint menggunakan teknik pounding atau pukul, Jum\at (07/02/2025).

“Ustazah, suara apa itu, kok berisik banget?” tanya Abdul Ghani Ar-Rosyid Bustami alias Ghani, siswa kelas 5-B, dengan wajah penasaran.

Baca juga: SD Musix Surabaya Kibarkan Semangat Patriotisme

Sang guru, Khusnul Khotimah, S.Pd., yang sedang mendampingi kegiatan tersebut tersenyum dan menjawab, “Kakak-kakak sedang berkarya, membuat ecoprint dengan teknik pounding atau pukul.”

Ecoprint adalah seni cetak alami menggunakan daun dan bunga pada kain, menciptakan motif unik dan ramah lingkungan. Kali ini, siswa kelas 6 Musix mencoba teknik pounding, di mana mereka menempelkan daun pada kain, lalu memukulnya dengan palu kayu agar warna alami daun terserap.

Kreativitas Anak-anak Musix Dimulai

Sejak pagi, alat dan bahan telah disiapkan: palu kayu, kertas koran, plastik, tote bag polos berbahan katun, serta berbagai jenis dedaunan segar yang dibawa dari rumah.

“Anak-anak, sesuai rencana, hari ini kita akan membuat batik ecoprint teknik pounding,” ujar Khusnul Khotimah, menjelaskan langkah-langkahnya dengan sabar.

Ia mencontohkan cara menempelkan dedaunan pada tote bag, memastikan tulang daun menyentuh kain agar motifnya tercetak sempurna. Setelah itu, plastik ditaruh di atasnya sebelum dipukul dengan palu kayu secara merata.

Tak sabar, Akbar Yusuf Hidayatullah dari kelas 6-A bertanya, “Bisa dimulai sekarang, Ustazah?”

Khusnul mengangguk. “Silakan! Jangan lupa pukul dengan merata supaya hasilnya bagus.”

Berkarya dengan Semangat

Suara ketukan palu pun mulai bersahutan, menciptakan irama khas di dalam kelas. Beberapa siswa bekerja dengan telaten, sementara yang lain tertawa kecil saat melihat hasil pertama mereka.

“Alhamdulillah, punyaku sudah selesai, Ustazah! Bagaimana selanjutnya?” seru Khusnuzen Putri Arief Rahayu, memamerkan tote bag-nya yang telah bermotif dedaunan.

Guru mereka segera mengarahkan, “Bersihkan sisa-sisa daun, biarkan hingga kering, lalu rendam dalam air selama satu jam untuk proses fiksasi.”

Para siswa mengikuti arahan dengan antusias. Setelah perendaman, tote bag-tote bag tersebut dijemur di lantai depan kelas, memperlihatkan keindahan motif alami yang mereka ciptakan sendiri.

Menumbuhkan Kreativitas dan Cinta Lingkungan

Kegiatan ini bukan hanya sekadar praktik seni, tetapi juga bagian dari Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), yang mengajarkan siswa untuk kreatif, mandiri, serta peduli terhadap lingkungan.

Dengan penuh kebanggaan, mereka mengamati hasil karya masing-masing, menyadari bahwa dari dedaunan sederhana, mereka bisa menciptakan sesuatu yang bernilai seni tinggi.

“Ternyata asyik ya, bikin batik tanpa harus mencelup-celupkan ke pewarna!” ujar salah satu siswa dengan senyum puas.

Sore itu, langit Surabaya tampak cerah. Sama seperti hati anak-anak Musix yang bersemangat, karena mereka telah membuktikan bahwa kreativitas bisa muncul dari mana saja—bahkan dari pukulan palu di atas selembar kain. (#)

Jurnalis Basirun Penyunting Muhammad Nurfatoni