Feature

Bahagia Itu Sederhana: Sehari Bersama Alumni di Blitar

32
×

Bahagia Itu Sederhana: Sehari Bersama Alumni di Blitar

Sebarkan artikel ini
Di Kampung Cokelat Blitar

Reuni sederhana Alumni SD Klimbungan Surabaya di Blitar membuktikan: bahagia tak butuh mewah. Naik kereta, makan bareng, ziarah, bercanda—cukup membuat hati ringan dan sehat.

Oleh dr. Mohamad Isa

Tagar.co – Kali ini, pada 20 Juni 2025, kami berkumpul kembali dalam reuni dan jalan-jalan bersama Alumni SD Negeri Klimbungan Surabaya, angkatan 1972. Tujuannya: dari Surabaya ke Blitar, pulang-pergi.

Perjalanan kami tempuh dengan Kereta Commuter Penataran (Surabaya–Blitar) dan Kereta Commuter Dhoho (Blitar–Surabaya). Harga tiketnya sangat terjangkau, hanya Rp15.000 sekali jalan. Jadi, total pulang-pergi hanya Rp30.000. Pembelian tiket dilakukan secara daring, memakai KTP masing-masing.

Di Kereta Penataran Surabaya Blitar

Perjalanan dengan Kereta

Tepat pukul 07.52, KA Penataran berangkat dari Stasiun Gubeng Surabaya. Kami berdua puluh orang duduk nyaman di dalam kereta ber-AC, lengkap dengan colokan HP. Susunan kursi: tiga di kanan, dua di kiri, saling berhadapan. Suasana akrab dan ceria membuat perjalanan terasa hangat.

Teman kami, Endang, membawakan nasi campur bungkus Undaan Peneleh untuk sarapan, hanya Rp12.000 seporsi. Rasa nasinya tentu enak, tetapi kebersamaanlah yang membuatnya lebih nikmat. Ada juga teman-teman lain yang membawa kue, kerupuk amplang, dan camilan lainnya.

Baca Juga:  Tenggarong yang Tenang: Menyusuri Jejak Sejarah dan Wajah Kota di Tepian Mahakam

Satu per satu stasiun kami lewati: Wonokromo, Waru, Malang Kota, Wlingi, hingga Blitar. Total ada 27 stasiun yang kami singgahi. Tepat pukul 12.52, kami tiba di Stasiun Blitar. Perjalanan lima jam terasa begitu cepat karena suasana hati yang gembira.

Menjelajah Kota Blitar

Selama di stasiun dan di dalam kereta, ketertiban sungguh terasa. Sistem tiket daring, petugas yang ramah dan sigap, serta kebersihan yang terjaga membuat kereta menjadi pilihan favorit masyarakat. Apalagi harga tiketnya sangat terjangkau.

Sesampainya di Blitar, kami dijemput kendaraan Long Elf yang sudah dipesan sebelumnya. Tujuan pertama: Kampung Coklat.

Tempat ini indah dengan taman pohon kakao dan berbagai produk olahan coklat. Tiket masuknya Rp20.000 per orang. Kami berkeliling sambil melihat proses tanam, pemeliharaan, hingga panen kakao yang kemudian diolah menjadi aneka produk coklat lezat. Bagi yang ingin, tersedia go car seharga Rp25.000 per orang untuk memutari area Kampung Coklat.

Destinasi berikutnya: Masjid Ar Rahman. Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga wisata religi. Arsitekturnya mirip Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, menambah khidmat suasana beribadah. Masjid megah ini dibangun oleh pengusaha asal Blitar.

Baca Juga:  Menelisik Resep Kemajuan Cina: Catatan Perjalanan ke Shenzhen
Di Masjid Ar-Rahman Blitar

Blitar Jadul

Kebetulan, di alun-alun Blitar sedang digelar Festival Blitar Jadul, bertepatan dengan hari kelahiran Bung Karno. Ada aneka pertunjukan, pameran UMKM, dan stan-stan OPD (Organisasi Perangkat Daerah). Suasananya meriah, penuh nostalgia.

Belum lengkap ke Blitar kalau belum berziarah ke Makam Bung Karno, Bapak Proklamasi kita. Selain makam, ada juga museum Bung Karno.

Kami pun sempat menengok situs-situs perjuangan Pahlawan Nasional Supriadi, pejuang PETA yang melawan penjajahan Jepang. Namanya kini diabadikan pada stadion sepak bola dan beberapa lembaga pendidikan di Blitar.

Kembali ke Surabaya

Setelah puas menjelajah Blitar, kami kembali ke Surabaya di hari yang sama, naik Kereta Commuter Dhoho. Tepat pukul 17.20 kereta berangkat, melintasi Malang, dan akhirnya tiba di Surabaya pukul 22.20. Lima jam perjalanan pulang pun terasa singkat karena hati yang riang.

Bersama teman-teman masa kecil, fasilitas sederhana pun terasa istimewa. Tawa dan canda membuat semuanya lebih berarti.

Teman kami, Sulaiman, awalnya ragu ikut karena kondisi kesehatan. Setelah dibujuk dan didampingi, ia akhirnya bergabung. Ternyata, sepanjang perjalanan, ia tampak bahagia dan justru lebih bugar.

Baca Juga:  Ingin Damai tapi Mengajak Perang

Ada juga Asrori, teman kami yang lihai memijat. Sambil bercanda, ia memijat satu per satu teman, membuat badan terasa ringan dan perjalanan jauh tak terasa melelahkan.

Bahagia Itu Sederhana

Bahagia itu bukan soal fasilitas mewah, tetapi hati yang bersyukur. Hati yang lapang membuat segalanya terasa cukup.

Bahagia atau tidaknya seseorang, tergantung hatinya. Pandai bersyukur adalah bagian dari kunci kebahagiaan. Hati yang bahagia membuat tubuh pun sehat.

Surabaya, 21 Juni 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni