
Aset wakaf Muhammadiyah hampir semua selesai didata. Sepuluh tanah sudah jadi sertifikatnya. Kini giliran pendataan tanah wakaf PCM Klakah.
Tagar.co – Sore itu jalanan menuju Klakah padat merayap. Pembangunan jembatan membuat kendaraan tak bisa melaju cepat. Padahal dari Gedung Dakwah Muhammadiyah Lumajang ke Klakah mestinya hanya butuh waktu 30 menit.
Tim Satgas Percepatan Wakaf tetap berangkat seperti biasa, menembus kemacetan demi satu tujuan: menyisir aset-aset wakaf milik Muhammadiyah. Hari itu, Kamis, 7 Agustus 2025.
Di balik kaca mobil, Muhammad Lutfi Aqil terlihat mengecek jam. Ketua Satgas Percepatan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lumajang itu memimpin langsung perjalanan ke Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Klakah. Ini kunjungan ke sepuluh timnya sejak tugas dimulai.
Usai salat Magrib, acara dimulai tanpa banyak pembukaan. Lutfi langsung menyampaikan maksud kedatangan.
“Kami datang untuk mendata aset-aset Muhammadiyah yang ada di PCM Klakah. Mohon bantuannya agar informasi yang diberikan valid dan lengkap,” ujarnya singkat.
Ia menambahkan, dari seluruh PCM yang ada di Lumajang, timnya menargetkan dalam tiga bulan awal bisa mendatangi semuanya.
“Mengingat masa tugas kami hanya satu tahun. Tapi alhamdulillah, sudah ada progres,” jelasnya.
Progres yang dimaksud bukan omong kosong. Lutfi menyebut, bersama Majelis Wakaf, pihaknya sudah menyelesaikan sepuluh sertifikat.
Lima sudah diterima tim, sementara lima lainnya masih dipegang oleh Mas Budiono, salah satu anggota majelis wakaf.
“Kami juga dibantu Badan Wakaf Indonesia, Kementerian Agama, dan BPN. Ini kerja kolaboratif, bukan jalan sendiri-sendiri,” katanya.
Lutfi mengatakan, urusan administrasi wakaf seringkali berbelit jika tak dikerjakan bersama.
Maka, di forum malam itu ia menegaskan: bagi PCM Klakah yang masih punya aset belum diikrarkan wakafnya, atau belum bersertifikat, segeralah diajukan.
“Mumpung pemerintah sedang memfasilitasi percepatan proses wakaf, jangan disia-siakan,” pesannya.
Sementara itu, Qomarudin Martayuwana, salah satu PCM Klakah, memaparkan bahwa aset Muhammadiyah di wilayahnya cukup banyak.
“Ada tanah wakaf yang dulu digunakan untuk mendirikan SMP Muhammadiyah. Meski sekolahnya sekarang sudah tidak berjalan, bangunannya masih berdiri,” tuturnya.
Ia juga menyebut Masjid Ar-Rahma wakaf dari keluarga H. Herman Afandi. Masjid tersebut sudah bersertifikat atas nama Muhammadiyah. “Tinggal menunggu momen saja untuk diserahkan ke PDM,” ujarnya.
Di lokasi yang sama, tepatnya di sekitar masjid, terdapat pelebaran tanah seluas 5×7 meter persegi, yang juga merupakan wakaf dari keluarga H. Herman.
Namun, pelebaran tersebut masih dalam proses ikrar wakaf. “Insyaallah akan segera kami urus,” kata Qomarudin.
Selain itu, di Desa Kudus, PCM Klakah juga memiliki tanah wakaf yang telah digunakan untuk membangun masjid dan TK ABA, serta Klinik Umamah. Ada pula tanah pertanian seluas 3.107 meter persegi yang kini ditanami padi.
“Dan dalam waktu dekat, akan ada lagi tanah wakaf seluas 10×20 meter persegi yang akan diberikan kepada Muhammadiyah. Rencananya akan kita bangun Gedung Dakwah Muhammadiyah untuk PCM Klakah,” jelasnya.
Dengan rincian itu, Qomarudin menyebut total ada sekitar tujuh titik aset Muhammadiyah di wilayah PCM Klakah. “Semua akan kami kawal agar proses sertifikasi dan ikrar wakafnya bisa tuntas,” pungkasnya.
Di akhir pertemuan, Qomarudin yang juga menjabat Sekretaris PCM Klakah, mengajak semua yang hadir untuk makan malam bersama.
Ia sudah menyiapkan sajian nasi goreng khas Klakah yang hangat mengepul. “Ayo makan dulu, biar nanti kalau pulang kejebak macet tidak lapar,” ucapnya sambil tersenyum.
Setelah makan malam, tim Satgas berpamitan dan berfoto bersama untuk dokumentasi perjalanan kerja. Usai sesi foto, mereka memilih tidak kembali lewat jalur saat berangkat.
Untuk menghindari kemacetan, rombongan pulang melalui jalur alternatif yang melintasi perkebunan tebu milik warga Klakah yang sepi dan cepat sampai. (#)
Jurnalis Kuswantoro Penyunting Sugeng Purwanto












