Feature

Air Mata Kepala Sekolah Iringi Perpisahan Siswa SD Almadany

30
×

Air Mata Kepala Sekolah Iringi Perpisahan Siswa SD Almadany

Sebarkan artikel ini
Di bawah rindangnya pohon pule, perpisahan siswa kelas VI SD Almadany berubah menjadi lautan haru. Kepala sekolah menangis, menyampaikan pesan penuh cinta, dan menyerahkan anak-anak kembali ke pelukan orang tua.
Kepala SD Almadany, Nur Aini, S.Pd., M.Pd saat menyampakian sambutan. Matanya sembab oleh ari mata.  (Tagar.co/Mahfudz Efendi)

Di bawah rindangnya pohon pule, perpisahan siswa kelas VI SD Almadany berubah menjadi lautan haru. Kepala sekolah menangis, menyampaikan pesan penuh cinta, dan menyerahkan anak-anak kembali ke pelukan orang tua.

Tagar.co — Suasana haru menyelimuti halaman gedung lama SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany), Gresik, Jawa Timur, Kamis (12/6/2025) pagi. Di bawah naungan rindang pohon pule, udara terasa lebih teduh dari biasanya—seolah turut memahami bahwa hari itu bukan hari biasa.

Hari ini, adalah momen perpisahan siswa kelas VI. Hari yang sarat makna, mengharukan, dan tak sedikit yang menitikkan air mata. Salah satunya adalah Kepala SD Almadany, Nur Aini, S.Pd., M.Pd., yang tak kuasa menahan haru saat menyampaikan sambutannya di hadapan para orang tua, guru, dan siswa.

Baca juga: Pesan Perpisahan SD Almadany: 4 Bekal yang Tak Tertulis di Ijazah

Dengan suara bergetar, Nur Aini mengucapkan terima kasih kepada seluruh wali murid yang telah mempercayakan putra-putrinya untuk tumbuh dan belajar di sekolah berbasis alam ini.

Baca Juga:  Malam Abata SD Almadany, Tiga Kunci Meraih Sukses

“Hari ini kami serahkan kembali ananda ke pelukan ayah bunda untuk melangkah lebih tinggi,” ucapnya, menahan isak.

Momen tersebut seolah menjadi simbol betapa eratnya hubungan emosional antara guru dan siswa di SD Almadany. Nur Aini tak hanya melepas secara formal, tapi juga dengan sepenuh hati.

Ia berpesan agar anak-anak Almadany senantiasa menjaga adab, menghormati orang tua dan guru, serta siap berbuat baik kepada siapa pun yang mereka temui dalam perjalanan hidup.

Ia mengajak para siswa untuk menjadikan Rasulullah Muhammad Saw sebagai teladan utama: Yang sidik, menjunjung tinggi kejujuran dan integritas; Yang tablig, menyampaikan kebenaran, sekaligus menjadi teladan dalam laku keseharian; Yang amanah, bisa dipercaya, dan dapat mempertanggungjawabkan ucapan serta tindakan; dan Yang fatanah, cerdas dalam berpikir dan bijak dalam bertindak.

Pesan ini ia sampaikan bukan sekadar nasihat, melainkan sebagai bekal hidup bagi anak-anak yang akan segera melangkah ke jenjang berikutnya.

Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PRM Kedanyang Supriono Imam Sampurno, M.Si. dalam acara pisah pasrah siswa SD Almadany (Tagar.co/Mahfudz Efendi)

Anak Aset Orang Tua

Sambutan penuh makna juga disampaikan oleh Ketua Majelis Dikdasmen PRM Kedanyang, Supriono Imam Sampurno, M.Si. Dengan suara mantap, ia menegaskan bahwa anak adalah titipan yang harus dipersiapkan dengan sebaik mungkin.

Baca Juga:  Adab Pergaulan Menjelang Balig Dibahas dalam PKDA SD Almadany

“Yang harus kita persiapkan dengan sebaik mungkin, agar kelak mereka mampu menjadi anak sholeh sholehah untuk kebahagiaan kita saat tua,” ujarnya.

Supriono juga mengungkapkan rasa harunya atas kehadiran banyak ayah dalam acara tersebut, sesuatu yang menurutnya jarang terjadi dalam acara serupa.

“Di Almadany istimewa, banyak bapaknya juga. Semoga kehadiran ayah bunda membawa keberkahan, motivasi buat ananda,” tambahnya.

Baca juga: Momen Haru di Bawah Pohon Pule: Pisah Pasrah Siswa SD Almadany

Ia menyampaikan terima kasih atas peran serta orang tua dalam mendukung kegiatan sekolah selama ini. Ia juga memohon maaf jika ada kekurangan pelayanan, dan menyampaikan harapan besar untuk masa depan Almadany.

“Insyaallah ke depan akan ada cita-cita untuk mewujudkan SMP Almadany juga,” ungkapnya penuh semangat.

Menutup sambutannya, Supriono memberikan pesan yang terinspirasi dari Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno:

“Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Andai nanti gagal, setidaknya bisa jatuh di sekitar gugusan bintang.”

Sore itu, halaman SD Almadany tak hanya menjadi saksi sebuah perpisahan, tapi juga tempat tertanamnya doa-doa, harapan, dan cinta yang begitu dalam dari para pendidik kepada anak-anak bangsa.

Baca Juga:  Surga Gratis, tetapi Harus Diperjuangkan

Sebuah perpisahan yang tak hanya mengantarkan siswa menuju masa depan, tetapi juga mengikat hati dalam kenangan yang akan selalu hidup. (#)

Jurnalis Mahfudz Efendi Penyunting Mohammad Nurfatoni