Buku

Abi Jangan Duakan Umi: Kisah-Kisah Luka yang Tak Tertulis di Buku Nikah

49
×

Abi Jangan Duakan Umi: Kisah-Kisah Luka yang Tak Tertulis di Buku Nikah

Sebarkan artikel ini
Buku Abi Jangan Duakan Umi

Abi Jangan Duakan Umi menyajikan kisah poligami dari dalam—bukan dari panggung ceramah, melainkan dari luka, cinta, dan keikhlasan yang tumbuh diam-diam, lalu menumpuk jadi air mata.

Resesni buku oleh Rizki Putra Dewantoro, Komunitas Literasi Iqro Movement

Tagar.co – Bagi sebagian orang, poligami adalah topik yang tabu—sering dibicarakan, tapi nyaris selalu dengan suara pelan, seolah tak pantas disuarakan lantang. Namun, bagi sebagian yang lain, memiliki lebih dari satu istri justru dianggap prestise, bahkan dipamerkan dengan bangga.

Kita tentu masih ingat bagaimana seorang anggota dewan membawa ketiga istrinya ke pelantikan: tampil serasi dalam kebaya biru, tersenyum penuh harmoni di depan kamera.

Fenomena poligami sejatinya bukan gejala baru dalam masyarakat kita. Meski tampak meredup secara statistik, wajahnya terus berubah dan tetap menghantui banyak rumah tangga.

Mengutip data dari Historia dan Kementerian Agama, jumlah kasus poligami yang tercatat resmi menunjukkan penurunan: dari 995 kasus pada 2012 menjadi 643 kasus pada 2016.

Namun angka itu belum tentu mencerminkan kenyataan. Sebab, banyak praktik poligami terjadi tanpa pencatatan negara—sembunyi-sembunyi, seperti bisikan yang hanya terdengar oleh mereka yang terlibat.

Ada banyak alasan di balik keputusan berpoligami. Ada yang karena dorongan agama, ada pula karena desakan ekonomi, emosi, bahkan nafsu.

Ada istri yang terpaksa menerima, ada pula yang justru mencarikan calon istri kedua bagi suaminya. Ada yang melakukannya dengan semangat mulia, ada juga yang membungkus ambisi pribadi dengan dalih syariat. Poligami memiliki ribuan wajah—dan jutaan konsekuensi.

Buku Abi Jangan Duakan Umi karya Jaja Zarkasyi hadir sebagai cermin reflektif bagi kita untuk menatap wajah-wajah itu lebih jernih. Tanpa menghakimi, Kang Jeje—begitu ia akrab disapa—mengajak kita menelusuri seluk-beluk poligami melalui cerita-cerita yang mengaduk emosi dan menggugah hati nurani.

Kisah-kisahnya hadir dari berbagai latar: dari pelataran Masjidilharam di Makkah hingga pinggiran Kuningan, dari seminar di Iran sampai pesisir Palu. Semua disampaikan dengan gaya narasi personal, lewat sudut pandang “aku” yang kadang menjadi narator, kadang menjadi tokoh yang terpapar langsung pusaran poligami.

Inilah kekuatan buku ini: membaurkan elemen fiksi dan nonfiksi dengan piawai. Terkadang kita merasa sedang membaca kisah nyata yang menyayat, terkadang seperti sedang menikmati cerpen sarat makna. Persis seperti poligami itu sendiri: kompleks, tak hitam-putih, penuh nuansa.

Dari sisi hukum, poligami memang memiliki legitimasi dalam Undang-Undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI). Namun pelaksanaannya tak semudah membalik telapak tangan. Harus ada izin pengadilan agama, persetujuan istri pertama, dan kemampuan untuk berlaku adil lahir dan batin—sebuah standar yang tidak mudah dicapai.

Praktik poligami kerap menimbulkan luka emosional, ketimpangan ekonomi, bahkan trauma bagi anak-anak. Di sisi lain, laki-laki yang menjalaninya pun tak lepas dari tekanan moral, sosial, dan finansial.

Di tengah semua itu, buku ini hadir sebagai ruang kontemplasi. Ia tidak menggurui, tetapi menawarkan pengalaman batin. Ia tidak mendikte, tetapi membuka ruang tafsir. Kang Jeje berhasil menjadikan buku ini sebagai bacaan yang bisa disantap sambil bersantai, tapi juga menyisakan rasa pahit yang membuat kita termenung lama.

Pada akhirnya, Abi Jangan Duakan Umi bukan sekadar cerita tentang poligami. Ia adalah cerita tentang cinta, luka, keikhlasan, dan perjuangan banyak perempuan yang seringkali hanya terdengar dalam diam.

Identitas Buku

  • Judul: Abi Jangan Duakan Umi

  • Penulis: Jaja Zarkasyi

  • Penerbit: Notula Digita Investama (NADI), Tangerang

  • Tahun Terbit: 2023

  • Jumlah Halaman: xii + 278 hlm

Penyunting Mohammad Nurfatoni