Opini

Menimbang Ulang Dua Pilar Pendidikan Bangsa

42
×

Menimbang Ulang Dua Pilar Pendidikan Bangsa

Sebarkan artikel ini

 

Menimbang
Anang Dony Irawan

Di Hari Pendidikan Nasional ada satu nama yang kerap luput dari sorotan publik, yakni Ahmad Dahlan, tokoh pembaharu pendidikan Islam yang tak kalah penting dalam mencerdaskan bangsa.

Oleh Anang Dony Irawan, Dosen Umsura

Tagar.co – Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai momentum refleksi terhadap perjalanan panjang pendidikan nasional.

Tanggal ini dipilih untuk menghormati jasa Ki Hajar Dewantara, sosok yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional.

Namun, dalam narasi besar tersebut, ada satu nama lain yang kerap luput dari sorotan publik, yakni Ahmad Dahlan, tokoh pembaharu pendidikan Islam yang tak kalah penting dalam mencerdaskan bangsa.

Kedua tokoh ini hidup dalam bayang-bayang kolonialisme, dan sama-sama menjadikan pendidikan sebagai alat perjuangan.

Namun, pendekatan yang mereka tempuh memiliki corak yang berbeda. Ahmad Dahlan melalui Muhammadiyah menekankan integrasi ilmu agama dan ilmu umum.

Ia menolak dikotomi pendidikan yang memisahkan keduanya, dan justru memadukannya sebagai fondasi membentuk manusia beriman sekaligus berilmu.

Di sisi lain, Ki Hajar Dewantara melalui Taman Siswa mengembangkan sistem pendidikan yang berakar pada kebudayaan nasional.

Baca Juga:  Rektor UMM: Pendidikan Tinggi Harus Jadi Motor Solusi Zaman

Konsep “among” yang ia gagas menempatkan guru sebagai penuntun, bukan penguasa.

Trilogi pendidikannya, _Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani_ yang hingga kini menjadi filosofi yang melekat dalam dunia pendidikan Indonesia.

Secara prinsip, keduanya memiliki kesamaan mendasar: menolak sistem pendidikan kolonial yang diskriminatif dan tidak memihak rakyat.

Pendidikan bagi mereka bukan sekadar transfer ilmu, tetapi proses pembentukan manusia merdeka, baik secara intelektual, moral, maupun sosial. Namun, perbedaan orientasi tetap terlihat jelas.

Ahmad Dahlan bergerak dari basis religius menuju modernitas, sementara Ki Hajar Dewantara bergerak dari basis kebudayaan menuju kemerdekaan berpikir.

Fakta sejarah menunjukkan bahwa Muhammadiyah berdiri lebih awal, yakni pada 1912, sementara Taman Siswa baru berdiri pada 1922.

Dari segi kiprah kelembagaan, Muhammadiyah hingga kini terus berkembang dengan jaringan pendidikan yang tersebar luas dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Sementara itu, eksistensi Taman Siswa memang tidak sekuat dulu dalam wacana publik, meskipun warisan pemikirannya tetap hidup dalam sistem pendidikan nasional.

Baca Juga:  Hak Bekerja Dijamin Konstitusi, tapi Pelamar Bisa Ditolak karena Tidak Good Looking

Di sinilah pentingnya sikap adil dalam membaca sejarah. Narasi pendidikan nasional tidak seharusnya dimonopoli oleh satu tokoh saja.

Mengangkat Ki Hajar Dewantara sebagai simbol bukan berarti mengecilkan kontribusi Ahmad Dahlan. Justru, keduanya perlu ditempatkan sebagai dua pilar yang saling melengkapi: Dahlan dengan fondasi iman, ilmu, dan amal; Dewantara dengan semangat kemerdekaan, budaya, dan kemanusiaan.

Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi ruang refleksi yang lebih luas, bahwa pendidikan Indonesia dibangun oleh banyak tangan dan banyak gagasan.

Mengingat kembali peran Ahmad Dahlan bukan untuk membandingkan secara sempit, tetapi untuk melengkapi pemahaman kita tentang akar pendidikan bangsa.

Masa depan pendidikan Indonesia tidak cukup hanya bertumpu pada romantisme sejarah.

Ia membutuhkan keberanian untuk mengintegrasikan nilai-nilai besar dari kedua tokoh tersebut: keimanan yang mencerahkan dan kemerdekaan yang membebaskan.

Tanpa itu, pendidikan akan kehilangan arah dan bangsa ini berisiko kehilangan jati dirinya. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto