Feature

Kolaborasi Kampus–Industri: Mahasiswa S3 Pendidikan Biologi UM Mendalami Infrastruktur Berkelanjutan 

82
×

Kolaborasi Kampus–Industri: Mahasiswa S3 Pendidikan Biologi UM Mendalami Infrastruktur Berkelanjutan 

Sebarkan artikel ini
Diskusi daring ini membuka perspektif baru tentang bagaimana jalan tol tak sekadar konektivitas, tetapi juga ruang praktik nyata pembangunan berkelanjutan.
Diskusi daring mahasiswa S3 UM bersama MHI mengangkat konsep “Menjadi Tetangga yang Baik” melalui program Jomo Peduli. Empat pilar—Jomo Sehat, Jomo Cerdas, Jomo Hijau, dan Jomo Kreatif—menunjukkan komitmen perusahaan dalam memberikan dampak sosial dan lingkungan bagi masyarakat sekitar. (Tagar.co/Eka Imbia Agus Diartika)

Diskusi daring ini membuka perspektif baru tentang bagaimana jalan tol tak sekadar konektivitas, tetapi juga ruang praktik nyata pembangunan berkelanjutan.

Tagar.co – Mahasiswa Program Doktor (S3) Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang (UM) yang menempuh mata kuliah Global Sustainability Social Responsibility mengikuti diskusi akademik bersama PT Marga Harjaya Infrastruktur (MHI).

Kegiatan yang bertujuan bertujuan memperluas wawasan mahasiswa mengenai keterkaitan antara pembangunan infrastruktur, pengelolaan lingkungan, dan prinsip keberlanjutan dalam praktik lapangan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom pada Ahad (27/4) pukul 15.00 WIB.

Baca juga: Sakatek Bekali Remaja Tulungagung Keterampilan Branding dan Konten Viral untuk Dongkrak Usaha

Hadir sebagai narasumber dari MHI, yakni Bayu Raditya A., Dela Rosita, dan Hadi Widodo, serta didampingi dosen pengampu mata kuliah, Prof. Dr. Fatchur Rohman, M.Si. Forum ini menjadi ruang dialog antara dunia akademik dan industri dalam memahami implementasi pembangunan berkelanjutan secara nyata.

Pada sesi awal, Dela Rosita memaparkan profil PT Marga Harjaya Infrastruktur sebagai pengelola ruas Tol Jombang–Mojokerto (Jomo), yang merupakan bagian dari jaringan Tol Trans Jawa. Ia menjelaskan bahwa jalan tol sepanjang 40,5 kilometer tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana konektivitas wilayah, tetapi juga menjadi ruang implementasi berbagai program keberlanjutan perusahaan.

Baca Juga:  Takakura dan Ecobrick, Cara Siswa SMK Negeri 3 Malang Mengubah Sampah Jadi Solusi

“Kami tidak hanya berfokus pada layanan operasional jalan tol, tetapi juga berupaya menghadirkan manfaat sosial dan lingkungan bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional,” ujar Dela.

Lebih lanjut, Dela menjelaskan bahwa implementasi tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) MHI dikembangkan melalui kerangka Astra Friendly Company (AFC), yang menekankan keseimbangan antara pencapaian bisnis, kontribusi sosial, dan kepedulian lingkungan. Pendekatan tersebut mengantarkan perusahaan meraih predikat bintang lima pada tahun 2025.

Diskusi daring ini membuka perspektif baru tentang bagaimana jalan tol tak sekadar konektivitas, tetapi juga ruang praktik nyata pembangunan berkelanjutan.
Dalam pertemuan daring ini, mahasiswa S3 UM juga mendalami implementasi program JOMO Hijau, mulai dari ketahanan pangan, pengelolaan sampah melalui TPS 3R dan bank sampah, hingga capaian penghargaan Program Kampung Iklim tingkat Provinsi Jawa Timur. (Tagar.co/Eka Imbia Agus Diartika)

MHI juga mengembangkan empat pilar program sosial, yaitu Jomo Sehat, Jomo Cerdas, Jomo Hijau, dan Jomo Kreatif, yang difokuskan pada pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional Tol Jombang–Mojokerto.

“Empat pilar ini dirancang agar manfaat perusahaan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, baik dalam aspek kesehatan, pendidikan, lingkungan, maupun penguatan ekonomi lokal,” jelasnya.

Pada pilar Jomo Sehat, perusahaan menjalankan program donor darah, Duta CERIA untuk pencegahan anemia pada remaja putri, serta penguatan layanan posyandu. Pilar Jomo Cerdas diwujudkan melalui program pendidikan seperti Paguyuban Sahabat PAUD Astra (Puspa), pesantren binaan, dan kegiatan Jomo Mengajar.

Baca Juga:  Jejak Saninten dan Tungurut di Jawa kian Menyempit di Tengah Perubahan Iklim

Sementara itu, pilar Jomo Kreatif diwujudkan melalui penyediaan ruang usaha berupa pujasera bagi pelaku UMKM lokal dengan melibatkan 12 tenant sebagai bagian dari penguatan ekonomi masyarakat.

Adapun pada pilar Jomo Hijau, perusahaan menjalankan berbagai program berbasis lingkungan, seperti pengelolaan sampah melalui TPS 3R dan bank sampah, dukungan teknologi pertanian, hingga program ketahanan pangan. Program ini bahkan meraih penghargaan Program Kampung Iklim (ProKlim) kategori utama tingkat Provinsi Jawa Timur pada 2024.

Dalam sesi diskusi, mahasiswa dan pihak kampus mengangkat peluang kolaborasi dengan MHI, khususnya dalam pengembangan program pengelolaan sampah yang terintegrasi dengan edukasi masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Hadi Widodo menegaskan bahwa keberlanjutan tidak cukup berhenti pada implementasi teknis, tetapi perlu diperkuat dengan dimensi pendidikan.

“Program lingkungan akan berdampak lebih luas ketika masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga memahami nilai edukatif di baliknya,” ujarnya.

Senada dengan itu, Bayu Raditya A. menekankan bahwa kolaborasi dengan perguruan tinggi memiliki potensi besar dalam memperkuat inovasi sosial dan lingkungan berbasis riset serta pengabdian masyarakat.

Baca Juga:  Reu Balacung: Si “Gulma” yang Jadi Perban Alami Andalan Masyarakat Enrekang

“Kampus merupakan mitra strategis dalam membangun program keberlanjutan yang inovatif, terukur, dan berdampak jangka panjang,” tuturnya.

Secara keseluruhan, kegiatan ini memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai pentingnya integrasi antara pembangunan infrastruktur, aspek sosial, dan lingkungan dalam kerangka keberlanjutan.

Diskusi ini sekaligus memperkuat perspektif interdisipliner mahasiswa dalam mengkaji isu lingkungan secara kontekstual, sejalan dengan pendekatan Education for Sustainable Development (ESD). (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni