Feature

Takakura dan Ecobrick, Cara Siswa SMK Negeri 3 Malang Mengubah Sampah Jadi Solusi

227
×

Takakura dan Ecobrick, Cara Siswa SMK Negeri 3 Malang Mengubah Sampah Jadi Solusi

Sebarkan artikel ini
Peserta, narasumber, dan panitia berfoto bersama usai kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema praktik pengelolaan sampah melalui metode Takakura dan Ecobrick di SMK Negeri 3 Malang, Jumat (10/4/2026). (Tagar.co/Eka Imbia Agus Diartika)

Antusiasme siswa terlihat saat mereka mengolah sisa dapur menjadi kompos dan memadatkan plastik menjadi ecobrick, menghadirkan pembelajaran lingkungan yang aplikatif dan berkelanjutan.

Tagar.co – Tumpukan sisa sayuran dan botol plastik yang biasanya berakhir di tempat pembuangan justru menjadi bahan pembelajaran berharga di SMK Negeri 3 Malang, Jawa Timur.

Pada Jumat pagi (10/4/2026), para siswa Kelas X Kuliner dengan tekun mencampur sampah organik dan memadatkan plastik ke dalam botol, mengubah limbah menjadi kompos dan ecobrick yang bernilai guna.

Baca juga: Saatnya Mahasiswa Jadi Penggerak Bisnis Hijau

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dilaksanakan dalam rangka tugas mata kuliah Global Sustainability and Social Responsibility (GSSR) Program Doktor (S3) Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang.

Selain siswa, kegiatan ini juga melibatkan guru, koordinator Adiwiyata, serta staf sekolah sebagai upaya bersama menumbuhkan kesadaran lingkungan di lingkungan pendidikan.

Dalam sambutannya, dosen pembimbing, Prof. Mimien Henie Irawati Al Muhdhar, M.S., menegaskan bahwa pendidikan lingkungan perlu diwujudkan melalui praktik nyata. Ia berharap kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk kebiasaan berkelanjutan dalam pengelolaan sampah.

Siswa SMK Negeri 3 Malang menambahkan larutan EM4 ke dalam campuran sampah organik pada praktik metode Takakura. Proses ini berfungsi mempercepat fermentasi dan menghasilkan kompos yang ramah lingkungan. (Tagar.co/Eka Imbia Agus Diartika)

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Kepala Sekolah, Ivalatul Latifah, S.Pd., M.M., yang mengapresiasi pelaksanaan program tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap sekolah berwawasan lingkungan atau Adiwiyata.

Antusiasme siswa semakin terasa saat sesi praktik dimulai, dipandu oleh dua narasumber, Muhammad Khalil dan Rahman Fadli.

Di bawah bimbingan Rahman Fadli, para siswa mempelajari metode Takakura, yaitu teknik pengolahan sampah organik menjadi kompos skala rumah tangga. Prosesnya dimulai dengan menyiapkan keranjang yang dilapisi kardus untuk menjaga kelembapan, kemudian menambahkan bantalan sekam sebagai media sirkulasi udara.

Sampah organik yang telah dipotong kecil-kecil dicampur dengan kompos matang sebagai starter serta ditambahkan larutan EM4 untuk mempercepat proses fermentasi. Khalil menekankan pentingnya keseimbangan komposisi bahan dan sirkulasi udara agar proses penguraian berlangsung optimal tanpa menimbulkan bau.

Dengan teliti, siswa SMK Negeri 3 Malang memadatkan potongan plastik ke dalam botol sebagai bagian dari pembuatan ecobrick, sebuah inovasi sederhana yang mengubah limbah plastik menjadi bahan bangunan alternatif yang bernilai guna. (Tagar.co/Eka Imbia Agus Diartika)

Sementara itu, pada sesi ecobrick, Muhammad Fadli mengajak siswa memanfaatkan sampah plastik menjadi produk yang memiliki nilai guna. Botol dan plastik yang telah dibersihkan serta dikeringkan diisi dengan potongan plastik yang dipadatkan menggunakan stik hingga tidak menyisakan rongga udara.

Menurut Fadli, kepadatan isi botol menjadi kunci utama dalam menghasilkan ecobrick yang kuat dan tahan lama, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan alternatif untuk kursi, meja, maupun elemen konstruksi sederhana yang ramah lingkungan.

Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab yang diikuti dengan antusias oleh para peserta. Panitia juga menyediakan doorprize bagi siswa yang aktif, termasuk mereka yang tercepat menyelesaikan pretest dan posttest. Evaluasi melalui posttest menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai pengelolaan sampah berkelanjutan.

Sebagai penutup, hasil produk praktik diserahkan secara simbolis dan kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama seluruh peserta. Lebih dari sekadar kegiatan edukatif, program ini meninggalkan pesan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah sederhana dan dilakukan oleh siapa saja.

Melalui kegiatan ini, siswa SMK Negeri 3 Malang tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa setiap individu memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian lingkungan. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini berubah menjadi simbol kreativitas dan harapan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. (#)

Jurnalis Eka Imbia Agus Diartika Penyunting Mohammad Nurfatoni