Cerpen

Lapisan Debu yang Tersisa

108
×

Lapisan Debu yang Tersisa

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Di antara kaca yang selalu bersih dan mobil yang terus datang, Arka menemukan sesuatu yang tak bisa dihapus begitu saja: dirinya sendiri.

Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Pagi di kota pesisir itu selalu datang dengan dingin yang menggigit dan kabut tipis yang menggantung rendah di atas jalanan.

Di sudut yang tak terlalu ramai, berdiri sebuah pompa bensin kecil yang justru tak pernah benar-benar sepi. Bukan karena letaknya strategis, melainkan karena sesuatu yang sulit dijelaskan oleh orang yang baru pertama datang.

Baca juga: Tanpa Amplop, Aku Ditulis sebagai Pemberi Terbesar

Setiap mobil yang berhenti seolah memasuki ruang yang memperlakukan mereka lebih dari sekadar pelanggan.

Arka berdiri dengan seragam yang mulai kusam. Ia menggosok kedua tangannya, mencoba mengusir dingin yang merambat sampai ke tulang. Ia bekerja di sana bukan karena mimpi, melainkan karena tidak ada pilihan lain setelah kuliahnya terhenti di tengah jalan. Di ponselnya, pesan dari ibunya belum ia balas sejak semalam. Ia sudah tahu isinya: menanyakan kiriman bulan ini.

Setiap kendaraan yang masuk disambut seperti tamu lama yang dirindukan. Arka membuka pintu dengan senyum yang ia latih berulang-ulang di depan cermin kamar kosnya. Penumpang dipersilakan turun.

Tangannya bergerak cepat—menyapu debu di sela jok, merapikan karpet, mengelap dashboard sampai mengilap. Di sampingnya, rekan kerjanya memeriksa oli. Yang lain mengisi bahan bakar dan mengelap kaca hingga bening tanpa noda.

Baca Juga:  Doa para Nabi Menembus Ketidakpastian

Semua bergerak tanpa aba-aba.

Awalnya Arka menganggap itu berlebihan. Tidak ada yang benar-benar memperhatikan, pikirnya. Namun suatu hari, seorang pelanggan menahan pintu mobil lebih lama dari biasanya. Ia memandang Arka, lalu tersenyum kecil sebelum pergi. Hari berikutnya, mobil yang sama datang lagi.

Hal-hal kecil seperti itu mulai menumpuk.

Malam hari justru menjadi waktu paling berat. Di kamar sempitnya, Arka sering menatap langit-langit terlalu lama. Ia membuka media sosial, melihat teman-temannya mengenakan kemeja rapi, duduk di ruang ber-AC, tersenyum di depan layar laptop. Ia menutup aplikasi itu cepat-cepat, tetapi bayangannya tertinggal.

Ia menarik selimut lebih tinggi, tapi rasa dingin tidak benar-benar hilang.

Suatu siang, sebuah mobil hitam berhenti di jalurnya. Mesin halus, nyaris tak bersuara. Seorang pria paruh baya turun dengan gerakan tenang. Tatapannya tajam, seperti sedang menilai sesuatu yang tidak terlihat.

Arka tetap bekerja seperti biasa.

Ia membuka pintu, menyapa singkat, lalu mulai membersihkan bagian dalam mobil. Di sela kursi, ia menemukan selembar kertas yang hampir terjatuh. Ia memungutnya dan menyerahkan kembali.

“Ini tertinggal, Pak.”

Baca Juga:  Hisab Seorang Istri

Pria itu menerima tanpa senyum. Hanya anggukan kecil. Matanya tidak lepas dari Arka.

Saat mengelap kaca depan, Arka melihat pantulan dirinya sendiri. Wajah lelah. Seragam kusam. Untuk sesaat, tangannya berhenti. Ia menatap bayangan itu lebih lama dari seharusnya.

Lalu ia melanjutkan.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Mobil datang dan pergi. Senyum diberikan, ucapan terima kasih dibalas. Namun bayangan tentang kemungkinan—sekecil apa pun—sesekali muncul, lalu menghilang begitu saja.

Arka mulai menertawakan dirinya sendiri.

Suatu sore, pemilik pompa bensin memanggilnya ke ruangan kecil di belakang. Udara di dalam terasa lebih hangat, tetapi dadanya justru menegang. Di sana, pria paruh baya itu sudah berdiri.

Arka langsung mengenalinya.

“Duduk,” kata pemilik itu singkat.

Tidak ada basa-basi.

“Kami memperhatikan kalian,” lanjutnya, pelan. “Bukan hanya saat bekerja. Tapi juga saat kalian merasa tidak diperhatikan.”

Arka menelan ludah.

Pria itu akhirnya berbicara. Suaranya datar, tanpa tekanan.

“Saya diminta membantu melihat siapa yang benar-benar bekerja, dan siapa yang hanya menunggu dilihat.”

Kalimat itu menggantung.

Semua yang selama ini terasa seperti kemungkinan—peluang, harapan, mungkin perubahan—tiba-tiba kehilangan bentuknya. Tidak ada tawaran. Tidak ada janji.

Hanya penilaian.

Arka menunduk sejenak. Ia tidak merasa marah. Hanya kosong.

Pemilik itu menatapnya lebih dalam. “Kebanyakan orang berubah ketika merasa dinilai,” katanya. “Kamu tidak.”

Baca Juga:  Sepeda Ontel dan Jalan Sabar Buk Jam

Arka tidak tahu harus menjawab apa.

“Dan itu bukan hadiah,” lanjutnya. “Itu bekal.”

Tidak ada promosi. Tidak ada kenaikan gaji. Tidak ada apa pun yang bisa dibawa pulang selain kalimat itu.

“Kamu bisa tetap di sini,” kata pemilik itu. “Atau pergi. Tidak ada yang menahan.”

Percakapan selesai.

Di luar, deretan mobil tetap datang dan pergi seperti biasa. Suara mesin, langkah kaki, sapuan kain di kaca—semuanya terdengar sama seperti kemarin.

Arka berdiri cukup lama.

Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa selama ini ia menunggu seseorang membuka pintu untuknya. Padahal sejak awal, ia yang berdiri di depan pintu itu.

Keesokan paginya, Arka datang lebih awal. Seragamnya masih sama. Pekerjaannya juga sama. Ia membuka pintu mobil, membersihkan interior, dan tersenyum kepada setiap orang yang datang.

Namun kali ini, ia tidak menunggu.

Saat mengelap kaca depan sebuah mobil, ia melihat pantulan dirinya lagi. Wajah yang sama, tetapi tidak sepenuhnya sama.

Tangannya berhenti sejenak.

Lalu ia mengusap kaca itu sekali lagi, lebih perlahan, sampai bayangan itu tampak jelas.

Seolah-olah, untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat siapa yang sedang berdiri di sana. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni