
Sepeda tua, botol jamu, dan doa yang tak pernah putus. Ketika musibah merampas hampir segalanya, Buk Jam justru menemukan satu jalan yang tidak pernah buntu: bersujud kepada Allah.
Cerpen oleh Mochammad Nor Qomari, Guru SMP Muhammadiyah 12 GKB
Tagar.co – Setiap pagi setelah salat subuh berjemaah di Surau Muthmainnah—yang hanya berjarak lima rumah dari kosnya—Buk Jam selalu memasukkan uang lima ribu rupiah ke kotak sedekah.
Tidak banyak memang.
Namun bagi Buk Jam, itulah caranya bersyukur.
“Rezeki itu milik Allah,” katanya suatu hari kepada tetangganya. “Kalau kita memberi sedikit, Allah pasti memberi jalan yang lebih luas.”
Baca cerpen lainnya: Rahasia Manis Sumi Cake
Selama Ramadan, Buk Jam biasanya mulai berangkat sekitar pukul 15.30. Ia mengayuh sepeda ontel menyusuri gang-gang sempit di perkampungan padat penduduk.
Jaraknya hampir dua kilometer menuju Jalan Panglima Sudirman.
Di gang-gang itu pelanggan setianya adalah para ibu rumah tangga, terutama yang memiliki balita.
“Buk Jam, beras kencurnya satu!” teriak seorang ibu dari depan rumah.
“Nggih, Bu… sebentar,” jawab Buk Jam sambil tersenyum.
Ia berhenti sejenak, menuangkan jamu dari botol kaca ke gelas plastik kecil, lalu menyerahkannya kepada pembeli.
Setelah itu ia melanjutkan perjalanan menuju Alun-Alun Kabupaten Rempah, sekitar satu kilometer lagi dari jalan utama.
Di sana pelanggannya berbeda. Ada pengemudi ojek, kuli bangunan, hingga pasukan kuning yang membersihkan jalan.
Mereka sering menyapa dengan ramah.
“Buk Jam, pahitannya satu botol, ya. Badan capek ini.”
Buk Jam selalu melayani dengan senyum hangat.
Namun Ramadan tahun itu menghadirkan ujian berat.
Hari itu Ramadan ke-21.
Selepas salat asar, Buk Jam berangkat seperti biasa. Sepeda ontelnya berjalan perlahan di tepi jalan.
Tiba-tiba sebuah mobil melaju cukup cepat dari arah belakang.
“Brak!”
Sepeda Buk Jam terserempet. Tubuhnya terjatuh ke aspal.
Botol-botol kaca di ronjot pecah berantakan. Suara kaca retak terdengar nyaring. Jamu yang ia racik sejak pagi mengalir di jalan, bercampur debu dan kerikil.
Kakinya terkilir.
Orang-orang berlari mendekat menolong.
Namun dalam kerumunan itu, seseorang mengambil dompet kecil milik Buk Jam yang berisi uang hasil dagangan hari sebelumnya.
Pengemudi mobil bahkan tidak berhenti. Ia langsung melarikan diri.
Buk Jam hanya terdiam.
Matanya memandangi jamu yang mengalir di aspal seperti air hujan.
Itulah hasil kerja kerasnya hari itu.
Seorang tukang becak bernama Pak Supri akhirnya mengantarnya pulang.
Sebelumnya ia sempat dipijat oleh Bu Siti, tukang pijat di dekat sana.
“Alhamdulillah, cuma terkilir sedikit,” kata Bu Siti.
Buk Jam hanya tersenyum.
Sesampainya di kos, ia duduk sebentar di depan rumah. Langit sudah mulai gelap.
Hari itu ia kehilangan hampir semua dagangannya.
Namun ia masih memiliki tabungan dua juta enam ratus ribu rupiah di dalam lemari plastik kusamnya. Uang itu sebenarnya ia kumpulkan selama dua setengah bulan untuk membeli pakaian baru anak-anaknya dan kue Lebaran.
Buk Jam menarik napas panjang.
Lalu perlahan ia berdiri.
Azan magrib terdengar dari Surau Muthmainnah.
Ia tetap berjalan menuju surau.
Salat berjemaah.
Lalu melanjutkan salat isya dan tarawih seperti biasa.
Tidak ada yang tahu bahwa sore itu ia baru saja mengalami musibah.
Malamnya, setelah pulang dari surau, Buk Jam duduk di depan rumahnya yang sederhana.
Angin malam bertiup lembut.
Ia menatap langit sambil berdoa pelan.
“Ya Allah… kadang kami bingung harus melangkah ke mana. Ke kanan penuh masalah, ke kiri penuh kesedihan. Ke depan terasa buntu, ke belakang tidak ada kebahagiaan.”
Air matanya menetes perlahan.
“Tapi aku tahu satu jalan… bersujud kepada-Mu.”
Ia menengadahkan tangan.
“Engkau sebaik-baik perencana hidup kami.”
Pagi itu Buk Jam kembali menyalakan kompor kecilnya.
Ia merebus kunyit, asam, dan kencur seperti biasa.
Sambil mengaduk panci, ia tersenyum kecil.
Hidupnya memang sederhana.
Masalahnya banyak.
Namun hatinya tetap tenang.
Karena Buk Jam yakin satu hal:
Selama seseorang masih bisa bersujud kepada Allah, tidak ada hidup yang benar-benar hancur.
Dan di balik setiap ujian, selalu ada alasan untuk tetap bersyukur. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












