Opini

Refleksi Hari Buruh: Pergeseran Peran Keluarga dalam Industrialisasi

129
×

Refleksi Hari Buruh: Pergeseran Peran Keluarga dalam Industrialisasi

Sebarkan artikel ini
Refleksi Hari Buruh (Daniel Mohammad Rosyid)

Di balik ambisi pertumbuhan ekonomi, keluarga dikorbankan, pendidikan dimonopoli sekolah, dan manusia dibentuk menjadi pekerja, bukan pribadi merdeka.

Oleh Daniel Mohammad Rosyid; @Rosyid College of Arts

Tagar.co – Keluarga adalah institusi yang paling dikorbankan dalam narasi pembangunan yang terobsesi dengan pertumbuhan tinggi berbasis industrialisasi.

Semula, keluarga adalah institusi edukatif dan produktif. Namun, oleh pembangunan, keluarga diposisikan sebagai satuan konsumtif, sementara ayah dan ibu diposisikan sebagai pekerja atau buruh.

Baca juga: Daycare, Kereta, dan Dilema Ibu Pekerja di Kota

Ayah dipaksa menjadi buruh dengan upah rendah, sehingga akhirnya ibu pun harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Begitu ibu dikeluarkan dari rumah untuk memburuh, maka tidak ada tempat yang aman bagi anak di mana pun di planet ini. Sekolah pun tidak.

Malah, sekolah adalah instrumen terpenting dalam pendegradasian keluarga. Saat dikatakan bahwa sekolah adalah satu-satunya tempat belajar, maka tugas keluarga sebagai satuan edukatif dirampas oleh sekolah. Tidak bersekolah langsung dianggap tidak terdidik, inkompeten, dan kampungan. Bahkan syarat ijazah diberlakukan untuk posisi-posisi jabatan publik.

Baca Juga:  Dapur MBG PTDI Jatim dan Ikhtiar Melawan Generasi Lemah

Sekolah adalah tempat di mana manusia yang beragam diseragamkan atas nama standar agar bisa dipekerjakan di pabrik-pabrik. Yang dibutuhkan pabrik adalah pekerja yang patuh, disiplin, dan setia menjalankan mesin-mesin dari pagi hingga petang. Pabrik tidak terlalu membutuhkan pemikir, apalagi manusia yang merdeka.

Manusia merdeka semacam ini sulit diatur. Penguatan persekolahan yang berlebihan tidak hanya mahal, namun juga makin melemahkan fungsi-fungsi edukatif keluarga. Masyarakat juga perlu memikul tugas pendidikan ini sebagaimana wasiat Ki Hadjar. It takes a village to raise a child.

Bekerja bagi lelaki adalah kebanggaan dan sumber harga diri. Namun, bekerja tidak boleh direduksi hanya menjadi buruh. Membangun usaha sendiri berskala kecil di rumah harus dihormati dan memperoleh dukungan pemerintah.

Mungkin dengan usaha kecil yang kuat, ekonomi sebuah negara seperti Italia tidak sebesar Jerman dengan dominasi korporasi besar. Namun, Italia memiliki ketangguhan yang besar sekaligus keluwesan tersendiri.

Ekonomi Indonesia saat ini terlalu terkonsentrasi pada segelintir konglomerat, sehingga dalam jangka panjang rentan terhadap guncangan geopolitik dan geoekonomi global. Seiring dengan upaya desentralisasi, ekonomi Indonesia perlu didorong lebih terdistribusi dengan koperasi dan usaha kecil lebih berperan, termasuk usaha mikro berbasis keluarga.

Baca Juga:  Pelemahan Rupiah dan Forum Davos

Keluarga harus diperkuat agar memiliki kapasitas produktif sekaligus edukatif yang memadai. Peran ibu perlu difasilitasi agar mampu mengemban dua tugas ini. Upah pekerja harus mencukupi kebutuhan dasar sebuah keluarga yang sehat, sehingga para ibu tidak dipaksa keluar dari rumah.

Multipolarisasi geopolitik di tingkat global memerlukan upaya multipolarisasi ekonomi nasional, di mana keluarga ikut memikul tugas-tugas produktif sekaligus edukatif sesuai dengan keunggulan spasial yang beragam dalam bentang alam kepulauan seluas Eropa ini. Teknologi konvivial yang rendah energi, menciptakan lapangan kerja, mendorong kreativitas, dan sirkular adalah ciri penting Prabowonomics. (#)

Surabaya, Jumat, 1 Mei 2026

Penyunting Mohammad Nurfatoni