Feature

TK Aisyiyah 4 Ahmad Yani Kota Probolinggo Juara Umum Bayuangga Marching Competition

101
×

TK Aisyiyah 4 Ahmad Yani Kota Probolinggo Juara Umum Bayuangga Marching Competition

Sebarkan artikel ini
Satuan drumben Gema Insan Ceria TK Aisyiyah 4 Ahmad Yani meraih juara umum dalam Bayuangga Marching Competition 2026. (Tagar.co/Istimewa)

Tampil memukau dengan tema Tanah Airku, sekolah ini menyabet Juara 1 Analisa Musik dan Concert, mengungguli sembilan peserta lainnya.

Tagar.co – Kegembiraan menyelimuti keluarga besar TK Aisyiyah 4 Ahmad Yani Kota Probolinggo. Dalam ajang lomba drumben tingkat taman kanak-kanak, Bayuangga Marching Competition yang digelar pada Ahad (26/4/2026) di GOR Kedopok, sekolah ini berhasil meraih juara umum.

Mengusung tema Tanah Airku, penampilan anak-anak memukau dewan juri melalui dua lagu, yakni Berkibarlah Benderaku dan Tanah Airku. Aransemen yang harmonis, dipadu gerakan yang kompak dan ekspresif, sukses menghadirkan suasana haru sekaligus membangkitkan semangat nasionalisme.

Baca juga: Remaja Putri Probolinggo Antusias Ikuti Kajian Bestie Aisyiyah Mayangan

Keberhasilan tersebut diperkuat dengan raihan Juara 1 Analisa Musik dan Juara 1 Concert, yang menjadi penentu gelar juara umum pada kompetisi tingkat TK tersebut.

Sebanyak 55 peserta dari kelompok B1 dan B2 tampil maksimal dalam kompetisi yang diikuti 10 lembaga, yakni TK Kemala Bhayangkari, TK Tunas Harapan, TK Potre Koneng, TK Aisyiyah 1, TK Taman Indria, TK Aisyiyah 4 Ahmad Yani, TK Taman Indria 2, TK Kartika, TK Pembina, dan TK Al Alim.

Baca Juga:  Daurah Usia Emas di Probolinggo: Menata Amal, Menjemput Husnul Khatimah

Suasana semakin semarak dengan partisipasi wali murid yang turut memeriahkan acara melalui yel-yel penuh semangat. Kreativitas para orang tua—yang akrab disebut “emak-emak”—dengan berbagai gerakan dan narasi, sukses menyulut energi positif sepanjang perlombaan.

Suasana latihan drumband siswa TK Aisyiyah 4 Ahmad Yani di pekarangan rumah warga. (Tagar.co/Ivo Devi Christina)

Latihan di Pekarangan, Semangat Tak Terbatas

Dua pekan menjelang lomba, para guru berupaya mencari lokasi latihan yang representatif. GOR Kedopok sempat menjadi pilihan, namun terkendala jadwal yang telah penuh.

Sebelumnya, latihan dilakukan di aula lantai dua sekolah berukuran 18 x 6 meter. Setelah berdiskusi, diputuskan latihan dipindahkan ke pekarangan rumah tetangga, yakni milik Bunda Ulul Azmi. Peralatan drumband bahkan disimpan di teras dan ruang tamu rumah tersebut serta di rumah Bunda Siti Jumaani.

Keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan semangat. Anak-anak tetap menjalani rutinitas berdoa dan murajaah surat pendek sebelum latihan. Usai berlatih, mereka kembali menjadi anak-anak yang riang, berlarian di bawah terik matahari.

“Aku suka bermain drumband, meskipun capek,” ujar Khiazuran Maulana Alqawiyyu polos.

Sinergi Kuat Bersama Wali Murid

Kolaborasi antara sekolah dan wali murid menjadi kunci penting keberhasilan ini. Dukungan tidak hanya dalam bentuk kehadiran, tetapi juga tenaga, waktu, hingga materi.

Baca Juga:  Mendikdasmen Dukung Institut Ahmad Dahlan Kota Probolinggo Transformasi Jadi Universitas

Para orang tua dengan setia mengantar dan menjemput anak-anak untuk latihan pagi di sekolah dan sore di lokasi latihan. Bahkan, mereka turut berlatih yel-yel secara mandiri di rumah Ivo Devi Christina, salah satu wali murid.

“Saya senang sekali rumah saya bisa digunakan ibu-ibu untuk latihan yel-yel,” ungkap Ivo.

Kebersamaan ini menciptakan energi kolektif yang menguatkan mental dan fisik anak-anak, meski di tengah kondisi lelah bahkan sakit.

Andi Elik Wahyudi bersama mayoret Nabila Nur Syaima dan guru-guru TK Aisyiyah 4 Ahmad Yani, dengan piala kemenangan (Tagar.co/Istimewa)

Ikhtiar, Doa, dan Tawakal

Upaya maksimal juga dilakukan dengan penambahan alat musik berupa xylophone dua oktaf, yang melengkapi empat unit sebelumnya. Kehadiran alat ini memperkaya harmoni musik, membuat penampilan semakin hidup dan menyentuh.

Di sisi lain, doa menjadi penguat utama. Kepala sekolah, Hariyani, S.Pd., yang tengah menunaikan ibadah haji di Madinah, turut memanjatkan doa. Hal serupa dilakukan para guru dan wali murid.

Perpaduan bunyi xylophone, drum, simbal, dan gerakan bendera menciptakan harmoni yang menggugah emosi. Lambaian bendera yang dinamis seolah mengingatkan pentingnya mencintai tanah air sejak dini.

Baca Juga:  Ratusan Remaja Ikuti Jirem Ramadan, Belajar Iman hingga Berbagi Takjil

Kenangan Indah di Akhir Tahun Ajaran

Kemenangan ini menjadi momen tak terlupakan bagi siswa kelompok B di penghujung tahun ajaran 2025/2026. Backdrop bertuliskan “Gema Insan Ceria, Jayalah Anak-Anak Indonesia” bukan sekadar slogan, melainkan harapan.

Merekalah generasi penerus bangsa—beriman, sehat, cerdas, ceria, disiplin, dan bertanggung jawab.

Jurnalis Izza El Mila Penyunting Mohammad Nurfatoni