
Ainul Hayat Naimullah berbagi pengalaman berharga setelah mengikuti final Kompetisi Matematika Nalaria Realistik (KMNR) Ke-21 dan bersaing dengan peserta terbaik dari seluruh Indonesia.
Tagar.co — Kabar membanggakan datang dari MI Muhammadiyah 6 Sekapuk (Mimsix), Gresik. Salah satu siswanya, Ainul Hayat Naimullah, berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan melaju hingga babak final nasional Kompetisi Matematika Nalaria Realistik (KMNR) ke-21 yang diselenggarakan oleh Klinik Pendidikan MIPA (KPM).
Babak final ajang bergengsi tingkat nasional ini digelar pada Minggu, 26 April 2026, di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Pamulang, Kota Tangerang Selatan. Kompetisi tahunan tersebut mempertemukan siswa-siswi terbaik dari berbagai penjuru Indonesia.
Baca juga: MJHS Expo 2026 Mimsix, Membuka Peta Masa Depan Pendidikan Siswa Kelas VI
Ainul Hayat Naimullah, yang akrab disapa Yayak, merupakan siswa kelas IV dan anak keempat dari pasangan Mahzumi dan Muslikhah, warga Desa Sekapuk, Ujungpangkah, Gresik. Perjalanan Yayak menuju panggung final bukanlah hal yang mudah. Ia harus melewati serangkaian seleksi ketat mulai dari tingkat internal sekolah, kabupaten, hingga provinsi—menyisihkan ribuan peserta lainnya.
Di babak puncak, Yayak berhadapan langsung dengan para finalis terbaik dari berbagai daerah, dari Sabang hingga Merauke. Dukungan penuh pun mengalir dari berbagai pihak, mulai dari kepala madrasah, guru, orang tua, teman-teman, hingga pimpinan ranting Muhammadiyah Sekapuk.

Kepala MI Muhammadiyah 6 Sekapuk, Muhammad Wasil, S.Pd.I, menyampaikan rasa syukur sekaligus kebanggaannya atas capaian tersebut. “Yayak membuktikan bahwa siswa madrasah dari desa mampu bersaing di tingkat nasional. Ini capaian yang sangat luar biasa dan mengharumkan nama madrasah,” ujarnya.
Untuk mengikuti final, rombongan Mimsix berangkat bersama kontingen finalis lain dari sejumlah sekolah di Gresik pada Jumat, 24 April 2026 malam. Mereka bergabung dalam semangat yang sama untuk membawa nama daerah ke tingkat nasional.
Final ke-21 MNR berlangsung meriah. Selain menghadapi soal-soal matematika nalaria realistik yang menguji logika dan daya analisis, para peserta juga disuguhkan panggung megah dengan tata cahaya spektakuler dan layar LED besar. Penampilan seni seperti tarian dan puisi turut menghibur peserta sebelum pengumuman pemenang.
Yayak mengaku takjub bisa menjadi bagian dari ajang tersebut. “Aku bersyukur dan kagum bisa berada di antara orang-orang hebat. Gedungnya besar, lampunya keren, ada hiburan juga. Rasanya seperti mimpi bisa sampai di sini,” ungkapnya dengan penuh semangat.

Meski belum berhasil meraih medali, Yayak tetap bangga atas pencapaiannya. Baginya, pengalaman ini jauh lebih berharga dari sekadar kemenangan. Selama mengikuti rangkaian kegiatan, ia belajar mandiri, disiplin, dan bertanggung jawab.
Ia juga berbagi cerita tentang pengalaman berkesan selama di Jakarta, termasuk mengunjungi kawasan Kota Tua.
“Saya melihat banyak sepeda ontel zaman dulu, banyak orang berfoto. Bangunannya juga bagus, saya sempat berfoto di sana dan hasilnya keren,” tuturnya dengan bahagia.
Prestasi ini diharapkan menjadi inspirasi bagi siswa lainnya, khususnya dari daerah, untuk terus berani bermimpi dan berkompetisi.
“Kami berharap capaian ini menjadi pemantik semangat. Walaupun dari desa dengan fasilitas terbatas, dengan tekad dan kerja keras, insyaallah akan ada jalan untuk meraih prestasi dan membawa nama baik madrasah serta Muhammadiyah,” tegas Wasil. (#)
Jurnalis Nur Adhimah Penyunting Mohammad Nurfatoni












