Feature

Risma: Perempuan Tak Perlu Takut saat Berniat Baik

60
×

Risma: Perempuan Tak Perlu Takut saat Berniat Baik

Sebarkan artikel ini
Kisah Tri Rismaharini menghadapi ancaman hingga menyasar keluarga, serta perjuangan Nila Yani mendampingi UMKM; menunjukkan keberanian, keyakinan, dan aksi nyata perempuan.
Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Penanggulangan Bencana, DR. (H.C.) Ir. Hj. Tri Rismaharini, M.T. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Kisah Tri Rismaharini menghadapi ancaman hingga menyasar keluarga, serta perjuangan Nila Yani mendampingi UMKM; menunjukkan keberanian, keyakinan, dan aksi nyata perempuan.

Tagar.co – Ruang Sarasehan Hari Kartini siang itu mendadak hening ketika Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Penanggulangan Bencana, DR. (H.C.) Ir. Hj. Tri Rismaharini, M.T. mulai bercerita. Bukan lagi soal peran perempuan di rumah, melainkan sisi lain yang jarang terdengar: ancaman, ketakutan, dan pilihan-pilihan sulit.

Pada kesempatan itu, ibu yang akrab dengan sapaan Risma itu tidak berbicara sebagai pejabat. Ia berbicara sebagai seorang ibu. “Kalau anak ada masalah, saya sudah tidak bisa memikirkan apa-apa,” ujarnya pelan, Sabtu (25/4/2026). Kalimat itu sederhana, tetapi menggambarkan titik paling rapuh dalam hidupnya.

Saat menjabat sebagai Kepala Bagian Bina Pembangunan (2002–2005), Risma menghadapi situasi yang jauh dari kata aman. Ia menerima ancaman berulang kali. “Saya berkali-kali hampir dibunuh. Ancaman pun beralih ke anak. Saya sempat minta mundur,” ungkapnya di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Gresik, Jawa Timur.

Di titik itu, jabatan tidak lagi terasa penting. Yang tersisa hanya satu: keselamatan anak. Namun, ia tidak benar-benar mundur. Ada orang-orang dari pihak kepolisian yang berkomitmen membantu menjaga dan melindungi keluarganya. Ada pula keyakinan yang ia pegang erat kepada perlindungan Allah Swt, sang pemilik kehidupan. Alhasil, Ia memilih bertahan.

Ancaman tidak berhenti di sana. Ketika menjabat sebagai Walikota Surabaya, Risma menutup lokalisasi Dolly di Surabaya. Kala itu, gelombang tekanan kembali datang. Keputusan besar itu bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga tentang keberanian menghadapi risiko.

Baca Juga:  Surat yang Tak Pernah Usang: Kartini dan Pergulatan Perempuan Gen Z

Bersama Allah

Dalam kesempatan lain, ia harus turun langsung ke lapangan saat muncul potensi badai. Banyak pihak memilih kembali, termasuk saat Kepala BMKG menyarankan hal yang sama.

Namun, dengan tenang, Risma justru bertanya hal sederhana kepada stafnya. “Saya tanya, kalau ada badai, kita tidur di mana? Katanya ada tenda,” tuturnya.

Mendengar itu, Risma memilih tetap tinggal. Ia menyelesaikan tugasnya. Setelah semuanya selesai, ia kembali ke helikopter—dan ia bersyukur badai itu tidak datang seperti yang diperkirakan.

Cerita itu bukan soal keberuntungan. Itu soal keyakinan. “Percayalah Allah beserta kita. Kalau niat kita baik untuk umat, tidak usah takut,” ucapnya mantap.

Dan di balik keberanian itu, tersimpan satu prinsip yang terus ia pegang: selama niatnya lurus, ia tidak akan berjalan sendiri. “Allah beserta kita,” ujarnya.

Kisah Tri Rismaharini menghadapi ancaman hingga menyasar keluarga, serta perjuangan Nila Yani mendampingi UMKM; menunjukkan keberanian, keyakinan, dan aksi nyata perempuan.
Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Jatim X, Nia Yani Hardiyanti, S.I.Kom., M.IP. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Turun ke Lapangan

Jika Risma berbicara tentang keberanian menghadapi ancaman, Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Jatim X, Nia Yani Hardiyanti, S.I.Kom., M.IP menunjukkan bentuk perjuangan lain: hadir langsung di tengah masyarakat.

Bagi perempuan muda kelahiran 7 Maret 1998 ini, kerja politik tidak berhenti di ruang rapat. Menurutnya, justru bermula dari jalanan, dari pintu ke pintu.

Ia lantas menceritakan bagaimana perjuangannya pada masa kampanye. Ia datang dari satu desa ke desa lain. Ibu-ibu memandangnya masih muda. “Inikah calonnya?” tanya mereka secara jelas. “Itu tidak membuat saya berkecil hati,” tegas Nila.

Ia tidak membangun citra dari kejauhan. Ia memilih mendekat. Ia bercerita tentang hidupnya kepada warga. Dari situ, hubungan terjalin. Banyak ibu-ibu yang kemudian menganggapnya seperti anak sendiri. “Saya juga meminta doa ibu-ibu, karena doa mereka biasanya terkabul,” katanya.

Baca Juga:  Ujian Sabar di Balik Cantiknya Tumpeng Meriah Penuh Garnish

Kedekatan itu tidak berhenti pada percakapan. Ia menerjemahkannya dalam tindakan nyata. Ia membagikan lebih dari seratus gerobak kepada pelaku usaha kecil di Gresik dan Lamongan. Ia tidak menyerahkan bantuan secara simbolis, tetapi mengantarkannya langsung ke penerima.

“Saya tidak suka seremonial. Saya lebih memilih berdialog langsung dengan pengusaha UMKM agar tahu kebutuhan mereka,” tegasnya.

Dari dialog itu, ia memahami, persoalan UMKM bukan sekadar modal, tetapi juga pendampingan dan arah.

Namun, di atas semua itu, ia menyadari satu hal penting: negara sebenarnya sudah memiliki banyak aturan untuk melindungi perempuan. Mulai dari Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 13 Tahun 2021 hingga Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS).

Nila menilai, salahnya bukan pada aturan. “Kita tidak kekurangan undang-undang. Kita kekurangan implementasi yang berdampak dan keberpihakan kepada perempuan,” ujarnya tegas. Kalimat itu seperti garis bawah dari realitas yang ada.

Baca Juga: Tri Rismaharini: Di Rumah, Perempuan Kembali Jadi Ibu

Kisah Tri Rismaharini menghadapi ancaman hingga menyasar keluarga, serta perjuangan Nila Yani mendampingi UMKM; menunjukkan keberanian, keyakinan, dan aksi nyata perempuan.
Tri Rismaharini dan Nila Yani H. berfoto bersama para perempuan dari Nasyiatul Aisyiyah Kabupaten Gresik. (Tagar.co/Istimewa)

Dari Usaha Kecil ke Masa Depan Besar

Di penghujung sesi, Tri Rismaharini kembali menarik pembahasan ke hal yang paling dekat dengan kehidupan perempuan sehari-hari: usaha kecil. Ia tidak berbicara dalam konsep besar. Ia berbicara dalam langkah-langkah sederhana.

Menurutnya, banyak usaha gagal bukan karena tidak mendapat bantuan, tetapi karena tidak mampu membaca pasar atau memasarkan produk. “Kalau tidak bisa memasarkan secara langsung, bisa lewat daring. Kirim ke lima orang sehari,” sarannya. Baginya, hal kecil yang konsisten bisa membuka peluang besar.

Baca Juga:  Segitiga Sukses Ahmad Dahlan di Muhammadiyah GKB

Ia juga menekankan pentingnya kualitas produk dan kemampuan beradaptasi. Ia memberi contoh bagaimana pelaku usaha harus peka terhadap kebutuhan pasar, bahkan berani mengubah produk jika diperlukan.

Risma mengungkap bagaimana ibu yang awalnya jual clay beralih kue gluten free. “Saat Covid, pesanannya naik. Kita harus pandai melihat pasar. Kita bisa menjual ke orang menengah ke atas dengan bungkus yang bagus,” jelasnya di hadapan ratusan perempuan dari organisasi wanita di Kabupaten Gresik.

Namun, satu hal yang tidak kalah penting adalah pengelolaan keuangan. “Kalau untung seratus rupiah per hari, jangan dihabiskan semua. Bagi untuk pendidikan anak, kesehatan, dan modal usaha,” ujarnya.

Dari sana, ia membawa pembahasan ke arah yang lebih jauh: masa depan generasi. “Kalau pendidikan anak kita sama seperti kita, berarti tidak ada kemajuan. Harus lebih baik dari kita. Supaya kita semangat, tidak ada capeknya,” pungkasnya.

Sarasehan itu telah usai. Namun, cerita-cerita yang tertinggal di dalamnya tidak berhenti di ruangan itu. Tentang seorang ibu yang tetap berdiri di tengah ancaman. Tentang perempuan yang berjalan dari pintu ke pintu membawa harapan. Dan tentang keyakinan sederhana: bahwa niat baik, jika dijaga, akan selalu menemukan jalannya. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni