Feature

Tri Rismaharini: Di Rumah, Perempuan Kembali Jadi Ibu

58
×

Tri Rismaharini: Di Rumah, Perempuan Kembali Jadi Ibu

Sebarkan artikel ini
Sarasehan Kartini di Gresik menghadirkan Tri Rismaharini dan Nila Yani Handayani. Mereka membahas peran perempuan dan keseimbangan domestik dan publik. 
Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Penanggulangan Bencana, Dr. (H.C.) Ir. H. Tri Rismaharini, M.T. menghadiri Sarasehan Hari Kartini di GNI Gresik. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Sarasehan Kartini di Gresik menghadirkan Tri Rismaharini dan Nila Yani Handayani. Mereka membahas peran perempuan dan keseimbangan domestik dan publik.

Tagar.co – Suasana hangat menyelimuti Gedung Nasional Indonesia (GNI) Kabupaten Gresik, Sabtu siang, 25 April 2026. Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrasi Indonesia (DPC PDI) Perjuangan Kabupaten Gresik menggelar sarasehan Hari Kartini.

Kali ini, mengusung tema “Meneladani Semangat Kartini: Perempuan Akar Rumput Berdaya, Berkarya, dan Berdampak.” Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama. Yakni Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Penanggulangan Bencana, Dr. (H.C.) Ir. H. Tri Rismaharini, M.T. dan Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Jatim X, Nila Yani Handayani, S.I.Kom., M.IP. Keduanya dipandu moderator Alma Dwi, S.E. dari Paguyuban Cak dan Ning Gresik.

Alma mengajukan pertanyaan bergantian kepada kedua narasumber. Pertanyaan pembuka yang mengemuka ialah bagaimana perempuan masa kini meneladani sosok Kartini dalam kehidupan sehari-hari.

Tri Rismaharini menjawab dengan pengalaman personalnya. Ia menolak memaknai perjuangan Kartini secara keliru. Menurutnya, perempuan boleh meraih prestasi setinggi apa pun, tetapi tetap harus mengingat perannya di dalam keluarga.

Baca Juga:  Almadany Kartini Fest 2026, Kartini Kecil dengan Mimpi Besar

“Saya tiap malam pulang jadi wali kota, saya menyemir sepatu suami saya. Kalau kamar mandi kotor, saya ngosek kamar mandi dulu malam-malam,” ujarnya di hadapan ratusan perempuan dari berbagai organisasi wanita di Kabupaten Gresik.

Risma, sapaan akrabnya, menegaskan, perempuan tidak harus selalu bekerja di luar rumah untuk berdaya. “Kita bisa bekerja di rumah sambil menunggu anak-anak. Apakah ibu-ibu harus keluar rumah untuk bekerja? Tidak. Biar saya yang keluyuran keluar rumah jam 1 malam mengecek ini itu,” ujarnya memantik tawa hadirin.

Risma sebagai Ibu

Walikota Surabaya (2010–2020) itu juga membagikan kisah perjuangannya sebagai ibu. Terutama saat harus meninggalkan anaknya untuk studi di Belanda.

“Saat saya ke Belanda, anak masih kecil. Tiap hari biasanya saya yang mengoroti pensil anak. Ketika saya pergi, saya sediakan pensil yang sudah saya oroti sebanyak hari saya pergi. Begitu pula amplop uang sakunya,” tuturnya. Pasalnya, ia pergi tidak dalam hitungan hari, melainkan berbulan-bulan.

Menteri Sosial Republik Indonesia (2020–2024) itu menutup dengan penegasan yang kuat. “Ada saat kita di dalam rumah. Kita bukan wali kota, bupati, atau DPR. Saat itulah kita adalah ibu dari anak-anak kita.” Seketika, ruang GNI riuh dengan tepuk tangan ratusan wanita yang hadir.

Baca Juga:  Dari Jepara ke Mugeb: Api Kartini yang Tak Pernah Padam
Sarasehan Kartini di Gresik menghadirkan Tri Rismaharini dan Nila Yani Handayani. Mereka membahas peran perempuan dan keseimbangan domestik dan publik. 
Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Jatim X, Nila Yani Hardiyanti, S.I.Kom., M.IP. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Perempuan Berkarya dan Memberi Dampak

Setelah itu, giliran Nila Yani Handayani menyampaikan pandangannya. Nila, sapaan akrabnya, memandang isu tersebut dari sudut pandang perempuan muda. Ia mengakui, perempuan sering terdorong untuk melampaui batas diri, tetapi kerap melupakan keseimbangan peran domestik.

“Sebagai anak muda kadang saya ingin push the limit. Semangat masih membara sehingga tugas domestik di rumah sering terabaikan,” ungkapnya.

Menurutnya, perempuan perlu meluruskan niat dalam berkarya. Ia menegaskan, karya bukan sekadar ajang pembuktian diri.

“Kita sebagai perempuan mencari jati diri. Berkarya bukan untuk menunjukkan apa pun. Kita berkarya untuk mengangkat marwah jati diri perempuan lain sehingga bisa menginspirasi perempuan yang lain juga,” ujarnya.

Perempuan Berkarya

Ia menambahkan, perempuan dapat berkarya dari mana saja, termasuk dari rumah. Jika karya memiliki nilai, maka karya tersebut dapat memberikan dampak ekonomi bagi diri sendiri maupun keluarga.

“Perempuan yang mau berkarya punya dampak besar. Berkarya itu tanpa disadari bisa menjadikan keluarga lebih sejahtera. Dampaknya juga anak-anak lebih terdidik. Lingkungan bisa menjadi lebih produktif. Perempuan jadi lebih percaya diri dan dihargai,” jelasnya.

Baca Juga:  Harmoni Ibu dan Anak Bersinar di Fashion Show Hari Kartini KB/RA Alhidayah

Ia pun menegaskan, perjuangan perempuan tidak bertujuan melawan laki-laki, melainkan mengangkat derajat perempuan secara kolektif.

“Bukan untuk melawan status atau posisi laki-laki. Sehingga kita bisa mengangkat derajat perempuan dan berjuang dengan perempuan lain di luar sana,” katanya.

Sarasehan itu akhirnya bukan hanya tentang Kartini di masa lalu. Tetapi tentang Kartini-Kartini hari ini—yang mungkin tidak terkenal, tidak viral, tidak disebut-sebut. Perempuan yang bekerja diam-diam. Yang berjuang di dapur sekaligus di dunia. Yang merawat keluarga sambil menata masa depan banyak manusia. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni