
Distribusi daging kurban kini tak lagi terbatas waktu dan lokasi. Cabang dan ranting Muhammadiyah didorong menjadi ujung tombak pengelolaan agar manfaatnya lebih luas, berkelanjutan, dan menyasar wilayah membutuhkan melalui kurnan kemasan.
Tagar.co – Peran cabang dan ranting kembali ditegaskan sebagai kunci dalam penguatan dakwah sekaligus pemberdayaan umat. Hal ini mengemuka dalam Regional Meeting LPCRPM PWM Jawa Timur yang digelar di SMK Muhammadiyah 5 Gresik, Sabtu (25/4/2026).
Dalam forum yang diikuti perwakilan LPCRPM dari Lamongan, Gresik, Bojonegoro, dan Tuban itu, Manajer Lazismu Gresik, Minal Abidin, M.Hes., memaparkan pentingnya inovasi kurban sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan umat.
Baca juga: Peran Strategis Cabang dan Ranting Jadi Kunci Kemajuan Amal Usaha Muhammadiyah
Ia menjelaskan, selama ini terdapat tiga model pelaksanaan kurban yang berkembang di masyarakat. Pertama, model konvensional, yakni penyerahan hewan kurban kepada panitia masjid untuk disembelih dan dibagikan dalam bentuk daging segar.
Kedua, model kurban kemasan yang dikelola secara terpusat oleh Lazismu. Dalam skema ini, daging kurban diolah menjadi produk siap saji seperti rendang dan bakso yang memiliki daya tahan lebih lama.
“Dengan kurban kemasan, distribusi tidak lagi terbatas pada hari raya. Penyaluran bisa dilakukan lebih luas, termasuk ke daerah terpencil atau wilayah terdampak bencana,” ujar Minal.
Sementara itu, model ketiga adalah kurban salur, yaitu pengiriman dan pengelolaan hewan kurban ke daerah pelosok hingga ke luar negeri, termasuk Palestina.
Menurut Minal, kurban kemasan merupakan bentuk ijtihad sosial berbasis nilai syariah yang menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Program ini tidak hanya menjaga aspek kehalalan dan ketentuan ibadah, tetapi juga menghadirkan solusi atas persoalan distribusi yang selama ini belum merata.
Ia menekankan, kebutuhan pangan masyarakat—terutama di wilayah terpencil dan daerah terdampak bencana—tidak bersifat musiman. Karena itu, kurban harus dikelola agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka waktu lebih panjang.
“Selama ini kurban cenderung selesai dalam satu hari. Melalui inovasi ini, manfaatnya bisa dirasakan lebih lama dan lebih tepat sasaran,” jelasnya.
Dalam konteks tersebut, peran Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) menjadi sangat strategis. Cabang dan ranting tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana teknis, tetapi juga sebagai penggerak utama dalam mengarahkan potensi kurban ke program yang lebih berdampak.
Minal mengajak seluruh pimpinan di tingkat cabang dan ranting untuk mulai menjadi pelopor dalam pelaksanaan kurban kemasan. Ia optimistis, jika langkah ini dilakukan secara kolektif, akan tercipta sistem ketahanan pangan umat yang lebih kuat.
“Jika setiap cabang dan ranting bergerak bersama, ini bukan sekadar distribusi daging, tetapi investasi sosial jangka panjang,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menilai bahwa pengelolaan kurban yang profesional akan memperkuat posisi Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah yang solutif. Program yang terkelola dengan baik akan meningkatkan kepercayaan publik sekaligus memperluas jangkauan pelayanan.
“Kurban yang dikelola dengan baik akan menjadi kekuatan dakwah. Muhammadiyah hadir tidak hanya sebagai penyelenggara ibadah, tetapi juga sebagai solusi atas persoalan umat,” imbuhnya.
Dari sisi biaya, program kurban kemasan dinilai cukup terjangkau. Masyarakat dapat berpartisipasi dengan nominal Rp3.500.000 per paket, sekaligus berkontribusi dalam program sosial yang terukur dan berkelanjutan.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang sesi diskusi. Sejumlah perwakilan daerah menilai model ini relevan dengan kebutuhan saat ini, terutama dalam meningkatkan efektivitas distribusi dan keberlanjutan manfaat kurban. (#)
Junalis Yekti Pitoyo Penyunting Mohammad Nurfatoni












