
Bercerita kerap dianggap sebagai tanda kelemahan. Padahal, dalam banyak keadaan, itu justru bentuk keberanian seseorang untuk tetap waras dan bertahan menghadapi hidup.
Oleh Sadidatul Azka, Daiah Pengabdian Akademi Dakwah Indonesia Jawa Timur
Tagar.co – Bercerita itu bukan berarti lemah. Justru di situlah terlihat bahwa kita benar-benar manusia. Manusia yang punya batas, yang butuh ruang untuk sendiri, yang kadang perlu berhenti sejenak dari beratnya beban dunia.
Tidak semua orang kuat dengan cara yang sama. Ada yang memilih diam, memendam semuanya rapat-rapat, lalu tetap menampilkan wajah ceria di hadapan orang lain.
Ada juga yang memilih bercerita, meluapkan apa yang dirasa agar hatinya lebih lega. Keduanya bukan untuk dibandingkan, apalagi disalahkan. Karena setiap orang punya cara masing-masing untuk bertahan.
Baca juga: Berkembang, Bukan Tertinggal: Catatan Reflektif untuk Generasi Muda Beriman
Sebagai individu, kita perlu belajar memahami bahwa cara pandang terhadap dunia pun berbeda-beda. Ada yang menghadapi masalah sebesar apa pun dengan santai, seolah semua bisa dilalui begitu saja.
Ada yang bahkan sebelum masalah itu datang, sudah dipenuhi kekhawatiran berlebihan—meski pada akhirnya tetap dijalani juga. Ada pula yang merasa tidak mampu, sampai akhirnya kehilangan arah dan harapan.
Di sinilah kita perlu meluruskan makna “kuat” dalam pandangan iman. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa mukmin yang kuat lebih baik daripada mukmin yang lemah. Namun, kuat bukan berarti tidak pernah menangis, tidak pernah bercerita, atau tidak pernah merasa lelah.
Kuat adalah ketika seseorang tetap bertahan, tetap berjalan, dan tidak menyerah pada keadaan. Kuat adalah ketika hati masih terikat kepada Allah, meski langkah terasa berat.
Begitu pula dalam firman Allah: “Jangan takut dan jangan bersedih hati” (Fussilat: 30).
Ayat ini mengajarkan untuk tidak takut dan tidak bersedih hati. Bukan berarti manusia dilarang merasa sedih. Karena sedih adalah bagian dari fitrah manusia. Bahkan para nabi pun juga merasakannya.
Namun, yang dilarang adalah ketika kesedihan itu membuat kita tenggelam hingga kehilangan harapan dan lupa kepada Allah Swt.
Maka, bercerita bukan tanda kelemahan. Itu adalah salah satu cara manusia menjaga dirinya agar tetap waras, tetap berdiri, dan tetap melangkah. Hal yang perlu dijaga bukanlah bagaimana cara kita terlihat kuat di hadapan orang lain, tetapi bagaimana kita tetap kuat ketika dihadapkan dengan ujian.
Pada akhirnya, setiap orang selalu berbeda cara dalam menghadapi hidup. Namun, satu hal yang seharusnya sama: jangan sampai kita kehilangan harapan dan jangan sampai kita menjauh dari Allah.
Karena mukmin yang kuat bukanlah yang tidak pernah rapuh, melainkan yang selalu kembali kepada Allah dan tetap bangkit setelah rapuh. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












