Feature

Peran Strategis Cabang dan Ranting Jadi Kunci Kemajuan Amal Usaha Muhammadiyah

77
×

Peran Strategis Cabang dan Ranting Jadi Kunci Kemajuan Amal Usaha Muhammadiyah

Sebarkan artikel ini
Peran strategis Cabang dan Ranting jadi kunci kemajuan Amal Usaha Muhammadiyah. Sebuah RS yang megah di Bandung dengan nilai investasi 90 miliar tak berkembang optimal, ternyata minim dukungan cabang dan ranting. Ini jadi pelajaran berharga
Dr. M Sulthon Amien, Wakil Ketua PWM Jawa Timur memberikan sambutan dan membuka acara Regional Meeting LPCRPM, di SMK Muhammadiyah 5, Gresik, Sabtu, 25 April 2026 (Tagar.co/Yekti Pitoyo)

Peran strategis Cabang dan Ranting jadi kunci kemajuan Amal Usaha Muhammadiyah. Sebuah RS yang megah di Bandung dengan nilai investasi 90 miliar tak berkembang optimal, ternyata minim dukungan cabang dan ranting. Ini jadi pelajaran berharga

Tagar.co – Peran cabang dan ranting ditegaskan sebagai fondasi utama dalam mendorong perkembangan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), baik di bidang kesehatan maupun pendidikan. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Sulthon Amien, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, dalam kegiatan Regional Meeting Pantura LPCRPM Jatim, Sabtu (25/4/2026).

Dalam paparannya di SMK Muhammadiyah 5 Gresik, Sulthon Amien menekankan bahwa kekuatan Muhammadiyah terletak pada sistem gerakan yang bersifat bottom-up, bukan top-down.

Dia mengingatkan, keberhasilan sebuah AUM tidak semata ditentukan oleh besarnya investasi, tetapi sangat bergantung pada dukungan akar rumput, yakni cabang dan ranting.

Meski Terbatas, Cabang Ranting Itu Penting

Dia mencontohkan sebuah rumah sakit di Bandung yang dibangun oleh seorang aghniya dengan nilai investasi mencapai 90 miliar rupiah dan diresmikan oleh Buya Syafii.

Baca Juga:  Kick off Ramadan 1447, Lazismu Jatim Targetkan 35 M

Meski memiliki fasilitas yang megah, rumah sakit tersebut tidak berkembang secara optimal. Setelah diserahkan pengelolaannya kepada MPKU Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, kendala utama yang ditemukan yakni minimnya dukungan dari cabang dan ranting setempat.

“Ini menjadi pelajaran penting bahwa Amal Usaha Muhammadiyah tidak akan berjalan maksimal tanpa keterlibatan dan dukungan struktur di bawah,” tegasnya.

Lebih lanjut, Sulthon Amien membandingkan kondisi tersebut dengan daerah seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua. Di wilayah yang jumlah cabang dan rantingnya relatif sedikit, amal usaha Muhammadiyah justru mampu eksis dan diterima dengan baik oleh masyarakat.

Bahkan, mayoritas pasien rumah sakit maupun peserta didik di AUM pendidikan berasal dari kalangan non-Muslim.

“Ini menunjukkan bahwa keberadaan cabang dan ranting tetap menjadi faktor penting, meskipun dalam kondisi terbatas. Penerimaan masyarakat juga menjadi indikator keberhasilan dakwah Muhammadiyah,” ungkapnya.

Lahirkan Cabang Ranting Unggulan 

Dia juga mengingatkan bahwa para pendahulu Muhammadiyah telah berjuang keras dalam membangun dan memperkuat cabang serta ranting. Oleh karena itu, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan dan mengembangkan warisan tersebut.

Baca Juga:  Kuadran Keempat: Inovasi Kebijakan untuk Melejitkan Kinerja Lazismu 

Dalam kesempatan itu, Sulthon Amien berharap empat Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) yang mengikuti kegiatan ini dapat menjadikannya sebagai titik awal dalam melahirkan cabang dan ranting unggulan.

Selain itu, dia mendorong setiap kader di tingkat cabang dan ranting untuk mulai membangun personal branding berbasis keunggulan masing-masing.

“Setiap kader harus berani mengatakan, ‘Saya punya keunggulan ini, siapa yang mau belajar, ayo’. Dari situ akan terjadi pertukaran ilmu, keterampilan, dan profesionalisme,” ajaknya.

Menurutnya, kolaborasi antar cabang dan ranting melalui saling berbagi keahlian akan mempercepat pertumbuhan organisasi secara kolektif.

“Kalau saling mendukung, saling menguatkan, maka cabang dan ranting akan berkembang bersama dan amal usaha Muhammadiyah akan semakin maju,” pungkasnya. (#)

Jurnalis Yekti Pitoyo. Penyunting Sugiran.