Cerpen

Beasiswa yang Tertahan di Ujung Restu

237
×

Beasiswa yang Tertahan di Ujung Restu

Sebarkan artikel ini

Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Ia telah lolos. Semua biaya ditanggung. Masa depan sudah menunggu. Namun satu kata dari ibunya membuat semuanya terhenti.

Cerpen oleh Hasan Albana; Guru CLC SLDB Litang – Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, Malaysia

Tagar.co – Imul adalah putra Indonesia yang lahir dan besar di Sabah, Malaysia. Ia mengikuti kedua orang tuanya yang bekerja sebagai pekerja migran Indonesia di ladang sawit. Sejak kecil, ia telah akrab dengan hamparan pohon sawit yang seolah tidak berujung, panas matahari yang menyengat, serta kerasnya kehidupan di negeri orang.

Ayahnya, Sambo—seorang lelaki Bugis bertubuh tegap dengan kulit legam akibat sengatan matahari—merupakan sosok pekerja keras. Dalam satu pekan, ratusan hingga ribuan buah sawit berhasil dipanennya. Baginya, kesehatan adalah kunci utama. Selama tubuhnya kuat dan ia tetap rajin bekerja, penghasilan akan terus mengalir untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Baca juga: Celana Robek, Hati yang Dijaga

Sambo bekerja bukan hanya untuk hari ini, melainkan demi masa depan anak-anaknya. Ia berharap mereka dapat hidup lebih baik di tanah air sendiri, Indonesia.

Dua anak perempuannya telah lebih dahulu kembali ke Indonesia melalui program beasiswa repatriasi. Meskipun hanya terpaut tiga tahun usia, keduanya memiliki nasib yang serupa. Mereka berhasil melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi, bahkan diterima di fakultas kedokteran dengan beasiswa. Hal tersebut menjadi kebanggaan besar bagi keluarga.

Kini, harapan itu bertumpu pada Imul.

Baca Juga:  Sepatu Tipis Pak Guru Sartono

Pada bulan April 2026, kabar baik kembali menghampiri keluarga Sambo.

Perjuangan Imul selama menempuh pendidikan hingga kelas IX akhirnya membuahkan hasil. Ia dinyatakan lulus seleksi beasiswa untuk melanjutkan pendidikan jenjang SMA pada jurusan pelayaran di Sulawesi Selatan. Proses seleksi yang dimulai sejak Januari 2026 berhasil dilaluinya dengan baik, termasuk pengurusan paspor yang berjalan lancar tanpa kendala.

Sekolah Indonesia Kota Kinabalu sebagai sekolah induk Imul mengumumkan bahwa namanya tercantum sebagai salah satu penerima beasiswa tersebut.

Sebuah pencapaian yang prestisius.

Selama lebih dari lima belas tahun, belum pernah ada siswa dari lingkungan ladang tersebut yang berhasil menembus jurusan itu.

Namun, di balik kebahagiaan tersebut, hati Imul diliputi perasaan yang bercampur aduk.

Ia harus kembali ke Indonesia.
Ia harus meninggalkan kedua orang tuanya.

Ayah dan ibunya yang semakin menua, tetapi tetap bekerja keras setiap hari di ladang sawit.

Batas waktu konfirmasi dari pihak penyelenggara beasiswa hanya satu pekan sejak pengumuman diterima.

Hari demi hari berlalu.

Namun hingga sehari sebelum batas akhir, Imul belum juga memberikan konfirmasi.

Sesuai ketentuan, apabila tidak melakukan konfirmasi, kesempatan tersebut akan hangus.

Sebuah penghargaan besar dari negara yang seharusnya menjadi harapan banyak anak justru berada di ambang kehilangan.

Dua orang guru Imul memutuskan untuk datang langsung ke rumahnya.

Selepas magrib, mereka bergegas menuju rumah sederhana itu. Pintu diketuk dengan cukup keras, seolah ingin mengingatkan bahwa waktu yang tersisa tidaklah banyak.

Baca Juga:  Suara dari Gang Pandan

Pintu terbuka perlahan.

Wajah Bu Hamna tampak sendu dengan mata yang sembap.

Imul tidak tampak di sana.

Suasana berbeda dari biasanya.

Pak Sambo berusaha mencairkan keadaan.

“Silakan masuk, Cikgu,” ujarnya pelan.

“Maaf, rumah masih berantakan. Saya baru pulang dari ladang.”

Ia bahkan belum mengenakan baju atasan karena udara malam yang masih terasa panas.

Kedua guru tersebut segera menyampaikan maksud kedatangan mereka.

“Begini, Pak, kami datang untuk mengonfirmasi kabar baik yang diterima Imul satu pekan lalu,” ujar salah satu guru.

“Apakah Imul menerima dan diizinkan melanjutkan sekolah di Indonesia?”

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Pak Sambo terdiam. Ia hanya memandang ke arah istrinya.

Suasana menjadi hening.

Sesekali terdengar suara anjing dari kejauhan di ladang sawit.

Dengan suara lirih, ia berkata,
“Kuncinya ada pada ibunya.”

Perlahan, kenyataan pun terungkap.

Selama satu pekan terakhir, Bu Hamna terus menangis.

Ia hampir tidak dapat tidur dengan nyenyak.

Matanya bengkak. Wajahnya tampak lelah.

Ia merasa takut.

Takut berpisah dengan anak bungsunya.

Dua anaknya telah lebih dahulu pergi. Kini, anak terakhirnya pun harus meninggalkannya?

Ia membayangkan dirinya menua di ladang sawit, bekerja seorang diri, tanpa ditemani anak-anaknya.

Bu Hamna tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Namun, diamnya sudah cukup menjadi jawaban.

Ia tidak merestui.

Baca Juga:  Gubuk Baru Penyair

Kedua guru tersebut berusaha memberikan penjelasan.

Mereka berbicara tentang masa depan, tentang peluang, dan tentang perubahan nasib.

“Ini jurusan terbaik, Bu.”
“Tidak semua anak bisa mendapatkannya.”
“Seluruh biaya ditanggung oleh negara.”
“Ini kesempatan yang sangat besar.”

Penjelasan demi penjelasan disampaikan.

Waktu terus berjalan.

Malam semakin larut.

Namun, pendirian Bu Hamna tidak berubah.

Akhirnya, dengan suara bergetar, ia berkata pelan,

“Sudahlah, Cikgu… pulang saja.”

Satu kalimat sederhana.

Namun cukup untuk mengakhiri segalanya.

Di balik dinding rumah, Imul hanya dapat mendengar.

Ia tidak berani keluar.

Ia berharap ibunya berubah pikiran.

Namun harapan itu perlahan sirna.

Ibunya tetap pada pendiriannya.

Tidak memberikan rida.

Malam itu, bukan hanya sebuah beasiswa yang hilang.

Melainkan juga sebuah kemungkinan masa depan.

Seperti banyak anak lain yang tidak melanjutkan pendidikan ke Indonesia, jalan hidup Imul seolah telah tergambar.

Ia akan kembali ke ladang sawit.

Menjadi penombak sawit.

Mengikuti jejak orang tuanya sebagai pekerja migran di negeri orang.

Menjalani kehidupan dengan rindu yang tidak tersampaikan.

Indonesia memanggil.

Namun rida ibu belum diperoleh.

Kedua guru tersebut berpamitan.

Langkah mereka terasa berat.

Kepala tertunduk.

Mereka merasa gagal.

Bagi mereka, puncak keberhasilan bukan sekadar mengajar.

Melainkan mengantarkan anak-anak kembali ke tanah air.

Kembali ke Indonesia.

Mengabdi.
Mencintai negeri sendiri.

Dan dengan bangga berkata:

“Kembalilah ke Indonesia kita!”

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…