
Khotbah di Lapangan Gelora Jatinom Milenial mengajak jemaah merenungi kerusakan alam akibat ulah manusia serta pentingnya menjaga kelestarian bumi sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT.
Tagar.co — Matahari baru saja menyembul di ufuk timur saat derap langkah warga mulai memadati Lapangan Gelora Jatinom Milenial, Dusun Jatisari, Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Pagi itu, Jumat (20/3/2026), rumput hijau lapangan menjadi saksi berkumpulnya keluarga besar Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Jatinom untuk menunaikan salat Idulfitri. Sekitar 100 jemaah hadir dengan khidmat, mengubah arena olahraga tersebut menjadi saf-saf doa yang rapi.
Tepat pukul 06.30 WIB, suasana hening menyelimuti lapangan saat Ustaz Dadang Wibisono maju sebagai imam. Takbir yang berkumandang memecah kesunyian pagi, mengantarkan jemaah pada kekhusyukan ibadah yang berlangsung hingga pukul 07.00 WIB.
Usai salam, perhatian jemaah tertuju sepenuhnya kepada sosok M. Ridho Ilahi. Ialah Sarjana Penyiaran Islam sekaligus kader Persyarikatan yang kini bertugas sebagai Bina Rohani di RSI Aminah Muhammadiyah Blitar.
Merenung di Balik Kerusakan Alam
Ridho tidak sekadar menyampaikan pesan moral biasa. Di atas mimbar, ia membawa jemaah untuk menundukkan kepala sejenak, merenungi berbagai rentetan bencana yang kerap menyapa bumi. Ia menegaskan, kerusakan yang terjadi bukanlah kebetulan, melainkan cerminan dari tangan-tangan manusia sendiri.
“Bismillah, kita juga perlu merenungi, banyak bencana yang terjadi tidak lepas dari ulah tangan manusia sendiri,” ujarnya dengan nada yang tenang namun dalam.
Pesan tersebut berakar kuat pada firman Allah dalam Surah Ar-Rum ayat 41.
ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Ridho membacakan ayat tersebut. Di mana mengisahkan bagaimana kerusakan di darat dan laut merupakan buah dari perbuatan manusia agar mereka merasakan dampak dari apa yang mereka kerjakan. Tujuannya hanya satu: agar manusia kembali ke jalan yang benar. Kemudian ia menyoroti fenomena penebangan hutan liar, buruknya pengelolaan limbah, hingga sikap rakus terhadap sumber daya alam sebagai pemicu utama datangnya petaka bagi lingkungan sekitar.
Amanah Menjadi Khalifah Bumi
Melanjutkan orasinya, Ridho mengingatkan, menjaga keseimbangan alam adalah mandat langit bagi setiap manusia sebagai khalifah. Ia mengajak jemaah melakukan introspeksi diri atas peran mereka selama ini.
“Ini adalah peringatan agar manusia kembali kepada aturan Allah dan menjaga keseimbangan alam,” lanjutnya. Baginya, kesalehan seorang muslim tidak hanya tecermin dari ritual ibadah di atas sajadah, tetapi juga dari bagaimana mereka memperlakukan tanah yang mereka pijak.
Optimisme tetap menjadi napas dalam khotbahnya. Ridho mengutip sabda Rasulullah SAW mengenai pentingnya tetap berbuat baik meski dalam kondisi tersulit sekalipun.
إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ
“Jika terjadi kiamat sementara di tangan salah seorang di antara kalian ada benih tanaman, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya.” (HR. Ahmad)
Ia mengisahkan hadis tentang seseorang yang tetap dianjurkan menanam benih pohon meskipun kiamat sudah di depan mata. Hadis tersebut menjadi simbol tanggung jawab yang tak boleh putus. Ridho menegaskan bahwa setiap individu harus tetap produktif dalam kebaikan dan tidak merusak lingkungan hanya demi mengejar keuntungan sesaat yang fana.
Baca Juga: Khotbah di Masjid At-Taqwa Hasan Ungkap Definisi Jenius Sesungguhnya
Ibadah dalam Setiap Benih Tanaman
Menjelang akhir khotbah, suasana kian menyentuh saat Ridho menekankan, kepedulian terhadap lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari ibadah. Ia mengajak jemaah menjadi pribadi yang bijak dalam kehidupan sehari-hari. Menanam pohon, mengelola sampah, atau sekadar tidak merusak alam merupakan bentuk sedekah jariyah.
“Menjaga lingkungan, tidak merusak alam, serta peduli terhadap sesama adalah bagian dari ibadah kita kepada Allah,” ucapnya di hadapan jemaah yang menyimak tanpa suara.
Ia juga menyampaikan hadis Rasulullah SAW lainnya:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
“Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu dimakan oleh burung, manusia atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari).
Ia menutup pesannya dengan hadis riwayat Bukhari yang sangat indah. Ia menjelaskan, setiap pohon yang muslim tanam dan hasilnya dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, maka hal itu bernilai sedekah.
Momentum salat di Lapangan Jatinom pagi itu pun berakhir dengan penuh ketenangan. Jemaah pulang membawa semangat baru: bahwa setelah membasuh diri dengan doa, tugas besar berikutnya adalah memastikan bumi tetap hijau dan layak huni bagi generasi mendatang sebagai wujud syukur yang nyata. (#)
Jurnalis Agus Fawaid Penyunting Sayyidah Nuriyah












