Feature

Enam Ribu Jemaah Diajak Menjaga Fitrah Usai Ramadan

97
×

Enam Ribu Jemaah Diajak Menjaga Fitrah Usai Ramadan

Sebarkan artikel ini
Ribuan jamaah Muhammadiyah memadati Lapangan Dukun untuk Salat Idulfitri 1447 H, menyimak pesan mendalam Ustadz Hasan Basri tentang konsistensi merawat kesucian jiwa dan empati sosial pasca-Ramadan.
Jemaah Salat Id di lapangan sepak bola Dukun. (Tagar.co/Rifa’i)

Ribuan jemaah Muhammadiyah memadati Lapangan Dukun untuk Salat Idulfitri 1447 H, menyimak pesan mendalam Ustadz Hasan Basri tentang konsistensi merawat kesucian jiwa dan empati sosial pasca-Ramadan.

Tagar.co — Langkah kaki ribuan insan mengalir tenang membelah fajar di Kecamatan Dukun, Gresik, Jumat, 20 Maret 2026. Lapangan Sepak Bola Dukun yang biasanya riuh oleh deru napas atlet, pagi itu berubah drastis menjadi lautan putih yang khidmat.

Sekitar 6.000 jemaah Muhammadiyah datang berbondong-bondong, mengubah hamparan rumput menjadi ruang sujud kolektif yang rapi. Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Dukun mengelola arus massa dengan presisi; penataan saf yang terukur memastikan setiap jemaah mendapatkan ruang meski kepadatan mencapai puncaknya.

Di tengah suasana yang sejuk, Ustaz Dr. Hasan Basri, M.Pd.I., melangkah naik ke mimbar. Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) ini tidak sekadar membawakan khutbah normatif. Ia membuka nalar jamaah dengan sebuah pertanyaan reflektif yang menggugah kesadaran tentang esensi hari kemenangan.

“Idulfitri sering kali kita maknai sebagai kembali suci. Namun pertanyaannya, apakah kesucian itu kita jaga, atau justru kita lepaskan setelah Ramadan berlalu?” ujar Ustaz Hasan Basri mengawali pesannya.

Baca Juga:  Naskah Khotbah: Idulfitri dan Jalan Filantropi, dari Puasa Menuju Kepedulian Sosial

Baginya, Idulfitri bukanlah garis finis, melainkan titik start untuk menguji keberlanjutan nilai-nilai langit yang telah diasah selama sebulan penuh. Ia menekankan bahwa fitrah bukanlah kondisi statis yang otomatis bertahan, melainkan potensi yang sangat rentan goyah jika manusia tidak merawatnya secara sadar di tengah gempuran zaman.

Ujian Konsistensi dan Transformasi Batin

Ustaz Hasan Basri kemudian membedah makna fitrah dalam konteks realitas modern. Menurutnya, lingkungan dan arus informasi digital menjadi tantangan nyata bagi manusia dalam mempertahankan orisinalitas kebaikannya.

“Fitrah itu adalah potensi kebaikan. Ia bisa tumbuh, tetapi juga bisa menyimpang. Lingkungan, pola asuh orang tua, hingga arus media sosial hari ini menjadi faktor yang sangat menentukan arah itu,” tegasnya dengan nada lugas.

Merujuk pada pemikiran mendalam Ibnu Qayyim, ia memosisikan Ramadan sebagai proses tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Indikator keberhasilan ibadah seseorang tidak terletak pada kemeriahan perayaan, melainkan pada transformasi batin yang terpancar dalam relasi sosial sehari-hari.

Ia menantang jemaah untuk bercermin pada sikap mereka pasca-lebaran. “Jika setelah Ramadan tidak ada perubahan dalam sikap, dalam cara kita memperlakukan orang lain, maka tazkiyatun nafs itu patut kita pertanyakan,” ungkapnya di hadapan ribuan pasang mata yang menyimak tajam.

Baca Juga:  Dari Ramadan Menuju Hamba Rabani

Pesan ini semakin mengental saat ia menyinggung dimensi sosial yang lebih luas. Idulfitri, menurutnya, harus menjadi momentum untuk memperluas cakrawala empati, melampaui kebahagiaan personal. Ia mengajak jamaah menengok nasib umat Islam di wilayah konflik yang merayakan lebaran di bawah bayang-bayang ketakutan.

“Ada saudara-saudara kita yang tidak merasakan ketenangan seperti yang kita rasakan hari ini. Di situlah iman kita diuji—apakah kita hanya bersyukur untuk diri sendiri atau juga peduli pada yang lain,” katanya, mengingatkan, kesalehan individu harus berbanding lurus dengan kesalehan sosial.

Baca Juga: Persiapan Matang di Jantung Kecamatan, PCM Dukun Fasilitasi 8 Lokasi Salat Id

Manifestasi Nyata melalui Etika Sosial

Menutup rangkaian pesan spiritualnya, Ustaz Hasan Basri mengutip Surat An-Nur ayat 22. Ayat ini menjadi fondasi etika sosial yang menekankan pentingnya sifat pemaaf dan kegigihan dalam berbuat baik kepada sesama. Ia menilai, sedekah adalah instrumen paling konkret yang merepresentasikan apakah nilai-nilai Ramadan masih hidup dalam nadi seseorang atau sudah mati.

“Sedekah adalah indikator hidupnya hati. Jika ia hanya muncul di Ramadan, maka ada yang belum selesai dalam proses pembinaan diri kita,” pungkasnya.

Baca Juga:  Menanam Benih Kebaikan di Gelora Jatinom

Ketertiban pelaksanaan ibadah tahun ini pun mendapat apresiasi luas. Abdul Mudlil, salah satu jamaah yang hadir, memuji kesiapan panitia dalam mengantisipasi membeludaknya peserta. “Dengan jumlah jamaah sebesar ini, pelaksanaannya tetap rapi dan kondusif. Ini menunjukkan panitia bekerja dengan perencanaan yang matang,” tuturnya puas.

Momentum Idulfitri di Dukun kali ini meninggalkan pesan kuat: bahwa kemenangan sejati tidak berhenti pada seremoni di lapangan sepak bola, melainkan diuji dalam konsistensi menjalani nilai-nilai luhur di sisa bulan berikutnya. Spiritual yang matang harus mampu bermanifestasi menjadi aksi nyata yang berdampak bagi lingkungan sekitar. (#)

Jurnalis Bagus Rifani Penyunting Sayyidah Nuriyah