
Malam itu aku tidak bisa tidur. Ingatanku berputar jauh ke masa kecil. Ke satu sore di menara kayu bersama Pak Leman. Ke satu rumah yang tidak berasap.
Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah
Tagar.co – Senja turun pelan ketika rangka besi menara baru itu berdiri seperti kerangka raksasa di halaman masjid kampung kami.
Suara las memercik nyaring, memantul di dinding rumah warga yang berdempetan. Di beranda rumah takmir, rapat panitia berlangsung hangat, penuh angka, penuh rencana, penuh kebanggaan yang nyaris meluap tanpa disadari siapa pun malam itu.
“Ada tambahan ornamen kaligrafi dari kota. Biar kelihatan berkelas,” kata seseorang sambil menunjuk gambar desain.
“Kalau bisa lebih tinggi sedikit. Biar jadi yang tertinggi di kecamatan,” sahut yang lain.
Aku duduk di sudut, memegang buku kecil. Sejak lama aku terbiasa mencatat hal hal yang terasa ganjil di kampung ini. Bukan untuk siapa siapa. Hanya untuk mengingat bahwa sesuatu pernah berubah tanpa banyak orang menyadarinya perlahan.
Suara mereka tiba tiba tenggelam oleh ingatanku sendiri. Wajah Pak Leman muncul jelas di kepala. Takmir sepuh yang dulu sering mengajakku duduk di serambi masjid selepas maghrib.
“Dulu menara itu bukan buat gagah gagahan,” ucapnya suatu malam dengan suara pelan namun tegas.
Ia tidak banyak bercerita. Ia lebih suka mengajakku melihat.
Suatu sore, ia mengajakku naik ke menara kayu tua yang tangganya berderit di setiap pijakan. Dari atas, ia menunjuk ke rumah rumah.
“Lihat yang itu. Ada asap. Lihat yang itu. Tidak ada.”
Aku memicingkan mata. Beberapa dapur mengepul tipis. Beberapa senyap.
“Yang tidak berasap itu, nanti kita datangi,” katanya.
Seusai Isya, ia benar benar mengetuk salah satu pintu yang senyap itu. Ia membawa beras dan lauk sederhana. Tidak banyak bicara. Tidak banyak tanya.
Waktu kecil aku belum paham. Bagaimana mungkin menara bisa melihat perut orang.
Kini aku paham. Menara dulu adalah mata iman.
Suara rapat kembali memanggilku ke masa kini.
“Kalau orang lewat tidak berhenti memotret, berarti desainnya kurang menarik,” ujar ketua panitia sambil tertawa kecil.
Beberapa orang ikut tertawa.
Aku mengangkat tangan pelan. “Bagaimana kalau sebagian dana kita alihkan untuk dapur umum masjid. Atau beasiswa anak yatim di sekitar sini.”
Ruangan mendadak sunyi sebentar.
“Itu bagus. Nanti kita pikirkan setelah menara selesai,” jawabnya ringan.
Setelah.
Kata itu menggantung lama di kepalaku.
Malamnya aku pulang melewati gang sempit. Aroma tumisan keluar dari beberapa dapur. Lampu rumah menyala temaram. Di ujung gang, satu rumah tetap gelap seperti biasa.
Rumah Bu Rani.
Jandanya kurus. Anaknya tiga. Warung adikku sering mencatat namanya di buku utang.
Tak ada asap dari dapurnya.
Aku berdiri lama di depan rumah itu. Suara percikan las dari proyek menara terdengar sampai sini, seperti bunyi kembang api yang tak pernah selesai.
Keesokan harinya, aku kembali ke lokasi pembangunan. Para tukang bekerja cekatan. Besi besi semakin menjulang.
Di depan lokasi, papan proyek tertancap kokoh.
Aku membacanya pelan.
Pembangunan Menara Masjid Al Ikhlas
Donatur Utama Agoes Pramono
Namaku.
Tanganku yang paling awal menyumbang. Aku yang paling bersemangat ketika desain disetujui. Aku yang paling sering berkata, “Kita harus buat yang terbaik untuk masjid ini.”
Aku menatap menara itu lama sekali. Dadaku terasa sesak oleh sesuatu yang tidak bisa segera kuberi nama.
Malam itu aku tidak bisa tidur. Ingatanku berputar jauh ke masa kecil. Ke satu sore di menara kayu bersama Pak Leman. Ke satu rumah yang tidak berasap.
Ke satu pintu yang diketuknya pelan.
Pintu itu terbuka.
Seorang anak kurus berdiri di baliknya.
Ibunya berdiri di belakang dengan wajah malu dan lelah.
Anak itu aku.
Dapur kami kosong hari itu. Ayah sakit. Beras habis. Asap pun tak ada.
Dan Pak Leman datang membawa beras.
Aku terbangun dengan napas berat. Keringat dingin membasahi leher. Kenangan itu bukan lagi nostalgia. Itu alasan aku bisa sekolah. Alasan aku bisa kuliah. Alasan aku bisa kembali ke kampung ini sebagai orang yang dianggap berhasil.
Tanpa menara itu, mungkin hidupku berhenti di gang sempit itu.
Pagi hari, aku kembali ke rumah Bu Rani. Kali ini aku membawa beras, telur, dan minyak goreng.
Ia membuka pintu perlahan.
“Maaf Pak, saya belum bisa bayar utang di warung,” katanya lirih.
Aku menggeleng. “Saya bukan datang menagih.”
Matanya berkaca kaca ketika menerima bungkusan itu.
Di belakangnya, anak bungsunya berdiri diam. Tubuhnya kurus. Matanya cekung. Wajahnya sangat familiar.
Aku seperti sedang melihat diriku sendiri puluhan tahun lalu.
Langkah kakiku terasa goyah ketika keluar dari rumah itu.
Sore harinya, aku kembali berdiri memandangi menara yang hampir setengah jadi. Para tukang masih bekerja. Orang orang memuji kemegahannya setiap kali lewat.
Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat menara itu sebagai kebanggaan.
Aku melihatnya sebagai pengingat.
Bukan pengingat tentang betapa tingginya bangunan itu akan berdiri.
Tapi pengingat tentang betapa rendahnya aku pernah lupa. (#)
Penyunting Ichwan Arif












