
Di sebuah panti jompo, seorang ibu menunggu anaknya yang tak pernah kembali. Hingga suatu senja, seseorang yang bukan siapa-siapa justru memilih untuk tetap tinggal.
Cerpen oleh Mochammad Nor Qomari, Guru SMP Muhammadiyah 12 GKB
Tagar.co – Senja turun perlahan, menyapu langit dengan warna jingga yang mulai pudar. Di serambi masjid kecil itu, cahaya terakhir hari memantul lembut di lantai yang mulai dingin.
Satu per satu para lansia datang.
Langkah mereka pelan. Ada yang bertumpu pada tongkat, ada yang didorong kursi roda. Tak banyak suara, hanya gesekan sandal dan napas yang tertahan usia.
Klik dan baca! Kumpulan cerpen Mochammad Nor Qomari
Di barisan depan, Mbok Sutarmi sudah duduk lebih dulu.
Tangannya kurus, jemarinya saling menggenggam di pangkuan. Jilbabnya sedikit bergeser, memperlihatkan rambut putih yang tak lagi sempat ia rapikan sendiri.
Ia menatap ke depan, tapi sebenarnya tidak melihat apa-apa.
Pikirannya melayang ke tempat lain.
Lima tahun lalu.
“Mak, nanti kami pasti pulang. Tiap tahun,” kata anaknya, tergesa di depan pintu.
Ia masih ingat betul suara koper ditarik, suara mesin mobil menjauh, dan dirinya yang berdiri lama di depan rumah… menunggu sampai suara itu benar-benar hilang.
Sejak itu, yang datang hanya kabar. Lalu semakin jarang. Lalu tidak sama sekali.
Sampai akhirnya, ia dibawa ke tempat ini.
“Biar ada yang ngurus, Mak.”
Ia tidak menolak. Tapi juga tidak pernah benar-benar menerima.
Lantunan Al-Qur’an mengalun pelan, mengisi ruang masjid.
Ayat demi ayat dibaca dengan suara yang tenang, seolah mengusap sesuatu yang tak terlihat di dalam dada.
Mbok Sutarmi menunduk.
Entah sejak kapan, air matanya jatuh.
Bukan karena ia memahami semua yang dibaca.
Tapi karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama… hatinya terasa tidak sendirian.
Doa selesai. Suasana hening sejenak.
Lalu suara ustadz itu terdengar, lembut dan dekat.
“Bapak ibu… kita mungkin tidak bersama keluarga di rumah,” katanya pelan, “tapi insyaAllah, kita tidak sendiri.”
Beberapa kepala mengangguk.
Beberapa hanya diam, menggigit bibir, menahan sesuatu yang hampir tumpah.
Waktu terasa berjalan terlalu cepat.
“Bapak ibu, kami mohon izin pamit,” ujar Ustadz Hamdan.
Langkah para santri mulai beranjak.
Lalu—
“Hamdaaaaan…!”
Suara itu pecah.
Serak. Dalam. Menahan sesuatu yang sudah terlalu lama dipendam.
Semua orang menoleh.
Mbok Sutarmi menangis.
Bukan tangis pelan.
Bukan tangis yang ditahan.
Tapi tangis seseorang yang sudah terlalu sering menunggu… dan terlalu sering ditinggalkan.
“Kamu tetap di sini…” suaranya bergetar, “jangan tinggalkan kami…”
Tak ada yang bergerak.
Seisi masjid seperti menahan napas.
Ustadz Hamdan berhenti.
Langkahnya kaku. Matanya mulai basah.
Ia mendekat perlahan, lalu berlutut di hadapan Mbok Sutarmi.
“Mbok…” suaranya nyaris tak terdengar.
Tangis itu belum berhenti.
Seolah semua sepi selama bertahun-tahun keluar sekaligus.
Ia menoleh sebentar ke arah pengurus panti. Tak banyak kata. Hanya tatapan yang saling mengerti.
Lalu ia menarik napas panjang.
“Njih, Mbok…” katanya akhirnya.
Ia menatap wajah renta itu, lebih lama dari sebelumnya.
“Saya di sini.”
Sunyi.
Sepersekian detik yang terasa panjang.
“Saya temani sampai Idul Fitri.”
Seperti sesuatu yang dilepas bersamaan—
Suara haru pecah.
Ada yang tertawa sambil menangis.
Ada yang menepuk tangan pelan.
Ada yang hanya menunduk, bahunya bergetar.
Mbok Sutarmi tersenyum di tengah air matanya.
Senyum yang sederhana. Tapi utuh.
“Maturnuwun, Le…” bisiknya.
Langit semakin gelap. Sisa cahaya senja perlahan menghilang.
Di ruang makan, mereka duduk bersama.
Kurma berpindah dari tangan ke tangan. Teh hangat mengepul tipis. Tidak ada yang istimewa dari hidangan itu.
Tapi malam itu terasa berbeda.
Seolah ada ruang kosong yang perlahan terisi.
Takbir mulai berkumandang.
“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Suara itu menggema, menembus dinding, masuk ke dalam dada.
Mbok Sutarmi menggenggam tangan perawat di sampingnya.
“Nduk…” suaranya pelan, “aku kangen…”
Ia berhenti. Napasnya tertahan.
“Kangen anakku…”
Tak ada jawaban cepat. Hanya genggaman yang menguat.
“Yo wis…” lanjutnya lirih, “mungkin… memang di sini tempatku sekarang…”
Ia tidak lagi menangis.
Hanya menatap ke depan, lebih tenang dari sebelumnya.
Malam itu, doa dipanjatkan dengan suara yang patah-patah.
Bukan karena ragu.
Tapi karena terlalu banyak yang ingin dilepaskan.
Tentang masa lalu.
Tentang penantian.
Tentang nama-nama yang masih tinggal di hati.
Di masjid kecil itu, tidak semua orang mendapatkan kembali apa yang mereka rindukan.
Tidak semua yang hilang kembali pulang.
Tapi malam itu, ada yang memilih tinggal.
Dan entah sejak kapan, rasa sepi yang dulu begitu penuh… mulai berkurang.
Sedikit demi sedikit.
Seperti senja yang meredup—
tidak benar-benar hilang,
hanya berubah menjadi tenang. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












