
Tagar.co – Berbagi pengalaman berorganisasi diceritakan oleh Wakil Ketua II DPRD Lamongan, Husen, S.Ag., M.Pd., dalam penutupan Pelatihan Kader Madya Taruna Melati II (PKMTM II) dan Pelatihan Digital IPM, Ahad (15/3/2026).
Acara ini diadakan oleh Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Lamongan di SMK Muhammadiyah 6 Modo selama tiga hari, Jumat hingga Ahad (13–15 Maret 2026).
Pelatihan mengusung tema Genealogi Kepemimpinan Berdampak: Pengejawentahan Cita dan Nalar Transformatif.
Berbagi pengalaman, dia mengatakan, merasa dekat dengan kegiatan kaderisasi seperti yang dilakukan IPM karena dirinya juga lahir dari proses organisasi.
“Saya sangat suka dan bahagia dengan pergerakan seperti ini, karena saya juga termasuk hasil dari proses pengkaderan,” ujar Husen yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Lamongan.
Dia menceritakan perjalanan hidupnya di dunia organisasi yang menurutnya membuka banyak peluang dalam kehidupan.
Menurutnya, saat aktif berorganisasi dahulu ia tidak pernah membayangkan bahwa pengalaman tersebut akan membawanya pada posisi penting seperti saat ini.
“Saya dulu tidak pernah membayangkan akan menjadi ketua partai, menjadi anggota DPRD, apalagi sampai menjadi Wakil Ketua DPRD,” ungkapnya.
Husen mengatakan, pengalaman berorganisasi yang panjang bisa membentuk karakter, kemampuan berpikir, dan jaringan yang akhirnya mengantarkannya pada berbagai tanggung jawab tersebut.
Menghadapi tantangan saat ini, dia mengingatkan kader muda untuk memahami era post-truth yang yang dibentuk oleh media sosial. Satu kondisi zaman ketika opini publik lebih banyak dipengaruhi oleh persepsi, emosi, dan keyakinan seseorang dibandingkan fakta.
Dalam situasi tersebut, Husen menilai organisasi memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang memiliki integritas, kemampuan berpikir kritis, serta ketahanan mental menghadapi berbagai tantangan zaman.
Ia mengibaratkan proses kaderisasi sebagai baju besi yang akan melindungi seseorang ketika menghadapi kehidupan di masa depan.
Dia juga menegaskan seseorang yang aktif dalam organisasi memiliki perbedaan dibandingkan dengan masyarakat umum. Karena pengalaman organisasi akan membentuk rekam jejak (track record) yang berharga dalam perjalanan hidup.
“Harus ada bedanya antara orang yang berorganisasi dengan masyarakat umum. Proses pengkaderan itu akan membentuk track record kita,” ujarnya.
Manfaat dari proses kaderisasi, sambungnya, tidak langsung dirasakan saat ini, tetapi akan memberikan dampak besar di masa depan. (#)
Jurnalis As’ad Fauzuddin Khunaifi Penyunting Sugeng Purwanto












