Opini

Kematian Sekutu Amerika-Israel di Tangan Iran

34439
×

Kematian Sekutu Amerika-Israel di Tangan Iran

Sebarkan artikel ini
Kematian Amerika-Israel di Tangan Iran
Profesor Jiang Xueqin

Ternyata perang tidak sepenuhnya dipicu ambisi Israel dan Amerika, melainkan ada skenario jahat. Desakan Arab Saudi secara diam-diam, membujuk Netanyahu dan Trump untuk menggempur Iran.

​Oleh Dr. Eko Wahyuanto, dosen

Tagar.co – Membaca ramalan Profesor Jiang Xueqin asal Cina, tentang perang asimetris antara Iran melawan Israel dan Amerika, sangat mengerikan.

Ternyata perang tidak sepenuhnya dipicu ambisi Israel dan Amerika, melainkan ada skenario jahat. Desakan Arab Saudi secara diam-diam, membujuk Netanyahu dan Trump untuk menggempur Iran.

Alasannya, Iran menjadi penyumbang dana terbesar Hamas dan Hizbullah yang menjadi ancaman Israel. Iran juga menjadi sandungan bagi posisi Kerajaan, yang sewaktu-waktu mengancam posisinya.

Tiga ramalan besar Profesor Jiang Xueqin sebelumnya menjadi realitas geopolitik untuk menyingkap tabir gelap perang Iran-Israel-Amerika dengan operator  di belakang layar Arab Saudi.

Sebelum perang terjadi Jiang memprediksi kembalinya Donald Trump dan eskalasi di Timur Tengah, dan terbukti.

Jiang kini mengarahkan perhatian pada tesisnya paling radikal, bukan soal Amerika yang ingin menguasai ladang minyak Iran, namun fakta tentang pemberian dana sogokan kerajaan Arab Saudi kepada Trump lewat investasi menantu Trump sebesar sekitar 22 triliun. Jika barat mengetahui suap ini reputasi Trump makin jatuh.

Profesor Jiang juga memprediksi bahwa perang ini pasti dimenangkan Iran dan Amerika akan mundur, setelah dorongan agresif Arab Saudi kepadanya akan terbongkar oleh dunia internasional.

Penelitaian Jiang meyakini Kerajaan Arab Saudi secara sistematis memprovokasi militer Amerika untuk menghancurkan Teheran.

​Riyadh Arsitek di Balik Layar

​Fakta geopolitik menunjukkan, konfrontasi di Teluk Persia bukan agenda murni Washington, Analisis Jiang, motor penggerak adalah Arab Saudi dengan menggunakan kekuasaan lobi dan finansialnya untuk menyeret Amerika ke dalam perangkap maut Teluk Persia.

Baca Juga:  Reset Amerika dan Pergeseran Kekuatan Dunia

Alasannya, pengaruh kuat Iran untuk negara-negara sekitar, dan persenjataan rudal serta kekuatan nuklir, menjadi momok bagi Arab Saudi. Sehingga Saudi melakukan apa yang disebut sebagai pembujukan strategis. Dengan menjadikan militer Barat sebagai tameng pemukul Iran.

Strategi meminjam tangan pihak ketiga ini mengandung cacat filosofis mendalam. Jiang menekankan bahwa Pentagon masih terbelenggu doktrin beheading (pemenggalan), yang berasumsi bahwa penghancuran pusat komando akan meruntuhkan moral lawan. Itu tidak terbukti untuk Iran.

Di tanah Persia, doktrin ini akan membentur dinding keras. Iran bukan sekadar negara dengan struktur birokrasi, melainkan entitas pertahanan rakyat semesta yang terdesentralisasi.

Secara topografis, geografi Iran yang bergunung-gunung akan menjadi medan mematikan dan menelan setiap upaya invasi darat aliansi.

​Blokade Hormuz

​Poin krusial prediksi Jiang yang jarang dibahas secara mendalam oleh para pengamat adalah konsekuensi dari penutupan Selat Hormuz bagi negara-negara Arab.

Selama ini dunia hanya panik soal pasokan minyak, namun Jiang menyoroti sisi lebih gelap, yakni hancurnya kedaulatan pangan kawasan Arab.

Data menunjukkan bahwa negara-negara di jazirah Arab, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar, rata-rata mengimpor hingga 80-90% kebutuhan pangan mereka.

Selat Hormuz bukan hanya jalur keluar minyak, tetapi jalur masuk utama bagi kapal-kapal kargo pengangkut gandum, daging, dan kebutuhan pokok dari pasar internasional.

Jika Iran merealisasikan ancamannya untuk menutup selat tersebut sebagai balasan atas agresi Amerika-Saudi, maka negara-negara Arab akan menghadapi ancaman kelaparan massal dalam hitungan minggu.

Baca Juga:  Takbir di Bawah Bayang-Bayang Bom

Ancaman Iran ini yang disebut Profesor Jiang sebagai bentuk pengepungan ekonomi total yang tidak memerlukan satu butir peluru pun untuk meruntuhkan stabilitas domestik lawan. Ketergantungan absolut pada impor pangan menjadikan Arab Saudi sangat rentan terhadap taktik blokade Iran.

​Skakmat Krisis Air Bersih

​Selain pangan, Jiang menunjuk pada titik nadi paling lebih rapuh yakni fasilitas desalinasi. Arab Saudi dan negara sekitar adalah entitas modern yang secara fisik mustahil bertahan hidup tanpa teknologi penyulingan air laut.

Kota-kota besar seperti Riyadh, Jeddah, dan Bahrain bergantung sepenuhnya pada instalasi desalinasi raksasa yang terletak di pesisir.

​Dalam skenario Jiang, Iran tidak akan membuang energi untuk menginvasi daratan Saudi. Mereka cukup melancarkan serangan rudal presisi terhadap instalasi-instalasi desalinasi tersebut.

Strategi ini skakmat taktis Iran. Tanpa akses air bersih, moral penduduk akan runtuh seketika. Krisis air akan memicu kerusuhan internal jauh lebih destruktif daripada agresi militer mana pun.

Iran melumpuhkan musuh dari sisi fondasi kehidupan paling dasar, memaksa aliansi tersebut untuk menghentikan agresi demi menyelamatkan eksistensi rakyat mereka sendiri.

Kemenangan Iran dalam prediksi Jiang tidak akan diraih melalui superioritas teknologi, melainkan melalui daya tahan (war of attrition).

Iran telah mempelajari setiap lubang kegagalan Amerika di Afghanistan dan Irak selama dua dekade terakhir.

Mereka akan menyeret Amerika ke dalam perang urat saraf yang menghabiskan sumber daya finansial dan prestise politik hingga mencapai titik kelelahan kekaisaran (strategic overstretch).

​Konfrontasi ini pada akhirnya akan menjadi batu nisan bagi Pax Americana. Kemenangan strategis Iran akan menandai berakhirnya era di mana Amerika Serikat dapat mendikte nasib Timur Tengah sesuka hati.

Baca Juga:  Kontrak Tersembunyi di Balik Gencatan Senjata

Bagi Jiang, ini adalah pergeseran poros sejarah; sebuah momentum di mana kesombongan kekuatan militer harus bertekuk lutut di hadapan kearifan lokal, kemandirian pangan dan pemanfaatan kerentanan sumber daya vital.

Catatan Penting

Perang ini mengajarkan kita bahwa kekuatan senjata tercanggih sekalipun tidak akan mampu menang melawan hukum alam dan ketergantungan sumber daya paling dasar.

Niat jahat Arab Saudi, yang berharap menghancurkan tetangganya sendiri yang notabene sesama muslim melalui tangan pihak ketiga, justru harus bersiap menghadapi realitas pahit.

Pasokan pangan terhenti, sumber air bersih hancur dan dan runtuhnya perlindungan keamanan Barat di kawasan tersebut.

​Prediksi Profesor Jiang Xueqin sekaligus peringatan keras bagi para pemimpin dunia. Dalam teater perang modern, kemenangan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki hulu ledak terbanyak, melainkan oleh siapa yang paling mampu menjaga akses terhadap sumber pangan dan kemandirian.

Mengingatkan kita pada gebrakan Presiden Prabowo Subianto tentang upaya ambisius membangun kemandirian pangan dan energi.

Memang kita tidak sedang menghadapi perang seperti negara-negara Timur Tengah. Tetapi jika hal buruk terjadi, perang meluas di mana suplai sumber pangan yang selama ini bergantung pada impor terganggu, maka rakyat Indonesia masih bisa eksis dengan ketahanan pangan sendiri.

Pelajaran lain mencatat, ketika ada pihak yang sengaja merusak keamanan dan stabilitas kolektif dalam komunitasnya sendiri, maka dia dihukum oleh sikapnya sendiri. Apa yang dilakukan Arab Saudi adalah blunder besar. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto