Feature

Pesantren Muhammadiyah Didorong Jadi Pelopor Hemat Energi lewat Gerakan 1000 Cahaya

104
×

Pesantren Muhammadiyah Didorong Jadi Pelopor Hemat Energi lewat Gerakan 1000 Cahaya

Sebarkan artikel ini

Empat puluh pesantren Muhammadiyah berkumpul di Banyumas membahas efisiensi listrik dan energi surya. Dari ruang kelas hingga masjid, budaya hemat energi mulai ditanamkan.

Tagar.co – Upaya membangun kemandirian energi dan menumbuhkan budaya hemat listrik di lingkungan pesantren mulai digerakkan secara lebih terstruktur.

Selama tiga hari, 27 Februari–1 Maret 2026, Program 1000 Cahaya Muhammadiyah bersama Lembaga Pengembangan Pesantren (LPP) PP Muhammadiyah menggelar Lokakarya Efisiensi dan Transisi Energi Listrik di Aula Pondok Pesantren Zam-Zam Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah.

Baca juga: Pesantren Muhammadiyah Didorong Jadi Pelopor Hemat Energi lewat Gerakan 1000 Cahaya

Lokakarya ini diikuti sekitar 40 perwakilan pesantren Muhammadiyah dari berbagai daerah. Mereka berkumpul untuk mendiskusikan langkah konkret penghematan energi sekaligus membuka peluang pemanfaatan energi terbarukan, khususnya panel surya, di lingkungan pesantren.

Kegiatan ini berangkat dari kenyataan bahwa bauran energi listrik nasional masih didominasi energi fosil, sementara kontribusi energi terbarukan belum optimal. Di sisi lain, pesantren sebagai lembaga pendidikan yang sekaligus menjadi tempat tinggal para santri memiliki konsumsi energi yang cukup besar—mulai dari ruang kelas, asrama, dapur, hingga masjid.

Tidak Sekadar Proyek Teknis

Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah sekaligus pengarah Program 1000 Cahaya, Hening Parlan, menegaskan bahwa gerakan ini tidak sekadar proyek teknis pemasangan panel surya.

“Ini bagian dari ikhtiar Islam Berkemajuan. Kita ingin membuktikan bahwa nilai amanah sebagai khalifah di bumi diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk dalam cara kita mengelola energi,” ujarnya.

Baca Juga:  Dari Meja Buka Puasa ke Aksi Lingkungan, Eco Bhinneka Muhammadiyah Satukan Tokoh Lintas Iman

Ia menjelaskan, istilah “Cahaya Muhammadiyah” juga memiliki akar kolaborasi global lintas agama yang sejak 2020 mendorong transisi energi berkeadilan di lebih dari 70 negara.

“Isu energi bukan hanya persoalan internal. Ini isu kemanusiaan. Karena itu Muhammadiyah berkomitmen membangun kolaborasi lintas iman untuk mendorong transisi energi yang adil dan berkelanjutan,” kata Hening.

Menurutnya, pesantren dan masjid dipilih sebagai titik awal gerakan karena keduanya merupakan pusat pembentukan nilai dan karakter.

“Kalau budaya hemat energi tumbuh di pesantren, ia tidak berhenti di pagar pondok. Para santri akan membawanya pulang ke keluarga dan masyarakat. Dari sana ia bisa menjadi gerakan sosial yang lebih luas,” tuturnya.

Pengarah program lainnya, Ahsan Jamet Hamidi, menyoroti kekuatan jaringan Muhammadiyah yang menjangkau hingga tingkat akar rumput.

“Muḥammadiyah memiliki masjid, sekolah, pesantren, dan jaringan organisasi yang sangat luas. Jika semuanya bergerak bersama, hemat energi tidak lagi sekadar wacana, tetapi bisa menjadi budaya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Muhammadiyah sebenarnya telah memiliki banyak pengalaman dalam gerakan lingkungan hidup. Tantangannya adalah menyusun target yang jelas dan menjadikannya sebagai gerakan yang lebih sistematis.

“Energi adalah pintu masuk yang sangat strategis,” katanya.

Baca Juga:  UAD Sambut Kunjungan Duta Besar Inggris, Perkuat Kolaborasi Transisi Energi Berkeadilan

Perubahan Perilaku

Dalam sesi paparan kebijakan energi nasional, Sudarto M. Abu Kasim, Wakil Direktur Program 1000 Cahaya, mengingatkan bahwa efisiensi energi selalu bermula dari perubahan perilaku.

“Bayangkan jika satu rumah menghemat satu kWh listrik. Jika itu dilakukan oleh 20 ribu rumah, dampaknya akan sangat besar. Teknologi penting, tetapi perubahan perilaku jauh lebih menentukan,” tegasnya.

Sudarto juga mengingatkan bahwa penggunaan panel surya membutuhkan pengelolaan yang matang.

“Instalasi panel surya bukan sekadar simbol modernisasi. Ia membutuhkan perawatan, manajemen, dan pemahaman administrasi, terutama jika menggunakan sistem on-grid yang terhubung dengan PLN. Jangan sampai semangatnya besar, tetapi pengelolaannya lemah,” ujarnya.

Dalam lokakarya tersebut, sejumlah praktik baik juga dipaparkan. Beberapa pesantren di Jawa Timur tercatat mampu menurunkan konsumsi listrik sekitar 15–22 persen melalui berbagai langkah efisiensi. Di Lamongan, misalnya, penghematan mencapai sekitar 15 persen, sementara perguruan tinggi Muhammadiyah mencatat rata-rata efisiensi sekitar 8 persen.

Secara keseluruhan, sekitar 28 instalasi panel surya telah terpasang di lingkungan Muhammadiyah, mulai dari masjid, sekolah, hingga rumah sakit.

Disambut Antusias Pesantren

Mudir Pesantren Zam-Zam Cilongok, Arif Fauzi, menyambut baik penyelenggaraan kegiatan ini.

“Kami merasa terhormat menjadi tuan rumah. Pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter yang peduli terhadap lingkungan,” ujarnya.

Baca Juga:  UAD Sambut Kunjungan Duta Besar Inggris, Perkuat Kolaborasi Transisi Energi Berkeadilan

Senada dengan itu, Dr. A. Sulaeman, Ketua LPP2M PDM Banyumas, menilai lokakarya ini sebagai langkah strategis di tengah tantangan krisis energi dan perubahan iklim.

“Efisiensi dan transisi energi bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. Pesantren harus mampu menjadi teladan,” katanya.

Dalam diskusi yang berlangsung dinamis, para peserta juga mengangkat berbagai tantangan di lapangan, mulai dari biaya investasi awal panel surya, perawatan instalasi, hingga administrasi dengan PLN.

Beberapa peserta bahkan mengusulkan agar energi surya dikombinasikan dengan program pertanian, peternakan, dan biogas guna memperkuat kemandirian ekonomi pesantren.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Sudarto menyarankan pendekatan yang bertahap.

“Mulailah dari skala kecil, misalnya untuk penerangan masjid atau satu gedung kelas. Identifikasi dulu titik konsumsi listrik terbesar. Jangan langsung semuanya,” ujarnya.

Di akhir lokakarya, Hening Parlan kembali mengingatkan bahwa energi matahari adalah anugerah yang melimpah bagi Indonesia.

“Tantangan kita bukan pada ketersediaannya, tetapi pada kesiapan untuk mengelolanya. Jika direncanakan dengan baik dan dirawat secara benar, energi surya bisa menjadi investasi jangka panjang bagi kemandirian pesantren,” katanya.

Dari Banyumas, gerakan kecil ini diharapkan menjadi cahaya yang menuntun pesantren menuju masa depan yang lebih hemat energi, mandiri, dan berkelanjutan. (#)

Jurnalis Sukowati Utami Penyunting Mohammad Nurfatoni