
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjelaskan sejarah turunnya Al-Qur’an, makna tilawah, serta pentingnya membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an dalam ceramah Nuzulul Qur’an di Kudus.
Tagar.co — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyampaikan ceramah bertema Nuzululqur’an di Masjid Hajjah Kartinah, Getassrabi, Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Rabu (4/3/2026).
Dalam ceramah tersebut, ia mengulas Al-Qur’an dari tiga perspektif utama: sejarah turunnya wahyu, nilai pendidikan, dan dimensi ibadah yang terkandung di dalamnya.
Baca juga” Ceramah Tarawih Abdul Mu’ti: Lima Kemuliaan Ramadan yang Perlu Dimaksimalkan
Abdul Mu’ti memulai penjelasannya dari sisi sejarah turunnya Al-Qur’an. Ia menerangkan bahwa proses turunnya Al-Qur’an terjadi dalam dua tahap.
Pertama, Al-Qur’an diturunkan dari Sidratulmuntaha ke langit dunia secara sekaligus dalam satu malam, yakni Lailatulqadar, dengan jumlah lengkap 30 juz sebagaimana susunan yang dikenal saat ini.
Peristiwa ini sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Qadr:
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatulqadar.”
Tahap kedua adalah turunnya Al-Qur’an dari langit dunia kepada Nabi Muhammad Saw. secara berangsur-angsur selama masa kenabian. Pada fase ini, ayat-ayat tidak turun secara berurutan seperti dalam mushaf saat ini.
Menurut para ahli tafsir, ayat pertama yang turun adalah Surah Al-‘Alaq ayat 1–5:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ
خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ
اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ
الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ
عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Mu’ti menjelaskan bahwa susunan Al-Qur’an yang rapi seperti sekarang tidak lepas dari peran Nabi Muhammad Saw. yang memerintahkan para sahabat untuk menghafal dan menuliskan wahyu setiap kali turun. Para sahabat menghafal sekaligus mencatat ayat-ayat tersebut dengan berbagai tanda bacaan.
“Karena diajarkan secara bersambung dari generasi ke generasi, Al-Qur’an tetap sama di mana pun. Al-Qur’an yang dibaca oleh umat Syiah maupun Sunni pada dasarnya sama,” jelasnya.
Pendidikan Tidak Mengenal Usia
Dalam perspektif pendidikan, Mu’ti menyoroti fakta bahwa Nabi Muhammad Saw. menerima wahyu pertama saat berusia 40 tahun. Hal ini, menurutnya, menunjukkan bahwa proses belajar tidak mengenal batas usia.
“Jangan merasa sudah tua lalu tidak mau belajar. Dalam pendidikan, ini disebut sebagai belajar sepanjang hayat,” tegasnya.
Ia juga menyinggung manfaat membaca Al-Qur’an bagi kesehatan kognitif. Menurutnya, kebiasaan membaca Al-Qur’an dapat membantu menjaga ketajaman ingatan.
“Orang yang sering membaca Al-Qur’an biasanya tidak cepat pikun. Jika seseorang banyak membaca Al-Qur’an, ingatannya akan menjadi lebih kuat,” ujarnya.
Makna Tilawah Al-Qur’an
Abdul Mu’ti kemudian menjelaskan dimensi ibadah dalam tilawah Al-Qur’an. Ia menegaskan bahwa membaca Al-Qur’an tidak sekadar melafalkan ayat, tetapi juga memahami dan mengamalkannya.
Ia mengutip Surah Al-‘Ankabut 45:
اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ
“Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (Al-‘Ankabut 45)
Mu’ti menjelaskan bahwa kata tilawah (تِلَاوَة) berasal dari fiil madi tala (تَلَا) yang berarti mengikuti sesuatu dari belakang dengan jarak yang sangat dekat. Dengan demikian, tilawah tidak hanya berarti membaca, tetapi juga mengikuti ajaran Al-Qur’an secara nyata.
Empat Dimensi Tilawah
Mengutip penjelasan Abdullah Yusuf Ali dalam tafsir The Meaning of the Glorious Qur’an (1934), Mu’ti menyebutkan bahwa tilawah Al-Qur’an mencakup empat dimensi utama.
Pertama, membaca Al-Qur’an sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad Saw. kepada para sahabat, kemudian diteruskan kepada tabi’in, hingga sampai kepada umat Islam saat ini. Al-Qur’an pada awalnya diturunkan dalam bentuk bacaan, bukan tulisan. Karena itu, belajar Al-Qur’an sebaiknya dilakukan dengan bimbingan guru.
Kedua, memahami Al-Qur’an dengan pendekatan yang mendalam. Ia menjelaskan bahwa pemahaman Al-Qur’an dapat dilakukan melalui dua pendekatan utama, yaitu tafsir bil ma’tsur dan tafsir bil ra’yi. Tafsir bil ma’tsur menjelaskan Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an lainnya atau dengan hadis Nabi Saw. Sementara tafsir bil ra’yi menggunakan pendekatan ijtihad ilmiah.
Mu’ti juga mengutip pandangan pemikir Islam Fazlur Rahman yang menyebut bahwa Al-Qur’an pada dasarnya memiliki kemampuan menjelaskan dirinya sendiri (self-explanation).
Ketiga, mengamalkan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan pribadi. Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah hudan lin-nas (petunjuk bagi manusia) sekaligus mau‘izhah (nasihat). Karena itu, ketika membaca Al-Qur’an, seorang Muslim seharusnya melakukan muhasabah.
“Bayangkan ketika membaca Al-Qur’an seolah-olah kita sedang berhadapan langsung dengan Allah. Jika itu larangan, apakah sudah kita tinggalkan? Jika itu perintah, apakah sudah kita jalankan?” ujarnya.
Keempat, mendakwahkan Al-Qur’an dengan membuktikan kebenaran nilai-nilainya dalam kehidupan nyata. Ia mencontohkan firman Allah dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11:
وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ
“Apabila dikatakan, ‘Berdirilah,’ maka berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (Al-Mujadilah 11)
Menurut Mu’ti, ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Karena itu, umat Islam harus mampu membuktikan kebenaran Al-Qur’an dengan membangun tradisi keilmuan dan pendidikan.
Di akhir ceramahnya, Mu’ti mengingatkan bahwa kegiatan seperti Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tidak boleh berhenti pada aspek membaca semata.
“MTQ tidak cukup hanya membaca Al-Qur’an. Itu belum cukup. Harus disertai dengan memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan,” ujarnya. (#)
Jurnalsi Azaki Khoirudin Penyunting Mohammad Nurfatoni












