Feature

Din Syamsuddin: Kematian Khamenei Jadi Amunisi Baru Iran Lawan Israel dan AS

169
×

Din Syamsuddin: Kematian Khamenei Jadi Amunisi Baru Iran Lawan Israel dan AS

Sebarkan artikel ini
Ayatullah Ali Khamenei

Din Syamsuddin menilai kesyahidan Ali Khamenei berpotensi mengonsolidasikan kekuatan Iran sekaligus menjadi amunisi baru untuk memperkuat perlawanan terhadap Israel dan Amerika Serikat.

Tagar.co  — Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta M. Din Syamsuddin menyatakan bahwa kematian Ayatullah Ali Khamenei berpotensi memicu eskalasi baru konflik di Timur Tengah.

Din menegaskan, dari perspektif kemanusiaan, pembunuhan terhadap seorang pemimpin negara dan sejumlah jenderal Iran merupakan tindakan yang patut dikecam keras.

Baca juga: Din Syamsuddin: PBB Harus Tegas atas Serangan Israel–AS ke Iran

“Manusia berhati nurani tentu mengecam pembunuhan Ayatullah Ali Khamenei dan beberapa jenderal Iran sebagai perbuatan keji dan kejam,” ujarnya dalam pernyataan tertulis kepada Tagar.co, Selasa pagi (3/3/2026).

Ia menilai tindakan tersebut melanggar hak asasi manusia dan hukum internasional, bahkan menyebutnya sebagai bentuk terorisme nyata.

Namun, di balik kecaman moral itu, Din melihat kemungkinan dampak strategis yang justru menguatkan posisi Iran.

“Amunisi Baru” bagi Iran

Menurut Ketua Poros Dunia Wasatiyat Islam itu, kesyahidan pemimpin spiritual Iran berpotensi menjadi pemicu konsolidasi nasional sekaligus amunisi baru bagi Teheran untuk melancarkan serangan balasan terhadap Israel dan kepentingan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga:  Seberapa Besar Dunia Mendukung Iran?

Ia menilai Iran tidak hanya memiliki kapasitas persenjataan besar—yang menurutnya bahkan bisa melampaui data terbuka—tetapi juga berpeluang memperoleh lonjakan semangat tempur.

“Iran akan menemukan semangat baru untuk berperang,” ujarnya.

Din menggambarkan rakyat Iran sebagai bangsa dengan memori kejayaan masa lalu dan daya juang tinggi. Dalam situasi krisis, ia memperkirakan publik Iran akan bangkit dalam kemarahan kolektif dan memberikan dukungan penuh kepada Garda Revolusi.

Dalam analisisnya, kelompok oposisi yang selama ini dipersepsikan dekat dengan Amerika Serikat berpotensi terdesak oleh gelombang solidaritas domestik tersebut.

Israel dan AS Diprediksi Tertekan

Lebih jauh, Din memproyeksikan Israel dan Amerika Serikat bisa menghadapi tekanan berat apabila eskalasi benar-benar terjadi. Ia bahkan membuka kemungkinan kedua pihak akan terdorong mencari jalan keluar politik.

“Boleh jadi akan mencari cara untuk menyerah atau menawarkan gencatan senjata,” tulisnya.

Ia juga menyinggung potensi meningkatnya kerentanan Tel Aviv serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan dalam hari-hari mendatang apabila konflik membesar.

Seruan Solidaritas Dunia Islam

Dalam pernyataannya, Din turut menyerukan negara-negara Arab dan anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk menunjukkan solidaritas keislaman dan kemanusiaan.

Ketua World Peace Forum tersebut menilai momentum ini seharusnya digunakan untuk mengakhiri apa yang ia sebut sebagai keangkuhan, ketidakadilan, dan kezaliman Israel serta Amerika Serikat.

Pada saat yang sama, Din mengingatkan pentingnya menghindari politik pecah belah berbasis mazhab. Menurutnya, umat Islam global sudah cukup matang untuk tidak terpengaruh skema divide et impera antara Sunni dan Syiah.

Baca Juga:  Takbir di Bawah Bayang-Bayang Bom

Dorong Sikap Tegas Indonesia

Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005–2010 dan 2010–2015 itu juga menyoroti posisi Indonesia. Ia menegaskan bahwa amanat konstitusi menuntut Indonesia bersikap tegas menentang segala bentuk penjajahan dan agresi antarnegara.

Karena itu, ia mendorong Presiden Prabowo Subianto untuk mengevaluasi sejumlah sikap kebijakan luar negeri, termasuk mempertimbangkan keluar dari forum yang ia sebut sebagai Board of Peace.

Bahkan, Din memandang Board of Peace sebagai klaim perdamaian semu yang, menurutnya, justru berpotensi menjadi “dewan peperangan dan penjajahan baru”.

Ia juga mengkritisi pernyataan Presiden Prabowo tentang pentingnya menjamin keamanan Israel, yang menurutnya merupakan logika terbalik jika tidak dibarengi komitmen pada keadilan yang menyeluruh.

Menurut Din, Indonesia harus konsisten dan konsekuen menjalankan politik luar negeri bebas aktif dengan mengedepankan keadilan, kemerdekaan, dan perdamaian sejati, serta tidak terjebak dalam permainan politik global yang ia nilai bercorak kolonialistik dan imperialistik.

Ia menambahkan, Presiden Prabowo perlu meneladani sikap para pendahulu, seperti Presiden Sukarno dan Presiden Soeharto, yang dinilainya tegas dan lugas dalam menghadapi neo-kolonialisme dan imperialisme (Nekolim). (#)

Baca Juga:  Ketahanan Industri Umrah Indonesia di Tengah Gejolak Timur Tengah

Penyunting Mohammad Nurfatoni