
Di bawah kubah yang megah, seorang lelaki tua menemukan rezekinya bukan dari sedekah—melainkan dari sisa makanan yang kita buang.
Cerpen oleh Aji Damanuri
Tagar.co – Malam itu, Ramadan menggantungkan dinginnya di udara seperti napas panjang yang ditahan langit. Di halaman masjid besar—yang kubahnya berkilau oleh lampu dan kebanggaan—aroma lauk iftar masih mengambang: gurih santan, manis kolak, dan wangi nasi hangat yang kini mulai berubah menjadi sisa.
Di sudut dekat tempat sampah, di balik bayangan pagar dan deretan sepatu jemaah yang tertata rapi, seorang lelaki tua membungkuk.
Baca cerpen lainnya: Rentenir Religius
Tubuhnya kurus seperti huruf yang hampir terhapus dari kitab kehidupan. Punggungnya melengkung. Bukan hanya oleh usia, tetapi oleh waktu yang terlalu lama berjalan sendirian. Janggut putihnya tipis dan kusut. Bukan putih kemuliaan—lebih mirip putih yang lahir dari hari-hari panjang tanpa cukup makan.
Namanya tak pernah tercatat di papan infak.
Suaranya tak pernah terdengar di mimbar.
Doanya tak dikenal panitia.
Ia hanyalah seorang pengemis tua—tunawisma—yang malam itu mengais sisa makanan di tempat sampah masjid.
Tangannya gemetar saat membuka plastik hitam. Plastik itu berkeresek pelan, nyaring di tengah halaman yang mulai sepi. Ia berhenti sejenak, menoleh ke kanan-kiri—bukan karena malu, melainkan kebiasaan panjang hidup di pinggir.
Matanya tiba-tiba berbinar.
Sebungkus nasi. Masih setengah utuh.
Ia membuka lipatan kertas minyak dengan hati-hati, seperti seseorang yang sedang membuka hadiah rapuh. Lauknya masih ada. Entah ayam atau daging—ia tak benar-benar peduli.
Yang ia tahu hanya satu: ini rezeki yang belum sepenuhnya dibuang.
Dadanya turun naik. Ia menghela napas panjang, seperti orang yang baru muncul dari permukaan air setelah lama tenggelam.
“Alhamdulillah…” gumamnya lirih.
Kata itu keluar dari bibir yang pecah-pecah—lebih jujur daripada seribu ucapan syukur yang diucapkan sambil menyisakan.
Tak jauh dari sana, jamaah baru saja selesai makan bersama. Meja-meja panjang berlapis taplak hijau masih dipenuhi piring berisi nasi yang tak habis, kurma yang tak tersentuh, dan gelas minuman yang hanya diteguk setengah. Kardus-kardus takjil menumpuk di sudut, menunggu giliran dibuang.
Jumlahnya berlebih.
Seperti biasa—selalu berlebih.
Sebagian jamaah pulang dengan langkah ringan. Ada yang mengelap mulut, ada yang bercanda kecil, ada pula yang sibuk memotret menu berbuka untuk diunggah—agar dunia tahu betapa meriahnya ibadah mereka malam ini.
Tak seorang pun menoleh ke sudut tempat sampah.
Lelaki tua itu duduk di lantai, bersandar pada dinding masjid yang dingin oleh marmer. Ia menyuapkan nasi perlahan. Tangan kirinya menahan bungkus agar tak jatuh. Jari-jarinya kurus dan bergetar.
Suapan pertama.
Ia berhenti mengunyah sejenak.
Matanya terpejam.
Air mata tipis menggenang—bukan semata karena sedih, tetapi karena perutnya akhirnya mengenal rasa kenyang, meski dari sisa.
“Ya Allah,” bisiknya hampir tak terdengar,
“aku tak minta banyak… aku hanya ingin hidup tanpa harus mencari rezeki di antara yang dibuang.”
Masjid itu megah. Dindingnya dingin dan licin. Kaligrafinya indah berkilau. Ayat-ayat tentang keadilan dan kasih sayang tertulis anggun di dinding.
Namun malam itu, ayat-ayat itu terasa seperti hiasan—indah dipandang, jauh dari jangkauan lelaki tua yang duduk menggigil di lantai.
Ia pernah muda.
Pernah bekerja di pelabuhan—mengangkat karung beras dengan bahu yang dulu tegak. Pernah pulang membawa uang meski tak banyak. Pernah tertawa bersama seorang istri yang kini telah lama dikubur. Anak-anaknya—ia tak tahu lagi ke mana.
Hidup, seperti ombak, menghempaskannya pelan-pelan ke tepi yang sepi.
Kini, di bulan yang katanya penuh rahmat, ia justru lebih sering menemukan rahmat itu di antara sisa-sisa.
Di dalam masjid, seorang ustaz masih berbicara tentang keutamaan puasa, tentang pahala salat malam, tentang sedekah yang melipatgandakan rezeki. Jamaah mengangguk khusyuk. Beberapa menitikkan air mata.
Namun tak ada satu kalimat pun yang menyentuh israf.
Tak ada yang menyinggung tabdzir.
Tak ada yang bertanya ke mana perginya makanan yang berlebih itu.
Lelaki tua itu selesai makan. Ia menyisakan sebagian kecil nasi, lalu membungkusnya kembali dengan rapi untuk sahur esok—jika masih layak. Tangannya meratakan lipatan plastik dengan telaten, seolah itu piring porselen mahal.
Ia berdiri perlahan. Lututnya bergetar.
Sebelum melangkah pergi, ia menatap masjid itu lama sekali.
Matanya basah.
“Masjid ini indah,” katanya dalam hati,
“tapi aku lebih sering kenyang dari sampahnya daripada dari sedekahnya.”
Kalimat itu—jika saja terdengar—mungkin cukup untuk meruntuhkan kesunyian di bawah kubah.
Ramadhan sering kita rayakan dengan meja panjang dan menu berlimpah. Kita menyebutnya syiar. Kita menyebutnya tradisi. Kita menyebutnya ibadah.
Namun ketika makanan berakhir di tong sampah sementara ada yang memungutnya dengan air mata, di situlah ibadah berubah menjadi ironi.
Israf bukan sekadar berlebih. Ia adalah lupa.
Tabdzir bukan sekadar membuang. Ia adalah kezaliman yang dibungkus kesalehan.
Kesalehan yang berhenti di sajadah tetapi tak pernah sampai ke perut yang lapar adalah kesalehan yang pincang. Ia berdiri—tetapi tak melangkah.
Malam itu Ramadhan menyaksikan segalanya. Bulan menggantung diam seperti saksi yang letih. Doa-doa melayang ke langit.
Sementara lelaki tua berjalan menjauh, membawa sisa-sisa—dan membawa pesan yang terlalu mahal untuk diabaikan:
Bahwa makanan yang kita buang bisa jadi adalah hidup seseorang.
Bahwa rezeki yang kita sia-siakan bisa jadi adalah doa yang paling tulus.
Bahwa sedekah paling strategis bukanlah yang paling ramai, melainkan yang paling tepat sasaran.
Dan bahwa menyisakan makanan ketika orang lain kelaparan adalah kezaliman yang sunyi—namun nyata.
Jika malam Ramadhan masih menyisakan tangisan, barangkali bukan karena dosa masa lalu, melainkan karena nasi yang tak kita habiskan hari ini.
Dan lelaki tua itu—entah di mana kini—telah menjadi cermin paling jujur bagi ibadah kita yang katanya taat. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












