
Ratusan peserta usia 55+ memadati Hotel Ratna Syariah Kota Probolinggo. Melalui dauroh intensif, mereka diajak menyiapkan bekal spiritual dan fikih demi akhir hayat yang lebih tenang.
Tagar.co – Suasana pagi yang cerah menyelimuti Hotel Ratna Syariah di Jalan Panglima Sudirman 16–18, Kota Probolinggo, Jawa Timur, saat kegiatan Daurah Ramadan Usia Emas: Istikamah Menjemput Akhir yang Indah digelar pada Sabtu–Ahad (21–22 Februari 2026).
Sejak pukul 07.30 WIB, antrean presensi peserta mulai terlihat. Pembukaan acara dijadwalkan pukul 09.00 WIB. Daurah ini diikuti peserta berusia 55 tahun ke atas, dengan peserta tertua atas nama Badriyah (81).
Baca juga: Kamila Play Date: Momen Warga SD Aisyiyah Jalin Ukhuah dengan Ceria
Para peserta tampak duduk rapi dan tenang, siap mengikuti rangkaian kegiatan dengan khidmat. Ini merupakan kegiatan perdana yang diselenggarakan Hotel Ratna Syariah. Sebanyak 30 panitia dari unsur karyawan hotel turut dilibatkan untuk menyukseskan acara.
Panitia menyiapkan 30 kamar hotel untuk menampung 102 peserta. Rangkaian kegiatan disusun padat dan sistematis guna memaksimalkan waktu yang dinilai sangat berharga bagi para peserta.
Tim kesehatan yang dipimpin dr. Masitha Mentari Ramadhani juga disiagakan untuk mengantisipasi gangguan kesehatan selama kegiatan berlangsung.
Materi Persiapan Usia Senja
Sejumlah narasumber lokal dengan reputasi di bidang dakwah dihadirkan untuk menguatkan bekal spiritual peserta memasuki usia senja.
Abu Qori’ Al Fitroni menyampaikan materi:
-
Makna husnul khatimah dalam realitas usia senja
-
Muhasabah diri
-
Taubat pembersihan hati
Munaamul Azizid, S.Ag., M.Pd. membawakan materi:
-
Amalan ringan penjaga husnul khatimah
-
Diskusi terbimbing memperbaiki diri di sisa usia
Drs. Matrapi Noer, M.Pd. mengulas:
-
Tazkiyatun nafs
-
Komitmen amal pribadi: amal kecil tetap terjaga sampai akhir hayat
Selain itu, Imam Mudzakir menyampaikan fikih menjelang kematian (wasiat, utang, dan amanah), sedangkan Suhadak mengulas dosa-dosa yang menghalangi husnul khatimah.

Usia Emas untuk Bersiap
Ketua Panitia Aisyah Kirana Firdausi menegaskan bahwa dauroh ini dirancang khusus sebagai ruang persiapan spiritual bagi kalangan usia emas.
“Usia emas ini adalah usia terbaik untuk menyiapkan diri menuju akhir hidup yang indah,” ujarnya dalam sambutan.
Pemilik Hotel Ratna Syariah, Noor Hidayah, SH., menceritakan bahwa gagasan kegiatan ini berawal dari usulan sahabatnya.
“Bu Indah, sahabat saya, mengungkapkan keinginannya membuat dauroh khusus usia senja. Ia sempat meminta izin meminjam salah satu rumah saya di kawasan Kelurahan Jati,” tuturnya.
Namun, Noor Hidayah justru mengusulkan agar kegiatan dilaksanakan di hotel miliknya agar daya tampung lebih besar.
Ia menjelaskan, dauroh ini dipatok biaya Rp75.000 per peserta dengan fasilitas berbuka, sahur, dan makanan ringan.
“Semoga bisa memenuhi kehausan akan ilmu untuk persiapan akhir hayat,” harapnya.

Mengingat Kematian sebagai Kecerdasan Mukmin
Usai seremoni pembukaan yang singkat, Abu Qori’ Al Fitroni langsung mengawali sesi dengan mengajak peserta memaknai husnul khatimah secara lebih sadar dan realistis. Di hadapan peserta usia emas, ia menegaskan bahwa langkah mereka hadir dalam dauroh merupakan bagian dari ikhtiar amal saleh.
“Apa yang Bapak Ibu lakukan hari ini adalah rangkaian amal saleh. Semoga menjadi wasilah diberikan akhir yang baik oleh Allah,” tuturnya, membuka suasana dengan nada reflektif.
Ia kemudian mengingatkan firman Allah dalam An-Nisa 78 bahwa kematian akan mendatangi manusia di mana pun berada, serta Al-Jumuah 8 tentang kepastian setiap jiwa akan kembali kepada Allah Swt. Pesan ayat tersebut, menurutnya, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan menumbuhkan kesiapsiagaan iman.
Dalam penjelasannya, ia menekankan bahwa husnul khatimah bukan sesuatu yang bisa diupayakan secara instan menjelang ajal.
“Mati husnul khatimah tidak bisa diseting begitu saja. Harus dilalui dengan amal saleh,” tegasnya.
Ustaz yang akrab disapa Rony itu menjelaskan bahwa akhir yang baik biasanya ditandai oleh tiga kondisi yang saling terkait: seseorang wafat dalam keadaan iman, memiliki hati yang tenang serta rida terhadap takdir Allah, dan menunjukkan istikamah dalam ketaatan sepanjang hidupnya. Ketiganya, kata dia, merupakan buah dari proses panjang pembiasaan amal.
Ia juga mengutip hadis Nabi Saw. tentang mukmin yang paling cerdas, yakni mereka yang paling banyak mengingat maut dan paling baik persiapannya sebelum kematian datang. Dari sini, ia mengajak peserta untuk menjadikan kesadaran akan kematian sebagai energi memperbaiki diri, bukan sumber ketakutan yang melemahkan.
“Tergantung pilihan kita, mau mati dalam keadaan taat atau mati dalam keadaan maksiat kepada Allah,” ujarnya.
Sebagai penutup sesi, ia membekali peserta dengan doa husnul khatimah untuk diamalkan dalam keseharian, sebagai penguat harapan sekaligus pengingat agar istiqamah tetap terjaga hingga akhir hayat. (#)
Jurnalis Izza El Mila Penyunting Mohammad Nurfatoni












