Telaah

Ihsan dalam Kekuasaan: Amanah Memimpin dengan Keadilan

73
×

Ihsan dalam Kekuasaan: Amanah Memimpin dengan Keadilan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Kekuasaan bukan sekadar otoritas, melainkan amanah untuk menghadirkan kebaikan. Ihsan menuntun pemimpin berpihak pada yang lemah, menegakkan keadilan, dan mengubah kuasa menjadi ladang pahala.

Oleh: Muhammad Damanhuri alias Ustaz Dayak, Ketua Yayasan Kejayaan Mualaf Indonesia dan Ketua Umum Lembaga Majelis Taklim Mualaf Kalimantan Barat.

Tagar.co – Alhamdulillah, ya Allah, pada kesempatan ini kita kembali berjumpa dan berkunjung dengan bulan Ramadan.

Ini menjadi tanda bahwa Allah Swt. masih memberikan kesempatan kepada kita semua untuk bertobat, sekaligus mengasah hati agar mampu melawan hawa nafsu yang kerap dibisikkan setan ke dalam diri kita.

Baca juga: Kasih Sayang tanpa Batas: Hikmah dari Seteguk Air

Karena itulah, bulan Ramadan merupakan momentum istimewa yang dipersembahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Pada hari pertama dan Subuh pertama Ramadan Kamis 19 Februari 2026 ini, alhamdulillah kita dianugerahi hujan dan masih diberi kesempatan untuk bersahur.

Maka pada kesempatan kali ini kita melanjutkan kajian Ramadan tahun 2025, yaitu kajian Kitab Syajaratul Ma’arif.

Kini kita memasuki Bab XI tentang Ihsan dengan Akhlak dan Perbuatan. Bab ini terdiri atas beberapa subbab.

Baca Juga:  Ihsan dalam Menjaga Amanah

Pada kajian ini, kita membahas Ihsan dalam Mencari Kekuasaan.

Allah Swt. berfirman: “Yusuf berkata, ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara.’” (Yusuf: 55)

Dan Dia berfirman: “Ia berkata, ‘Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun setelahku.’” (Sad: 35)

Ihsan dalam kekuasaan adalah kemampuan seorang pemimpin untuk menghadirkan kebaikan nyata bagi rakyatnya sekaligus menyingkirkan berbagai bentuk keburukan yang menimpa mereka.

Wujudnya tampak dalam kepedulian kepada orang-orang yang menderita, keberpihakan kepada mereka yang terzalimi, serta kesungguhan menegakkan hukum-hukum syarak secara adil dan bertanggung jawab.

Kekuasaan dalam perspektif ihsan bukanlah sarana menumpuk kepentingan pribadi, melainkan amanah untuk melindungi, melayani, dan menyejahterakan.

Karena itu, para pemimpin yang berlaku adil dijanjikan kedudukan mulia—berada di atas mimbar-mimbar cahaya di sisi kanan Allah Yang Maha Pengasih.

Semoga bermanfaat. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni